Dimensy.id Mobile
Dimensy.id
Apollo Solar Panel

Peluang Basyar Al Assad Menjadi Pemimpin Baru Dunia Arab

 OLEH: <a href='https://rmol.id/about/dr-muhammad-najib-5'>DR. MUHAMMAD NAJIB</a>
OLEH: DR. MUHAMMAD NAJIB
  • Senin, 25 Maret 2019, 14:52 WIB
Peluang Basyar Al Assad Menjadi Pemimpin Baru Dunia Arab
Basyar Al Assad/Net
SEJAK meninggalnya para pemimpin Arab yang sangat disegani baik oleh kawan maupun lawan, seperti: Jamal Abdul Naser dan Anwar Sadat asal Mesir, diikuti oleh Raja Faisal asal Saudi Arabia, kemudian Hafez Al Assad asal Suriah, Saddam Husen dari Irak, terakhir Muammar Khadafi dari Libia, dunia Arab saat ini seakan tanpa pemimpin yang kharismatik dan berwibawa.

Akibat kekosongan kepemimpinan ini, dunia Arab terombang-ambing dan sulit menentukan sikap dalam menghadapi masalah-masalah aktual yang bermunculan sangat cepat secara bersamaan. Diantara masalah-masalah aktual itu antara lain: Pertama, bagaimana menghadapi gelombang demokratisasi yang melanda dunia, termasuk negara-negara Arab. Kini mereka menyikapinya berbeda-beda dan sangat ditentukan oleh situasi dan kondisi negara masing-masing, kepentingan jangka pendek para penguasanya, serta persaingan antar kekuatan politik di tingkat lokal. Sementara Liga Arab tempat bernaungnya, sebagai institusi regional kehilangan fungsinya dan gagal memandu dalam memberikan arah perjuangan jangka panjang untuk kepentingan bersama.

Kedua, munculnya Presiden Amerika Donald Trump yang sangat pro Israel dengan langkah-langkah politiknya yang spontan dan mengabaikan berbagai aturan main serta perjanjian internasional, termasuk yang melibatkan para pemimpin Amerika sebelumnya. Menghadapi kenyataan ini, sikap sejumlah negara Arab bukan saja tidak jelas, akan tetapi hanya bisa mengamini begitu saja, walaupun jelas-jelas sangat merugikan masa depan negara Palestina dan sejumlah negara Arab lain.

Ketiga, tampilnya Iran sebagai kekuatan baru dalam persaingan politik dan militer di Timur Tengah. Sikap tegas Iran terhadap Israel, khususnya terkait pembelaannya terhadap perjuangan bangsa Palestina, melahirkan sikap yang berbeda-beda di dunia Arab. Sebagian mendukung Iran, sebagian lagi diam tanpa sikap, bahkan ada yang justru berdiri disamping Israel.

Keempat, munculnya Turki sebagai kekuatan baru dalam politik dan ekonomi. Turki yang menggunakan spirit Islam untuk mendapatkan dukungan baik di tingkat lokal maupun global, ternyata menimbulkan kekhawatiran atau kecemburuan sejumlah negara Arab. Ada yang mendukung, sebagian besar diam, akan tetapi ada pula yang menentangnya.

Di tengah kekosongan kepemimpinan dunia Arab ini, sebenarnya telah tampil Tamim bin Hamad al Thani yang kini menjadi Emir Qatar. Kekuatan ekonominya dan visinya yang jelas tentang masa depan, yakni melalui modernisasi dunia Arab dan dunia Islam, membuat Doha ibukota Qatar menjadi episentrum baru di Timur Tengah.

Sayangnya, Qatar sebagai sebuah negara mini terlalu kecil, baik dalam hal luas wilayah maupun jumlah penduduk, sehingga mengalami hambatan alamiah untuk memimpin dunia Arab.

Tokoh lain yang memiliki peluang untuk memimpin dunia Arab saat ini adalah Basyar Al Assad. Tokoh pendiam dan jarang tampil di publik ini, memulai karir politiknya dengan sangat tidak meyakinkan, sehingga ia praktis diabaikan oleh banyak tokoh dan pengamat Timur Tengah.

Masih menjadi tradisi di dunia Arab sampai saat ini, walaupun sebuah negara sudah berubah menjadi republik dan menyatakan sebagai negara demokratis, akan tetapi dalam masalah suksesi kepemimpinan, masih menganut politik dinasti.

