Teror Di Minggu Paskah Buka Kembali Luka Sejarah Sri Lanka

Minggu, 21 April 2019, 23:43 WIB | Laporan: Amelia Fitriani

Pray For Sri Lanka/Amelia Fitriani

Serangkaian pemboman mematikan di Sri Lanka menjadi salah satu tragedi kekerasan terburuk yang pernah dialami negara itu dalam lebih dari satu dekade belakangan.

Terakhir kali serangan besar-besaran semacam itu terjadi adalah selama perang saudara yang berkepanjangan dengan milisi separatis.

Pada perayaan Minggu Paskah hari ini (Minggu, 21/4), serangkaian pemboman yang tampaknya terkoordinasi terjadi di beberapa gereja Kristen dan hotel-hotel mewah di negara Asia Selatan tersebut. Hingga saat ini, belum ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas pemboman itu.

Dengan jumlah korban tewas mencapai lebih dari 200 orang dan angka tersebut diperkirakan terus meningkat, Sri Lanka mengalami salah satu tindakan terburuk kekerasan terorganisir dalam sejarahnya.

Tragedi hari ini membawa kembali luka mendalam soal pertumpahan darah yang pernah menggores luka dalam sejarah Sri Lanka.

Russia Today memuat, negara berpenduduk lebih dari 20 juta jiwa ini memiliki kehidupan yang relatif damai sejak tahun 2009 lalu.

Tetapi sebelum itu, Sri Lanka merupakan negara yang dilanda perang saudara selama 25 tahun. Di mana bagian dari etnis minoritas Tamil berusaha melepaskan diri dan membentuk negara bangsa di utara dan timur negara itu.

Dipelopori oleh organisasi yang disebut Macan Pembebasan Tamil Eelam (LTTE), pertempuran itu memicu terjadinya sejumlah serangan besar yang menewaskan ratusan tentara dan warga sipil Sri Lanka.

Macan Tamil akhirnya dikalahkan dalam upaya kontra pemberontakan yang berakhir pada Mei 2009. Pemboman terakhir mereka terjadi dua bulan sebelumnya, ketika seorang pembom bunuh diri meledakkan diri di dekat prosesi keagamaan di Matara, sebuah kota besar di Sri Lanka selatan. Kejadian itu menewaskan 14 orang dan melukai 35 lainnya.

Namun, pemboman Habarana pada Oktober 2006 adalah yang paling mematikan dari semua serangan yang dikaitkan dengan LTTE pada 2000-an, dengan jumlah korban tewas melebihi 100 orang.

Kelompok ekstremis itu menargetkan konvoi bus yang membawa pelaut yang sedang cuti. Sebuah truk penuh dengan bahan peledak meledak di dekatnya, menewaskan antara 101 dan 112 orang, dan melukai lebih dari 150.

Serangan bom paling mematikan yang menargetkan warga sipil dan bukan pejuang adalah ledakan 1987 di terminal bus di Kolombo. Bom 40 kilogram yang ditanam di dalam mobil meledak pada jam sibuk, menewaskan 113 orang dan melukai hampir 300 lainnya.

Selain menggunakan alat peledak dalam aksi teror, Macan Tamil juga melakukan sejumlah pembantaian di daerah yang berbatasan dengan zona kontrol mereka. Salah satu yang terjadi di desa Palliyagodella pada Oktober 1992 diyakini sebagai yang paling mematikan, yang mengakibatkan antara 160 dan 285 korban jiwa.

Pelaku kekerasan lain terhadap warga sipil dalam sejarah Sri Lanka adalah Janatha Vimukthi Peramuna (JVP), yang sekarang merupakan partai politik yang dikenal dan damai tetapi sebelumnya merupakan gerakan ekstrimis Marxis-Leninis.

JVP berada di belakang dua pemberontakan bersenjata melawan pemerintah, pada tahun 1971 dan pada akhir 1980-an. Perjuangan bersenjata mereka termasuk melemparkan granat di prosesi keagamaan pada beberapa kesempatan.

Pemerintah Sri Lanka sendiri memiliki beberapa halaman gelap dan secara kredibel dituduh terlibat dalam aksi terorisme terhadap minoritas Tamil yang memberontak.
Tag:

Kolom Komentar


loading