COVID-19

Jack Ma, Wajah Ramah China Di Tengah Pandemi Virus Corona

Pendiri Alibaba Jack Ma/Net

Nama Jack Ma tampak wara-wiri di beritakan banyak media internasional sejak beberapa bulan terakhir, tepatnya ketika virus corona atau Covid-19 menjadi pandemi global.

Secara khusus bahkan orang terkaya di negeri tirai bambu itu membuka akun Twitter resmi pada pertengahan bulan lalu. Sebagian besar dari isi cuitannya adalah mengenai pandemi virus corona.

"Satu dunia, satu pertarungan," tulis Jack Ma dalam salah satu cuitan perdananya.

"Bersama, kita bisa melakukan ini," cuitnya lagi.

Pendiri raksasa e-commerce Alibaba Group itu juga kerap muncul ke publik dengan wajah ramah yang khas untuk memberikan bantuan berupa pasokan medis bagi sejumlah negara di dunia sebagai upaya memerangi pandemi virus corona.

Tidak tanggung-tanggung, Ma bahkan telah mengirimkan bantuan pasokan medis ke lebih dari 150 negara di dunia sejauh ini. Di antara pasokan yang dikirimkannya adalah masker wajah dan ventilator yang beguna untuk penanganan pasien virus corona.

BBC
pada akhir pekan ini memuat, munculnya Ma sebagai filantropis di tengah pandemi saat ini menuai tanda tanya tersendiri. Apakah upaya filantropi global yang dilakukan Ma ini secara tidak langsung menunjukkan wajah ramah Partai Komunis China? Atau apakah ini adalah murni upaya independen Ma dalam membantu banyak negara di dunia melawan pandemi?

Terlepas dari apapun itu, Ma tampak mengikuti aturan diplomatik China, terutama ketika memilih negara mana yang akan mendapat manfaat dari sumbangannya.

Tercatat sejak bulan Maret lalu, Yayasan Jack Ma dan Yayasan Alibaba terkait mulai mengirim bantuan medis ke Afrika, Asia, Eropa, Amerika Latin dan bahkan ke daerah-daerah yang sensitif secara politis termasuk Iran, Israel, Rusia dan Amerika Serikat.

Sejauh ini, tidak ada bukti bahwa sumbangan dari Yayasan Jack Ma dan Alibaba diberikan kepada negara-negara yang memiliki ikatan formal dengan Taiwan serta sekutunya.

Ma beberapa waktu lalu mengumumkan di Twitter bahwa dia menyumbangkan pasokan medis ke 22 negara di Amerika Latin. Namun, negara-negara yang memihak Taiwan dan juga menyerukan kebutuhan akan pasokan medis, seperti Honduras ke Haiti, nampaknya tidak masuk dalam daftar 150 negara yang dibantu oleh Ma.

Yayasan-yayasan tersebut menolak untuk memberikan daftar terperinci dari negara-negara yang telah menerima sumbangan.

Di sisi lain, Ma juga menyumbangkan bantuan dana untuk penelitian vaksin virus corona.

"Dia (Jack Ma) memiliki kemampuan dan uang serta daya angkat untuk membuat pesawat pasokan China keluar dari Hangzhou untuk mendarat di Addis Ababa, atau ke mana pun dia harus pergi," jelas penulis biografi Ma, Duncan Clark, menjelaskan soal kemampuan Ma.

Sumbangan-sumbangan yang diberikan Ma memberikan sorotan positif tersendiri bagi Ma, bukan hanya di China, namun di seluruh dunia.

"Adalah adil untuk mengatakan bahwa sumbangan Ma secara universal dirayakan di seluruh Afrika," kata redaktur pelaksana situs web dan podcast Proyek Afrika-China, Eric Olander.

Di sisi lain, pemerintah China juga memberikan sumbangan ke sejumlah negara, termasuk dengan mengirimkan tim medis dan pasukan medis ke sejumlah besar negara yang paling terpukul, terutama di Eropa dan Asia Tenggara.

Tindakan filantropi yang dilakukan Ma, di satu sisi meningkatkan reputasi positifnya di panggung global. Namun di sisi lain memicu pertanyaan tersendiri, soal apakah hal itu akan menjadi bumerang bagi Ma? Terutama soal kepopulerannya di ranah global yang disebut-sebut menyaingi Presiden China, Xi Jinping.

Sejumlah pengamat kembali merujuk pada momen di mana Jack Ma mengundurkan diri dari jabatan CEO Alibaba pada tahun 2018 lalu.

"Ada desas-desus bahwa (Jack Ma) mengundurkan diri pada tahun 2018 dari menjadi ketua Grup Alibaba karena dia dipandang sebagai pengusaha rumahan yang popularitasnya akan mengungguli Partai Komunis," jelas rekan riset di Center for Keamanan Amerika Baru di Washington DC Ashley Feng.

