Children in the DPR Korea
Under the Leadership of Great Commanders
Dimensy Mobile
Farah.ID
Dimensy
Farah.ID

Asal Muasal Virus Corona Bukan Hanya Tanggung Jawab China, Banyak Aktor Di Balik Institut Virologi Wuhan

LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN
  • Rabu, 06 Mei 2020, 09:11 WIB
Asal Muasal Virus Corona Bukan Hanya Tanggung Jawab China, Banyak Aktor Di Balik Institut Virologi Wuhan
Institut Virologi Wuhan/Net
Persoalan mengenai asal muasal virus corona baru (Covid-19) mungkin bisa lebih rumit dari yang diperkirakan, karena tidak hanya melibatkan China, namun juga beberapa negara adikuasa dan organisasi internasional.

Seorang ahli mikrobiologi sekaligus penulis "We Are Dared to Be Free", Dady Chery mengungkapkan keyakinannya bahwa virus corona baru atau SARS-CoV-2 bukan produk alam.

Ia juga mengatakan, jika SARS-CoV-2 adalah hasil kebocoran laboratorium Wuhan Institute of Virology atau Institut Virologi Wuhan, bukan hanya China yang bisa disalahkan oleh komunitas internasional. Melainkan ada banyak aktor lain yang berada di belakangnya.

Itu semua Chery sampaikan dalam wawancaranya dengan Radio Sputnik pada Senin (4/5).

"China bukan satu-satunya tempat yang harus disalahkan untuk ini," kata Chery.

"Saya pikir Institut Virologi Wuhan hampir pasti terlibat dalam penelitian SARS-CoV-2, tetapi Institut Teknologi Wuhan sebenarnya dibangun dengan bantuan Prancis sebesar 42,4 juta dolar AS," jelasnya.

Chery mengatakan, sejak awal, China sudah memiliki sejumlah mitra internasional yang membantu pengembangan di Institut Virologi Wuhan. Di mana dari situs lab, para terdapat beberapa ilmuan di sana, termasuk dari Prancis, Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Australia, Spanyol, Jerman, Belanda, Jepang, Singapura, Pakistan, hingga Kenya.

Selain itu, daftar mitra keuangannya juga termasuk Uni Eropa, Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa, Organisasi Kesehatan Dunia dan EcoHealth Alliance yang didirikan di bawah sebuah proyek oleh Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat.

Chery juga menyoroti bahwa EcoHealth Alliance juga membiayai proses pencarian dan penemuan patogen yang sangat, sangat jahat pada hewan, dan pada manusia, dan membawa mereka ke laboratorium biosafety tingkat empat (BSL-4) untuk penelitian.

Di dunia sendiri, Chery mengatakan hanya ada sekitar 30 laboratorium BSL-4, yang memiliki tingkat tindakan pencegahan keamanan hayati tertinggi untuk menangani jenis penelitian itu.

"Tidak ada ilmuwan yang sah yang dapat memverifikasi penelitian mereka kecuali mereka juga memiliki akses ke laboratorium BSL-4 dan ingin mengambil risiko semacam itu," katanya.

Membahas mengenai SARS-CoV-2 itu sendiri, Chery juga mengungkapkan, dari 16 protein yang ada di dalamnya, spike protein adalah titik fokus bagi para ilmuwan. Protein khusus ini adalah yang bertanggung jawab untuk mengenali protein reseptor pada permukaan sel manusia sehingga dapat masuk ke dalamnya.

Chery mencatat, SARS-CoV-2 selama ini diyakini sebagai kerabat terdekat dari SARS-CoV yang diidentifikasi kembali pada tahun 2002. Namun, data urutan genetik yang diterbitkan oleh para peneliti China menunjukkan bahwa RaTG13, sejenis virus corona kelelawar yang disimpan di Institut Virologi Wuhan, adalah kerabat terdekat dengan SARS-CoV-2.

"Satu-satunya masalah dengan itu adalah bahwa kemiripan utama antara (RaTG13) dan SARS-CoV-2 adalah pada spike protein. Ada jauh lebih banyak dari virus," ujarnya.

Chery juga kemudian menyoroti pendapat dari ahli virologi Prancis yang telah meraih Nobel Kedokteran, luc Montagnier. Di mana Montagnier berpendapat bahwa ada sekuens HIV yang ada di SARS-CoV-2, sehingga tidak mungkin itu terjadi di alam.

"Saya tidak hanya mengambil kata-katanya untuk itu. Saya pergi dan saya benar-benar membaca koran (direferensikan)," ujar Chery.

Perlu dicatat, komentar Montagnier sendiri telah ditentang oleh banyak rekannya, termasuk ahli imunologi dan kepala dewan penasihat pemerintah Prancis untuk Covid-19, Jean-Francois Delfraissy.
EDITOR:

ARTIKEL LAINNYA