Doha Kini Menjadi Jantung Baru Dunia Arab

Jumat, 15 Maret 2019, 08:28 WIB | Oleh: Dr. Muhammad Najib

Foto: Net

KEMENANGAN Qatar 3-1 atas Jepang pada final sepak bola yang memperebutkan piala Asia, mengantarkan negeri kaya minyak di kawasan Teluk ini menjadi juara Asia untuk pertama kalinya.

Peristiwa dramatis ini bukan saja mengejutkan para penonton yang berada di stadion Mohammad bin Zayed, Abu Dhabi, Jumat (1/2/2019) lalu tempat laga final dilangsungkan, akan tetapi juga mengejutkan para penggemar sepak bola di seluruh dunia.

Maknanya bertambah besar, mengingat Qatar akan menjadi tuan rumah Piala Dunia pada tahun 2022 mendatang.

Bagi para pemerhati Timur Tengah, sebenarnya Qatar bukan saja telah meninggalkan Saudi Arabia dan Iran yang sebelumnya merajai persepakbolaan di kawasan. Akan tetapi, Qatar juga sudah meninggalkan dunia Arab  secara keseluruhan dalam banyak hal, sehingga Qatar kini menjadi negara penting di kawasan Asia secara keseluruhan.

Selain dalam dunia olahraga, sejak beberapa tahun terakhir Ajazeera sebagai media massa yang bermarkas di ibukota Qatar, Doha telah menjelma menjadi media berita terbaik di dunia mengungguli BBC yang bermarkas di London, Inggris dan CNN yang bermarkas di Atlanta Amerika.

Keunggulan Aljazeera dapat diukur dari jumlah pemilsanya, kecepatannya dalam memberitakan sebuah peristiwa, dan laporan pandangan mata secara langsung oleh wartawannya dari lokasi dimana sebuah peristiwa penting terjadi.

Dalam dunia penerbangan, kini Qatar Airways menjadi salah satu penerbangan terbaik di dunia yang kerap menerima berbagai bentuk penghargaan.

Qatar Airways yang disingkat QA bersaing ketat dengan Emirat dan Ethihad milik Uni Emirat Arab. Sementara bandaranya di Doha kini menjadi salah satu bandara terbesar, terindah, dan tersibuk di dunia.

Dalam bidang ekonomi, sebagai pengekspor minyak dan gas di dunia, Qatar menjadi salah satu pemain kunci. Pendapatan per kapita rakyatnya kini telah mencapai 100.000 dolar AS. Berarti 25 kali pendapatan rata-rata rakyat Indonesia. Karena itu, apabila kita berjalan-jalan di kota Doha, kita seakan berada di kota 1001 malam.

Gedung-gedungnya mencakar langit dengan berbagai bentuk yang unik dan menawan, apalagi bila dilihat dari pinggir pantainya yang bersih dengan pasir putihnya yang landai. Mobil-mobil mewah berseliweran di tengah ramainya lalu lintas yang tertib menghormati aturan.

Mal dan pasar di Doha ramai dan bersih, laki-laki dan perempuan Qatar termasuk para remajanya masih banyak yang mengenakan pakaian tradisional dengan kemewahan yang mengherankan.

Musiumnya besar, bagus, dan mulai diisi dengan benda-benda bernilai sejarah. Pentas musik dan seni lain kerap dipertunjukkan.

Semua ini menjadi bukti bahwa Qatar kini telah menjelma menjadi jantung baru dunia Arab. Jantung pertama dunia Arab berada di Madinah, sejak Nabi Muhammad menjadikannya pusat pemerintahan.

Saat Muawiyah bin Abu Sufyan menjadi khalifah, pusat pemerintahan berpindah ke Damaskus, Suriah. Lalu berpindah lagi ke Bagdad saat Abbasiah berkuasa. Dan dalam waktu bersamaan muncul Cordova di Andalusia yang kini bernama Spanyol.

Saat Turki Usmani memimpin dunia Islam, Kairo menjadi jantung dunia Arab. Kini saat memasuki era modern, jantung dunia Arab berpindah ke Doha.  

Di samping semua prestasi yang diceritakan di atas, sebenarnya yang paling penting yang dilakukan Qatar adalah perannya sebagai sponsor utama gerakan demokratisasi di dunia Arab.

Negara yang dipimpin oleh Tamim bin Hamad al-Tsani ini berkali-kali menjadi tuan rumah berbagai pertemuan internasional baik terkait dengan dunia Arab maupun dunia Islam.

Qatar juga berkali-kali berusaha mendamaikan negara-negara Arab yang bertikai, termasuk memediasi gerakan-gerakan perlawanan Palestina yang bertikai.

Qatar memiliki hubungan baik dengan semua negara termasuk Iran dan Turki. Kenyataan inilah yang membuat sejumlah negara Arab yang lebih besar dan lebih kuat secara militer merasa takut bercampur cemburu atas besarnya peran politik yang dimainkannya.

Karena itu, dapat difahami jika gerakan-gerakan prodemokrasi di kawasan Timur Tengah saat ini mendapat dukungan finansial dan politik dari Qatar, sehingga Doha menjadi tempat yang sangat nyaman bagi mereka yang terancam oleh penguasa otoriter di negaranya.

Hal inilah yang menyebabkan Yusuf Qardhawi, seorang ulama berpengaruh asal Mesir pendukung Ikhwanul Muslimin bermukim. Ia menentang penguasa otoriter di negaranya sejak era Presiden Husni Mubarak.

Begitu juga Khalid Mishal, tokoh paling senior HAMMAS yang pernah diracun Intelejen Israel Mossad. Dan masih banyak lagi tokoh perlawanan lain bila ingin disebutkan.

Bukan mustahil, hal-hal di atas inilah yang menjadi alasan paling penting, di samping alasan-alasan lain yang membuat Saudi Arabia yang didukung sejumlah negara Arab otoriter mengisolasi Qatar baik politik maupun ekonomi termasuk menutup rapat perbatasan darat dan udaranya.

Meskipun hanya sebuah negara mini dan dikeroyok oleh saudara-saudara tuanya, Qatar bukan saja mampu tegak bertahan, akan tetapi justru semakin berjaya.

Pengamat Politik Islam dan Demokrasi


Tag:

Kolom Komentar


loading