Tiga Negara Bagian Di AS Tetapkan Status Darurat, Gubernur Minessota: Ini Bukan Lagi Tentang Floyd, Tapi Sudah Jadi Kerusuhan Massal Dan Penyerangan

Pengunjuk rasa berdiri di atas mobil polisi yang telah hangus dibakar di Los Angeles, California/Net

Di tengah pandemik yang belum usai, tiga negara bagian di Amerika Serikat memberlakukan status darurat akibat kerusuhan yang tak terkendali pasca kematian George Floyd. Arizona, Texas, dan Virginia, mengumumkan status darurat dan militer pun diturunkan.

Pentagon telah mengirimkan 5.000 pasukan Garda Nasional, tentara cadangan AS. Tentara-tentara itu diaktifkan di 15 negara bagian dan Washington DC. Bersama polisi para tentara itu mengamankan situasi, dan sebanyak 2.000 pasukan lain bersiaga jika diperlukan.

Hampir 40 kota di Amerika Serikat (AS) memberlakukan jam malam. Minneapolis, Los Angeles County, dan San Francisco di California, Denver di Colorado, Miami di Florida, Kansas City di Missouri, Chicago di Illinois, hingga Seattle di Washington.

Khusus negara bagian Arizona, jam malam diberlakukan di seluruh kota. Sedangkan di Chicago, pemerintah menutup semua pusat bisnis.

Gubernur negara bagian Minnesota, Tim Walz mengatakan protes yang terjadi bukan lagi tentang kematian George Floyd. Aksi demo sudah menjalar menjadi kerusuhan massal. seperti dikutip dari AFP, Minggu (31/5). Sebanyak 2.383 orang yang diduga terlibat kerusuhan telah ditangkap.

"Ini tentang menyerang masyarakat sipil, menanamkan rasa takut dan mengganggu kota-kota besar kita," kata Walz dalam sebuah pernyataan.

Kemarahan menjalar menjadi protes, yang melanda kota-kota besar di AS. Kerumunan orang turun ke jalan untuk menuntut kebrutalan polisi dan pertanggungjawaban atas beberapa kematian warga kulit hitam di tangan mereka. Sebelum Floyd, AS mencatat setidaknya dua kematian lain terkait kekerasan terhadap kulit hitam di awal tahun 2020.

Kerusuhan itu sangat mengerikan. Amerika menghadapi sat-saat yang mencekam di tengah wabah virus corona yang masih tinggi di negara itu.

Gubernur negara bagian itu sempat meminta maaf atas apa yang terjadi. Bahkan Presiden AS Donald Trump juga mengaku sudah menghubungi keluarga Floyd secara langsung. Namun protes tak kunjung usai.

Pelaku pembunuhan Floyd telah ditangkap dan terancam hukuman 25 tahun penjara.
EDITOR: RENI ERINA

Kolom Komentar


Video

Sebelum Mbak You, Arief Poyuono Sudah Ramalkan Kalabendu

Jumat, 15 Januari 2021
Video

BINCANG SEHAT • Memandang Pandemi Dari Kacamata Relawan

Jumat, 15 Januari 2021
Video

RMOL World View • Menjaga Gawang Pertahanan Indonesia

Senin, 18 Januari 2021

Artikel Lainnya

WHO Kecam Pembuat Vaksin Yang Prioritaskan Keuntungan Di Tengah Pandemi
Dunia

WHO Kecam Pembuat Vaksin Yan..

19 Januari 2021 14:01
Jepang Dalam Mode Siaga Tinggi, Temukan Kasus Varian Baru Tanpa Riwayat Perjalanan Ke Inggris
Dunia

Jepang Dalam Mode Siaga Ting..

19 Januari 2021 13:26
Klaim Tak Punya Kasus Virus Corona, Turkmenistan Jadi Negara Asia Tengah Pertama Yang Daftarkan Vaksin Rusia
Dunia

Klaim Tak Punya Kasus Virus ..

19 Januari 2021 13:22
Imbauan Carrie Lam: Sebaran Covid-19 Tidak Berhubungan Dengan Ras Atau Etnis
Dunia

Imbauan Carrie Lam: Sebaran ..

19 Januari 2021 13:04
Tidak Bijak Bagi Joe Biden Untuk Mengubur Pencapaian Manis Donald Trump Atas Korea Utara
Dunia

Tidak Bijak Bagi Joe Biden U..

19 Januari 2021 12:38
Pemilu Palestina, PM Mohammed Shtayyeh Minta Uni Eropa Kirim Pengamat Independen
Dunia

Pemilu Palestina, PM Mohamme..

19 Januari 2021 12:15
Kecewa Dengan UE, Kosovo Putuskan Untuk Ambil Sikap Dalam Waktu Dekat
Dunia

Kecewa Dengan UE, Kosovo Put..

19 Januari 2021 11:49
Jepang: Tuntutan Kompensasi Korsel Atas Korban Jugun Ianfu Merusak Hubungan
Dunia

Jepang: Tuntutan Kompensasi ..

19 Januari 2021 11:37