Farah.ID
Farah.ID

Khawatirkan Rusia, Swedia Gandeng NATO Latihan Perang

Jumat, 15 September 2017, 09:04 WIB
Khawatirkan Rusia, Swedia Gandeng NATO Latihan Perang
Foto/Net
Swedia menggelar latihan perang terbesar sejak dua dekade terakhir dengan menggandeng anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), dengan melibatkan 19.000 tentara.

Swedia akan melakukan simu­lasi serangan dari arah timur Pulau Baltik, Gotland, dekat daratan utama Swedia.

"Situasi keamanan terus berkembang ke arah yang buruk," kata Micael Byden, komandan pasukan bersenjata Swedia, saat mempresentasikan rencana lati­han perang yang akan berlang­sung selama tiga pekan tersebut.

Setelah pemotongan anggaran pertahanan, Swedia yang bukan anggota NATO, khawatir tidak dapat mengimbangi kekuatan mi­liter Rusia yang terus membesar. Apalagi Negara Beruang Putih itu menggelar latihan perang dengan melibatkan 13.000 tentara, Kamis (14/9) waktu setempat.

Swedia, dan negara-negara Baltik, ditambah Polandia, sangat terganggu atas aksi aneksasi Rusia terhadap wilayah Ukraina, seme­nanjung Krimea di dekat Laut Hi­tam, pada 2014 lalu. Mereka juga memprotes dukungan Moskow kepada gerilyawan separatis di wilayah timur Ukraina.

"Rusia adalah negara yang sangat mempengaruhi situasi keamanan di Eropa saat ini dengan sejumlah aksi mereka, seperti menduduki Krimea dan pertempuran di timur Ukraina, sehingga jelas kami memantau dengan seksama apa yang Rusia lakukan," kata Byden.

Sekitar 1.500 tentara dari Amerika Serikat, Prancis, Nor­wegia, dan sejumlah negara ang­gota NATO lain juga turut ber­partisipasi dalam latihan perang yang dinamai Aurora itu.

Angkatan Bersenjata Swedia yang dulu bisa memobilisasi tentara lebih dari 600.000 orang, kini hanya berjumlah 20.000 ditambah 22.000 tentara relawan cadangan. Negara kerajaan di Nordik itu juga memberlakukan kembali wajib militer.

NATO mengatakan, latihan perang Aurora bukan merupakan respons atas latihan militer Rusia, Kamis (14/9) waktu setempat. Byden menekankan pentingnya posisi NATO bagi Swedia.

"Kami adalah negara berdaulat yang bertanggung jawab atas keamanan kami sendiri. Kami melakukannya dengan pihak lain, yang siap mendukung dan siap menerima bantuan," kata dia.

Amerika Serikat mengirim sejumlah kendaraan perang melalui laut dari Jerman, semen­tara Prancis mengirim peralatan perang mereka dengan kereta.

Pemerintah Swedia secara umum mengatakan, pihaknya akan tetap netral di tengah per­saingan NATO dengan Rusia. Swedia tidak pernah terlibat dalam perang sejak bertempur dengan Norwegia pada 1814.

Perang 200 Tahun

Kekhawatiran Swedia atau NATO terhadap Rusia sungguh berdasar. Dilansir media Rusia Rbth, sepanjang sejarah Rusia adalah perang. Selama 200 tahun, Rusia berperang selama 128 tahun dan berada dalam masa damai selama 72 tahun. Dalam 128 tahun perang terse­but, 123 tahun dihabiskan untuk merebut wilayah lain.

Antara Swedia dan Rusia terjadi 10 peperangan, dari pertengahan abad ke-16 hingga awal abad ke-19.

Permusuhan antara Rusia dan Swedia dimulai pada abad ke-12, ketika Republik Novgorod (negara kuno yang kini menjadi bagian dari wilayah Rusia) dan Swedia memperebutkan kekuasaan di Baltik Timur. Setelah itu, kedua negara menandatangani Perjanjian Perdamaian Orekhovetsky tahun 1323, yang membagi tanah Karelia untuk Novgorod dan Finlandia untuk Swedia.

Namun, ini hanyalah sebuah permulaan dari konflik berabad-abad antara keduanya. Pada 1377, Swedia merebut kekuasaan atas Karelia Barat (Esterbotten), yang sebenarnya sudah dimiliki Novgorod. Setelah 1478, ketika Novgorod menjadi bagian dari Rusia, perebutan Baltik Timur dengan Swedia berlanjut.

Tradisi perang memperebutkan Baltik antara Rusia dan Swedia terus berlanjut di bawah kepemimpinan tsar-tsar Rusia berikutnya, termasuk Ivan IV, Fyodor I, dan Alexis I.

Di bawah kepemimpinan Pyotr yang Agung, Rusia berhasil mem­buat perubahan keseimbangan kekuasaan yang fundamental dalam hubungannya dengan Swedia.

Kekalahan Swedia dalam Perang Utara (1700-1721) membuat negara itu tak hanya harus menyerahkan sebagian wilayahnya ke Rusia, tapi juga daratan di selatan pantai Laut Baltik.

Swedia hanya memiliki Wismar dan sedikit tanah di Pomerania. Se­lain itu, setelah kekalahan di Perang Utara, "Abad Kebebasan" dimulai di Swedia, suatu era yang ditandai dengan melemahnya peran raja dan meningkatnya peran parlemen.

Dalam upaya merebut kembali ta­nahnya yang hilang akibat kekalah­an di Perang Utara, Swedia berulang kali berperang dengan Kekaisaran Rusia (Perang Rusia-Swedia 1741 – 1743, Perang Rusia-Swedia 1788 – 1790, dan Perang Rusia-Swedia 1808 – 1809). Menurut ketentuan dalam Perjanjian Fredrikshamn yang disepakati pada September 1809, Swedia harus menyerahkan Kepulauan Åland, Finlandia, dan Lapland hingga Torne dan Sungai Muonio. Swedia telah kehilangan lebih dari sepertiga wilayahnya, dan tak lagi menyandang status kekuatan besar. ***
EDITOR:

ARTIKEL LAINNYA