Saddam Husein menyiapkan anaknya Uday untuk memimpin Irak selanjutnya, Khadafi menyiapkan anaknya Syaiful Islam untuk menjadi suksesornya di Libia, dan Hafez Al Assad menyiapkan anak tertuanya Bassel untuk Suriah. Sayang Bassel meninggal menadak akibat kecelakaan mobil. Hafez kemudian mengalihkan ke adik Bassel bernama Basyar yang berprofesi sebagai seorang dokter yang tidak memiliki pengalaman politik sama sekali.

Sebagaimana kita ketahui, baik Saddam maupun Khadafi gagal memenuhi ambisinya, akan tetapi Hafez berhasil mengantarkan Basyar untuk memimpin Suriah. Begitu naik tahta, Basyar harus menghadapi dua tantangan besar: Pertama, yang datangnya dari luar negri yaitu Israel. Kedua, tantangan dari dalam negri berupa tuntutan demokratisasi kepemimoinan di Suriah.

Basyar tampaknya memberikan prioritas untuk menyelesaikan masalah di dalam negri terlebih dahulu. Akibatnya, negaranya sering menjadi sasaran empuk angkatan udara Israel dengan berbagai dalih. Lebih dari itu, intelijen Israel Mossad ikut membantu lawan-lawan politik dan militer Basyar. Akan tetapi ia tidak terpancing dan tetap fokus pada agendanya sendiri.

Kini setelah berlangsung hampir 7 tahun yang nyaris menumbangkan rezim yang dipimpinnya, ia mampu menuntaskan agendanya di dalam negeri, termasuk menekuk lawan-lawan militernya yang didukung oleh Barat termasuk Amerika Serikat dan sejumlah negara Arab. Karena itu, walaupun minim publikasi, ia sudah tampil menjadi salah seorang pemimpin Arab yang tidak bisa diabaikan saat ini.

Kini panggilan sejarah menantinya, apakah ia memiliki keberanian melanjutkan untuk menuntaskan tantangan keduanya yang datangnya dari Israel? Tentu tidak mudah menebaknya. Akan tetapi, bila melihat kondisi di lapangan, sangat mungkin ia akan mengambil peluang ini. Mengapa?

Pertama, saat ini Tentara Suriah berada dalam kondisi moral yang sangat tinggi, setelah berhasil mengalahkan lawan-lawannya, termasuk yang didukung oleh tentara yang berasal dari sejumlah negara Eropa dan Amerika.

Kedua, Rusia dan Iran yang selama ini memberikan dukungan militer, politik, dan ekonomi, masih kokoh berdiri disamping Suriah. Lebih dari itu, kedua negara ini memiliki kepentingan untuk menjadikan Suriah sebagai negara kuat baru di Timur Tengah, baik secara militer maupun politik.

Ketiga, dengan dua kondisi di atas, maka Suriah memiliki peluang untuk mengambil kembali ataran tinggi Golan yang bukan saja masih diduduki Israel sejak perang 1967, akan tetapi dengan dukungan Amerika, Israel sudah mengumumkan keinginannya untuk menganeksasi, sehingga bila dibiarkan maka Golan akan menjadi bagian dari wilayah Israel untuk selamanya.

Keempat, sikap Israel dan Amerika akhir-akhir ini mungkin saja tidak disadari telah menampar harga diri bangsa Suriah dan bangsa Arab pada umumnya. Maka tidak ada cara lain, dan satu-satunya jalan untuk mengembalikan muruahnya, tentu dengan memberikan pelajaran kepada negara Zionis ini.

Kelima, bagi Basyar merebut kembali Golan merupakan pekerjaan rumah yang tidak bisa diselesaikan ayahandanya. Melalui perang Arab-Israel tahun 1973, Suriah yang dipimpin Hafez Al Assad saat itu, hanya berhasil mengambil kembali sepertiga dari wilayah Golan, sementara dua pertiganya masih diduduki Israel. Karena itu, ia tentu memiliki motivasi pribadi yang sangat tinggi.

Keenam, arogansi Israel yang didukung Amerika membuat dunia internasional tidak lagi berpihak kepada Israel. Negara-negara Eropa yang secara tradisional selama ini mendukung Israel dan Amerika dalam berbagai kebijakannya di Timur Tengah, kini dalam masalah Palestina dan nuklir Iran, telah meninggalkannya. Karena itu, kini Israel hanya didukung Amerika yang juga semakin ditinggal masyarakat internasional akibat ulah Presidennya sendiri.

Akan tetapi, politik bukan matematik, ia punya logikanya sendiri. Karena itu, mari kita cermati perkembangan yang boleh jadi akan memunculkan kejutan baru. rmol news logo article

Penulis adalah pengamat politik Islam dan demokrasi.

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA