Turki Al-Faisal: Pembunuhan Jenderal Soleimani Peringatan Buat Iran

Jumat, 17 Januari 2020, 07:12 WIB
Laporan: Reni Erina

Pangeran Arab, Turki Al-Faisal/Net

Pangeran Arab Saudi, Turki Al-Faisal, mengatakan pembunuhan komandan Pasukan Quds Jenderal Qassem Soleimani, oleh serangan udara Amerika Serikat (AS), menjadi peringatan untuk Iran.

Mantan kepala intelijen Arab Saudi itu menyebut, rentetan perilaku provokatif Iran tidak akan dibiarkan begitu saja. Kematian jenderal top Iran itu tetap tidak akan menghentikan Teheran melanjutkan agendanya.

"Melenyapkan (Qassem) Soleimani jelas merupakan langkah penting untuk memeriksa setidaknya beberapa ambisi Iran setelah tindakannya yang sangat provokatif dalam satu tahun terakhir," kata Turki Al-Faisal kepada Hadley Gamble, Jumat (17/1).

"Serangan terhadap (kapal) tanker minyak, yang memuncak dalam serangan terhadap fasilitas Aramco, dan tidak ada reaksi," katanya. "Ini adalah semacam peringatan untuk pemerintah Iran dan kepemimpinan Iran, bahwa mereka tidak bisa lolos begitu saja."

Al-Faisal juga menegaskan kematian Soleimani tidak akan menghentikan agenda Iran di Timur Tengah.

"Itu karena kepemimpinan Iran memiliki agenda dan proyek. Proyek itu adalah untuk menjadi perwakilan yang dominan dari semua Islam di dunia," tegas Al-Faisal. Iran adalah ancaman dan memiliki tujuan menghancurkan negara Arab Saudi, menurut Al-Faisal.

Teheran membantah terlibat dalam kedua insiden yang disebutkan pangeran senior Riyadh tersebut.

Teheran, kata Al-Faisal, telah menggunakan pengganti seperti Hizbullah di Lebanon dan Houthi di Yaman untuk memajukan rencananya.

"Itu akan terus berlanjut," dia memperkirakan. "Mungkin kurang efisien daripada ketika Soleimani masih hidup, tetapi mau tidak mau, sama-sama teroristik dan, dalam pandangan saya, jahat dalam tujuannya."

Al-Faisal juga mempertimbangkan dampak dari penarikan pasukan AS dari negara-negara di kawasan Timur Tengah.

"AS seharusnya menarik diri dari Afghanistan pada tahap awal ketika itu lebih bisa dilakukan daripada sekarang," katanya, mengutip "peluang yang hilang" setelah pembunuhan pendiri al-Qaeda; Osama bin Laden, pada 2011.

Ia menyebut keputusan itu adalah "perkembangan yang sangat negatif" karena bakal menguatkan Iran, Rusia, dan pemerintahan Presiden Suriah Bashar al-Assad.
 
Ketika ditanya apakah lebih baik bagi Irak jika pasukan Amerika pergi, dia menjawab; "Tidak hari ini."

Dia ingat ketika berbicara kepada para pejabat Amerika dan Inggris pada saat invasi AS ke Irak. "Saya ingat dulu saya mengatakan kepada mereka bahwa saya berharap Anda tidak akan meninggalkan Irak dengan cepat ketika Anda memasukinya," ujarnya.

"Kami telah melihat Amerika menarik pasukan dan kemudian al-Qaeda memulai operasi, dan kemudian mereka harus mendorong pasukan di bawah Jenderal (David) Petraeus," kata Al-Faisal.
EDITOR: RENI ERINA

Kolom Komentar


Video

PA 212 Ancam Gelar Revolusi Jika Pemerintah Jadi Dalang Korupsi

Sabtu, 22 Februari 2020
Video

Gedung DPR Kebakaran

Senin, 24 Februari 2020