Para Penjual Buku Di Baghdad Tetap Bertahan Tanpa Takut Virus Corona

Pecinta Buku di Baghdad/Net

Para penjual buku di Baghdad, Irak, adalah orang-orang yang telah melalui masa-masa paling sulit sekalipun. Sejak kekerasan jaman Saddam Hussein, sampai bertahun-tahun setelah kejatuhannya, mereka telah merasakan hal yang paling pahit dan berusaha bangkit. Sehingga, bagi para penjual buku itu, wabah virus corona bukan sesuatu yang harus dikhawatirkan.

Walau pihak berwenang Irak mendesak warga menghindari pertemuan publik dan memerintahkan kafe tutup, para penjual buku tetap menggelar dagangannya.

Para penjual buku di Jalan Mutanabbi di tepi Sungai Tigris, masih membuka lapak-lapaknya, bertemu dengan pelanggan mereka, bahkan hingga mengobrol membicafrakan politik dan bebagai hal seperti biasanya.

Jalan Mutanabbi adalah tempat di mana biasa acara-acara budaya dilaksanakan. Pertemuan para penulis, musisi, dan pelukis, masih berkumpul di sana. Mereka berkumpul dekat patung Mutanabbi, penyair abad ke-10, yang menjadi nama jalan tersebut.

Pengunjung memang terus menurun akibat virus corona. Ditambah lagi adanya aksi di jalanan yang memprotes pemerintah yang kejam. Namun, warga di sana tetap melakukan aktivitasnya. Bagi para pecinta buku kelas berat, mereka tetap mendatangi para pedagang buku di sana dengan  mengenakan masker.

"Saya datang ke sini setiap hari Jumat sejak tahun 80-an ketika saya masih mahasiswa," kata Jawad al Bidhani, seorang profesor universitas, yang membeli empat buku akademik, seperti dilaporkan Reuters, Selasa (10/3).

"Penyakit ini (virus korona) berbahaya dan fatal. Tapi ini tidak akan mencegah kita datang ke Jalan Mutanabbi. Jadi kami mengambil kesempatan untuk duduk di sini bersama teman-teman kami selama satu atau dua jam," katanya.

Ini adalah 'sarang' buku-buku bagus yang berasal dari gedung-gedung terdekat, dibawa dengan troli dan dipajang di atas meja di jalan. Jalan Mutanabbi merupakan barometer kehidupan intelektual.

Seperti pepatah dalam tradisi sastra, "Kairo menulis. Beirut mencetak. Baghdad membaca. "

Saat pemerintahan Saddam, warga tidak mempunyai kebebasan membaca apa saja, terutama bacaan-bacaan kritis. Setelah dia jatuh, literatur politik dan agama menjadi populer.

"Hanya ada sedikit permintaan untuk buku-buku politik, juga bukan buku-buku agama," kata Hamza Abu Sara, seorang penjual buku. Saat ini kebanyakan orang-orang memilih buku inspirasi dan motivasi, dan juga fiksi.
EDITOR: RENI ERINA

Kolom Komentar


Video

Viral Perilaku Pegawai Starbucks Intip Payudara pelanggan dari CCTV

Kamis, 02 Juli 2020
Video

Karpet Merah Perusahaan Relokasi Dari China

Kamis, 02 Juli 2020
Video

Berstatus Tersangka, Jack Boyd Lapian Jalani Pemeriksaan Perdana Di Bareskrim

Jumat, 03 Juli 2020

Artikel Lainnya

Pernah Hadiri Acara Tanpa Masker Pacar Trump Junior Sekaligus Penasehat Kampanye Donald Trump Positif Covid-19
Dunia

Pernah Hadiri Acara Tanpa Ma..

04 Juli 2020 17:34
Antisipasi Infeksi Baru Di Sekitar Pemakaman, Bolivia Membuat Kuburan Massal Untuk Korban Covid-19
Dunia

Antisipasi Infeksi Baru Di S..

04 Juli 2020 17:18
Krisis Lebanon: 75 Persen Rakyat Kelaparan, Dua Warga Memilih Bunuh Diri
Dunia

Krisis Lebanon: 75 Persen Ra..

04 Juli 2020 16:25
Ekstremis ISIS Asal Prancis Hanya Dijatuhi Hukuman 30 Tahun Penjara, Hakim Beralasan Ingin Memberi Secercah Harapan Untuk Berevolusi
Dunia

Ekstremis ISIS Asal Prancis ..

04 Juli 2020 15:52
Aktivis Hong Kong Joshua Wong Bantah Minta Intervensi Jerman
Dunia

Aktivis Hong Kong Joshua Won..

04 Juli 2020 14:55
Marah Banyak Yang Ikut Campur Urusan Hagia Sopia, Erdogan: Kami Melindungi Hak-hak Muslim Negara Ini!
Dunia

Marah Banyak Yang Ikut Campu..

04 Juli 2020 13:53
Peduli Hak Hewan, Tunangan PM Inggris Serukan Boikot Produk Kelapa Yang Eksploitasi Tenaga Monyet
Dunia

Peduli Hak Hewan, Tunangan P..

04 Juli 2020 13:37
iPhone Stop Produksinya Di India, Gara-gara Bentrokan Perbatasan Dan Aksi Boikot
Dunia

iPhone Stop Produksinya Di I..

04 Juli 2020 13:01