Tak Bisa Rayakan Idul Fitri Dengan Keluarga, Dokter Ini Ungkap Lebih Khawatir Akan Adanya Risiko Lonjakan Kasus Covid-19

Para tenaga medis di rumah sakit Malaysia/Net

Ketika banyak orang yang merasa kecewa karena tidak bisa merayakan Idul Fitri dengan sanak keluarga, perasaan yang lebih sedih dirasakan oleh para dokter dan tenaga medis lainnya.

Seorang dokter di Malaysia, Muhammad Syahidd Al-Hatim mengaku terbiasa berada jauh dari keluarganya pada Idul Fitri, karena sudah dua tahun terakhir ia merayakan akhir bulan puasa Ramadhan di Rumah Sakit Kuala Lumpur tempat dia bekerja.

Meski begitu, pria 26 tahun tersebut mengaku, Idul Fitri kali ini sangatlah suram bagi banyak rekannya.

"Menyedihkan karena beberapa teman saya, perawat staf, beberapa dokter senior, mereka tidak berasal dari Kuala Lumpur," ujar Muhammad Syahidd mengatakan kepada Reuters.

"Biasanya, mereka akan kembali (ke kota asalnya) untuk menghabiskan waktu bersama keluarga dan mereka tidak memiliki kesempatan itu. Jadi itu membawa suasana hati yang sedih di tempat kerja," tambahnya.

Malaysia sendiri memiliki lebih dari 7.000 kasus Covid-19 dengan 115 orang meninggal dunia. Untuk membendung penyebaran virus corona baru, negeri jiran tersebut telah memberlakukan pembatasan sosial yang ketat sejak 18 Maret.

Meskipun beberapa pembatasan telah dilonggarkan bulan ini, perjalanan antar negara bagian untuk alasan yang tidak penting masih dilarang. Artinya, masih banyak orang tidak dapat kembali ke kampung halaman mereka selama musim liburan Idul Fitri.

Alih-alih merasa rindu, Muhammad Syahidd mengaku lebih khawatir jika terjadi lonjakan kasus Covid-19. Ia bahkan bekerja di ruang gawat darurat pada Minggu (24/5) atau hari pertama Idul Fitri.

Pasalnya, ia mengatakan, dengan Idul Fitri, diperkirakan ada banyak orang yang melanggar aturan kuncian dan jarak sosial.

"Saya merawat pasien di sini. Lalu saya memberikan penyakit pada orang tua saya. Itu satu-satunya hal yang aku takuti," jelasnya memberikan alasan ketakutannya.

Walau begitu, Muhammad Syahidd mengatakan, pandemik Covid-19 membuat para tenaga medis, muslim maupun non-muslim, lebih dekat dan saling menjaga satu sama lain, khususnya selama Ramadhan.

"Kami saling menjaga satu sama lain," pungkasnya.

Kolom Komentar


Video

Viral Perilaku Pegawai Starbucks Intip Payudara pelanggan dari CCTV

Kamis, 02 Juli 2020
Video

Karpet Merah Perusahaan Relokasi Dari China

Kamis, 02 Juli 2020
Video

Berstatus Tersangka, Jack Boyd Lapian Jalani Pemeriksaan Perdana Di Bareskrim

Jumat, 03 Juli 2020

Artikel Lainnya

Pernah Hadiri Acara Tanpa Masker Pacar Trump Junior Sekaligus Penasehat Kampanye Donald Trump Positif Covid-19
Dunia

Pernah Hadiri Acara Tanpa Ma..

04 Juli 2020 17:34
Antisipasi Infeksi Baru Di Sekitar Pemakaman, Bolivia Membuat Kuburan Massal Untuk Korban Covid-19
Dunia

Antisipasi Infeksi Baru Di S..

04 Juli 2020 17:18
Krisis Lebanon: 75 Persen Rakyat Kelaparan, Dua Warga Memilih Bunuh Diri
Dunia

Krisis Lebanon: 75 Persen Ra..

04 Juli 2020 16:25
Ekstremis ISIS Asal Prancis Hanya Dijatuhi Hukuman 30 Tahun Penjara, Hakim Beralasan Ingin Memberi Secercah Harapan Untuk Berevolusi
Dunia

Ekstremis ISIS Asal Prancis ..

04 Juli 2020 15:52
Aktivis Hong Kong Joshua Wong Bantah Minta Intervensi Jerman
Dunia

Aktivis Hong Kong Joshua Won..

04 Juli 2020 14:55
Marah Banyak Yang Ikut Campur Urusan Hagia Sopia, Erdogan: Kami Melindungi Hak-hak Muslim Negara Ini!
Dunia

Marah Banyak Yang Ikut Campu..

04 Juli 2020 13:53
Peduli Hak Hewan, Tunangan PM Inggris Serukan Boikot Produk Kelapa Yang Eksploitasi Tenaga Monyet
Dunia

Peduli Hak Hewan, Tunangan P..

04 Juli 2020 13:37
iPhone Stop Produksinya Di India, Gara-gara Bentrokan Perbatasan Dan Aksi Boikot
Dunia

iPhone Stop Produksinya Di I..

04 Juli 2020 13:01