Trump Tinjau Rencana Militer Melawan Iran Di Timur Tengah

Selasa, 14 Mei 2019, 23:39 WIB | Laporan: Amelia Fitriani

USS Abraham Lincoln/Net

Presiden Amerika Serikat Donald Trump dikabarkan berencana meninjau rencana miiter melawan Iran.

Hal itu disampaikannya pada pertemuan pembantu keamanan nasional utama Presiden Trump Kamis pekan lau.

Menurut sejumlah pejabat yang dikutip oleh The New York Times awal pekan ini, dalam kesempatan itu, Pejabat Sekretaris Pertahanan Patrick Shanahan menyampaikan rencana militer terbaru yang membayangkan mengirim 120 ribu tentara ke Timur Tengah seandainya Iran menyerang pasukan Amerika atau mempercepat kerja pada senjata nuklir.

Penasihat keamanan nasional Amerika Serikat John R. Bolton kemudian dikabarkan menyerukan revisi dan menilai bahwa invasi tanah ke Iran hanya akan membutuhkan lebih banyak pasukan.

Sebelumnya, pekan lalu Presiden Iran Hassan Rouhani menyerukan persatuan di antara faksi-faksi politik Iran untuk mengatasi kondisi yang menurutnya mungkin lebih sulit daripada yang terjadi selama perang 1980an dengan Irak.

Hal itu disampaikan Rouhani ketika Iran kini tengah menghadapi pengetatan sanksi Amerika Serikat, Rouhani mengatakan bahwa negaranya berada di bawah tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Tekanan yang dihadapi sebanding dengan ketika pasukan Saddam Hussein menyerbu Iran pada 1980, yang memicu delapan tahun pertempuran sengit dan masalah ekonomi.

"Hari ini, tidak dapat dikatakan apakah kondisinya lebih baik atau lebih buruk daripada periode perang (1980-88), tetapi selama perang kami tidak memiliki masalah dengan bank kami, penjualan minyak atau impor dan ekspor, dan hanya ada sanksi pada pembelian senjata," kata Rouhani seperti dimuat Al Jazeera (Sabtu, 11/5).

"Tekanan oleh musuh adalah perang yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah revolusi Islam kami. Tapi saya tidak putus asa dan memiliki harapan besar untuk masa depan dan percaya bahwa kita dapat melewati kondisi sulit ini asalkan kita bersatu," sambungnya.

Komentar Rouhani juga datang ketika militer Amerika Serikat mengirim pasukan dan perangkat keras militer, termasuk kapal induk USS Abraham Lincoln, pembom B-52 dan baterai pertahanan rudal Patriot, ke Timur Tengah.

Pengiriman itu dilakukan untuk melawan apa yang para pejabat Amerika Serikat klaim sebagai indikasi yang jelas atas ancaman dari Iran terhadap pasukannya di sana.

Kolom Komentar


loading