Isu White Supremacy Pasca Teror Christchurch Usik Warga Kulit Putih

Sabtu, 23 Maret 2019, 03:16 WIB | Laporan: Aprilia Rahapit

PM Selandia Baru ikut berduka atas teror dua masjid Christchurch/Net

Teror penembakan di dua masjid di Christchurch Selandia Baru pekan lalu mengancam warga kulit putih dunia. Pasalnya, teror itu didasari pada stigma white supremacy atau supremasi kulit putih.
 
Pengamat Timur Tengah, sekaligus Ketua Prodi Pascasarjana Kajian Timur Tengah dan Islam Sekolah Kajian Stratejik dan Global Universitas Indonesia (UI) Yon Machmudi mengatakan, orang kulit putih yang tidak mendukung white supremacy merasa terancam dari berbagai aspek kehidupan.
 
"Sementara mereka yang merasa seasli Eropa kulit putih itu menjadi terancam baik dari aspek pendidikan, kemudian juga dari sisi pekerjaan, karena dia merasa bahwa pekerjaan yang ada di home land mereka di tanah air mereka ternyata diduduki oleh orang orang diluar mereka," ungkapnya saat dihubungi Kantor Berita Politik RMOL, Jumat malam (22/3).
 
Yon menambahkan, supremasi kulit putih dilatarbelakangi sebuah gerakan global di bagian Eropa dan juga Amerika Serikat yang berkembang untuk mengembalikan kejayaannya.
 
"Kemudian ini menjadi sebuah gerakan yang extreme dan ultra nasionalis, jadi mereka ingin mengembangkan kejayaan kembali orang yang lahir asli sebagai orang Eropa dan berkulit putih, yang berbeda dengan yang lain," sambungnya.
 
Para pengikut supremasi kulit putih kemudian merasa terganggu dengan hadirnya para imigran. Di saat gelombang imigran didominasi oleh umat Islam, mereka akhirnya menjadi Islamophobia.
 
"Target mereka kemudian nampak lebih jelas, menargetkan komunitas Islam. Kemudian sebenarnya tujuannya adalah untuk mengembalikan supremasi kulit putih," tandas Yon.

Kolom Komentar