Hebatnya Maroko, Melakukan Mitigasi Jauh Sebelum Arab Spring

Raja Maroko, Mohammed VI/Net

Gelombang perubahan di negara-negara Arab yang dikenal dengan nama Arab Spring masih menyisakan sejumlah persoalan hingga saat ini.

Dari sekian banyak negara yang sempat dihumbalang Arab Spring, Kerajaan Maroko di Afrika Utara termasuk yang dapat melaluinya dengan baik.

Maroko tidak mengalami gejolak politik yang mengakibatkan kejatuhan rezim seperti yang terjadi di Tunisia, Libya dan Mesir, serta negara-negara Arab di Timur Tengah.

Menurut Presiden Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Maroko, Teguh Santosa, salah satu kunci keberhasilan Kerajaan Maroko karena lebih awal melakukan reformasi saat Raja Muhammad VI menggantikan ayahnya Raja Hassan II di tahun 1999, atau 12 tahun sebelum Arab Spring.

Ketika naik tahta menggantikan ayahnya, Raja Muhammad VI baru berusia 36 tahun. Sebagai tokoh muda dengan pendidikan Eropa ia memiliki berbagai ambisi untuk membangun dan memajukan Maroko.

Raja Muhammad VI pun sedikit banyak mengubah wajah kekuasaan di Maroko menjadi lebih humanis dan demokratis.

Reformasi Muhammad VI itu menjadi semacam mitigasi yang bermanfaat satu dekade kemudian “musim semi” politik melanda negara-negara Arab.

Pernyataan Teguh itu disampaikan dalam diskusi daring bertajuk "Ujung Musim Semi Arab dan Liberalisasi Saudi” yang diselenggarakan Pusat Kajian Tajdid Institute, Jumat sore (1/5).

Ketika musim semi Arab melanda, sambung Teguh, Raja Muhammad VI meresponnya dengan reformasi politik yang lebih progresif melalui amandemen Kontitusi.

Draft amandemen Konstitusi disusun oleh sebuah badan Konstituante dan diperdebatkan di tengah masyarakat selama berbulan-bulan sebelum referandum di bulan Juli 2011.

Poin-poin penting di dalam Konstitusi baru itu adalah memberikan hak politik yang lebih besar kepada partai politik dan Parlemen untuk menyusun pemerintahan, memberikan perlindungan yang lebih besar pada keluarga dan wanita, juga mengadopsi bahasa Barber menjadi salah satu bahasa nasional. Pembangunan kawasan juga menjadi salah satu tema penting di dalam Konstitusi baru.

Dengan itu, Maroko relatif berhasil mengurangi kesenjangan antar daerah.   

Reformasi yang dilakukan Maroko ini juga bermanfaat dalam menghadapi isu separatisme di Sahara Maroko.

Pada tahun 2011 dan 2012 Teguh diundang berbicara sebagai petisioner isu separatisme di Maroko di Komisi Empat PBB yang membidangi dekolonisasi.

Menurut Teguh, reformasi yang dilakukan Maroko sejak 1999 dan 2011 membuat upaya untuk meyakinkan bahwa Sahara Maroko adalah bagian dari Kerajaan Maroko menjadi lebih mudah.

Kolom Komentar


Video

Gunung Gede Pangrango kembali terlihat lagi dari Kota Jakarta

Rabu, 24 Februari 2021
Video

Tanya Jawab Cak Ulung • Melacak Tokoh Potensial 2024

Kamis, 25 Februari 2021
Video

RMOL World View • Diplomasi Halal Saat Pandemi

Senin, 08 Maret 2021

Artikel Lainnya

Enggan Mundur Usai Terjerat Kasus Pelecehan Seksual, Gubernur Andrew Cuomo Terancam Dimakzulkan
Dunia

Enggan Mundur Usai Terjerat ..

09 Maret 2021 11:48
AS Buka Lagi Pengajuan Aplikasi Visa Dari 13 Negara Muslim Dan Afrika
Dunia

AS Buka Lagi Pengajuan Aplik..

09 Maret 2021 10:52
Tolak Gagasan Paspor Vaksin, WHO: Akan Menimbulkan Ketidakadilan Dalam Sistem
Dunia

Tolak Gagasan Paspor Vaksin,..

09 Maret 2021 10:34
Wawancara Harry Dan Meghan Penuh Kontroversi, Istana Buckingham Diam Seribu Bahasa
Dunia

Wawancara Harry Dan Meghan P..

09 Maret 2021 10:21
Ledakan Di Jembatan Al Aimmah Irak, Seorang Perempuan Tewas
Dunia

Ledakan Di Jembatan Al Aimma..

09 Maret 2021 09:46
Buat Cuitan Misoginis Saat Hari Perempuan Internasional, Burger King Diserang Warga Net
Dunia

Buat Cuitan Misoginis Saat H..

09 Maret 2021 09:32
Belajar Dari RRD Korea, Kesehatan Masyarakat Yang Gratis Tanpa Diskriminasi
Dunia

Belajar Dari RRD Korea, Kese..

09 Maret 2021 08:56
Aparat Blokir Jalan, Ratusan Pengunjuk Rasa Myanmar Terperangkap
Dunia

Aparat Blokir Jalan, Ratusan..

09 Maret 2021 08:05