Pengunduran diri tiba-tiba Ma pada saat itu mengejutkan banyak pihak. Terlebih, muncul desas-desus bahwa pemerintah China memaksanya keluar dari posisiya. Namun Ma menegaskan bahwa pengunduran dirinya adalah agar dia bisa fokus pada kegiatan filantropi.

Meski begitu, Ma tetap mempertahankan kursi permanen di dewan Alibaba. Ditambah dengan kekayaan dan ketenarannya, Ma tetap menjadi salah satu orang paling kuat di China.

Penulis biografi Ma, Duncan Clark, juga mengakui bahwa dia mengetahui laporan bahwa Ma disingkirkan dari Alibaba menyusul insiden penting pada Januari 2017. Pada saat itu, Ma bertemu dengan Presiden Amerika Serikat terpilih Donald Trump di Trump Tower. Tidak jelas pembahasan apa saja yang dilakukan keduanya, namun desas-desus menyebut bahwa dia membahas masalah perdagangan Sino-AS.

Presiden China Xi Jinping sendiri beru bertemu dengan Trump beberapa bulan kemudian.

"Ada banyak spekulasi waktu bahwa Jack Ma bergerak terlalu cepat," kata Clark.

"Jadi, kupikir ada pelajaran dari kedua belah pihak tentang perlunya mencoba berkoordinasi," jelasnya.

"Jack Ma mewakili semacam kekuatan lunak wirausaha," tambah Clark.

"Itu juga menciptakan tantangan, karena pemerintah cukup cemburu atau gugup terhadap aktor non-Partai yang mengambil peran semacam itu," sambungnya seperti dimuat BBC.

Secara teknis, Ma sendiri bukanlah orang di luar Partai Komunis. Dia telah menjadi anggota Partai Komunis sejak 1980-an, ketika masih menjadi mahasiswa.

Namun, Ma mengakui bahwa dia memiliki hubungan yang rumit dengan Partai Komunis. Dia bahkan mengatakan bahwa sikap Alibaba terhadap Partai Komunis adalah "jatuh cinta padanya tetapi tidak menikahinya".

Terlepas dari ada-tidaknya campur tangan pemerintah China di balik aksi filantropi Jack Ma, pemerintah China mendapat manfaat tersendiri dari kemurahan hati Ma. Sebagai contoh, Duta Besar China di sejumlah negara, mulai dari Sierra Leone hingga Kamboja, kerap tampak hadir di upacara bandara untuk menerima pasokan medis yang dikirim oleh Ma, dari Sierra Leone ke Kamboja.

China juga menggunakan sumbangan Ma dalam kritiknya terhadap Amerika Serikat.

"Departemen Luar Negeri (Amerika Serikat) mengatakan Taiwan adalah teman sejati karena menyumbangkan dua juta masker," tulis Kementerian Luar Negeri China di akun Twitternya pada awal April lalu.

"Bertanya-tanya apakah Departemen Luar Negeri (Amerika Seirkat) mengomentari sumbangan Jack (Ma) satu juta topeng dan 500 ribu alat tes serta bantuan perusahaan dan provinsi China?" tambah keterangan yang sama.

Kolom Komentar


Video

#KamiMasihAda Pemkot Fasilitasi Launching Album 30 Musisi Semarang

Kamis, 24 September 2020
Video

Tanya Jawab Cak Ulung - Ancaman dan Peluang Pilkada

Kamis, 24 September 2020

Artikel Lainnya

Tersinggung, Hongaria Desak Petinggi Uni Eropa Mengundurkan Diri
Dunia

Tersinggung, Hongaria Desak ..

29 September 2020 18:00
CDC: Maret Hingga September Ada 280 Ribu Anak Usia Sekolah Di AS Yang Terinfeksi Virus Corona
Dunia

CDC: Maret Hingga September ..

29 September 2020 17:31
Pilpres AS 2020, Para Dukun Peru Beraksi Untuk Menangkan Pilihan Mereka
Dunia

Pilpres AS 2020, Para Dukun ..

29 September 2020 16:07
Kunjungi Zona Demiliterisasi, Menlu Dominic Raab: Inggris Selalu Dukung Perdamaian Korea
Dunia

Kunjungi Zona Demiliterisasi..

29 September 2020 15:35
Nicolas Maduro: Pandemik Covid-19 Perburuk Kesenjangan Sosial Di Dunia
Dunia

Nicolas Maduro: Pandemik Cov..

29 September 2020 15:23
Jelang Debat Presiden Malam Ini, Gedung Putih Yakin Trump Sudah Sangat Siap Dengan Semua Topik
Dunia

Jelang Debat Presiden Malam ..

29 September 2020 15:21
Memaksimalkan Tenaga Lokal, Kuwait Pecat Semua Karyawan Ekspatriat
Dunia

Memaksimalkan Tenaga Lokal, ..

29 September 2020 15:00
Melesat Menuju 5G, Singapura Kumpulkan Ribuan Tenaga Kerja Profesional
Dunia

Melesat Menuju 5G, Singapura..

29 September 2020 14:55