Buku John Bolton Bongkar Rahasia Negosiasi Denuklirisasi Korea Utara, Korea Selatan Marah

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dan Presiden Korea Selatan, Moon Jae-in/Net

Kritikan terhadap buku "The Room Where It Happened: A White House Memoir" karya John Bolton bukan hanya datang dari pihak Presiden Donald Trump, namun juga Korea Selatan.

Di dalam buku yang ditulis oleh mantan Penasihat Keamanan Nasional Gedung Putih tersebut, juga dijelaskan bagaimana diskusi antara Trump dengan dua pemimpin Korea.

Di sana, Bolton menulis bahwa Presiden Korea Selatan, Moon Jae-in ingin meningkatkan hubungan dengan Korea Utara dengan ekspektasi yang tidak realistis mengenai penyatuan dua Korea oleh bantuan Trump.

Misalnya saja ketika Bolton menjelaskan bagaimana pertemuan Trump dan Kim Jong Un untuk pertama kalinya pada Juni 2018 di Singapura dan KTT kedua mereka di Vietnam pada 2019.

Ketika itu, Trump menolak tawaran Kim untuk melepaskan fasilitas nuklir utama Korea Utara, Yongbyon, sebagai imbalan atas pencabutan sejumlah sanksi.

Dalam bukunya, Bolton menulis, Moon mengalami gangguan atas posisi tersebut. Di satu sisi, Trump benar untuk menolak proposal Kim tetapi di sisi lain, kesediaan Kim untuk membongkar fasilitas Yongbyon adalah langkah pertama yang sangat berarti untuk menuju denuklirisasi.

Bolton bahkan menyebut posisi Moon sebagai "penderita skizofrenia".

Menanggapi hal tersebut, Cheong Wa Dae atau Kantor Presiden Korea Selatan pada Senin (22/6) menyatakan pernyataan Bolton dalam bukunya sebagian besar tidak akurat dan terdistorsi.

"Itu tidak mencerminkan fakta yang akurat dan secara substansial mendistorsi fakta," ujar Direktur Keamanan Nasional Gedung Biru, Chung Eui-yong seperti dikutip Reuters.

Chung sendiri tidak menjelaskan secara terperinci bagian-bagian mana yang dianggap tidak tepat oleh Korea Selatan. Namun dalam pernyataannya, publikasi buku tersebut sangat berbahaya.

"Konsultasi penerbitan secara sepihak yang dibuat berdasarkan rasa saling percaya melanggar prinsip-prinsip dasar diplomasi dan dapat sangat merusak negosiasi di masa depan," katanya.

Lebih lanjut, melansir Sputnik, Chung juga mengecam Bolton yang mengungkap rincian Gedung Baru akan menyampaikan posisinya kepada Dewan Keamanan nasional AS pada 21 Juni agar AS dapat mencegah "kasus berbahaya" terulang kembali.

Buku Bolton sendiri direncanakan akan dirilis untuk publik pada Selasa (23/6).

Selain Korea Selatan, Trump juga tengah berusaha untuk mencegah penerbitan buku tersebut. Meski pengadilan telah mengizinkan buku itu terbit.

Kolom Komentar


Video

#KamiMasihAda Pemkot Fasilitasi Launching Album 30 Musisi Semarang

Kamis, 24 September 2020
Video

Tanya Jawab Cak Ulung - Ancaman dan Peluang Pilkada

Kamis, 24 September 2020

Artikel Lainnya

Tersinggung, Hongaria Desak Petinggi Uni Eropa Mengundurkan Diri
Dunia

Tersinggung, Hongaria Desak ..

29 September 2020 18:00
CDC: Maret Hingga September Ada 280 Ribu Anak Usia Sekolah Di AS Yang Terinfeksi Virus Corona
Dunia

CDC: Maret Hingga September ..

29 September 2020 17:31
Pilpres AS 2020, Para Dukun Peru Beraksi Untuk Menangkan Pilihan Mereka
Dunia

Pilpres AS 2020, Para Dukun ..

29 September 2020 16:07
Kunjungi Zona Demiliterisasi, Menlu Dominic Raab: Inggris Selalu Dukung Perdamaian Korea
Dunia

Kunjungi Zona Demiliterisasi..

29 September 2020 15:35
Nicolas Maduro: Pandemik Covid-19 Perburuk Kesenjangan Sosial Di Dunia
Dunia

Nicolas Maduro: Pandemik Cov..

29 September 2020 15:23
Jelang Debat Presiden Malam Ini, Gedung Putih Yakin Trump Sudah Sangat Siap Dengan Semua Topik
Dunia

Jelang Debat Presiden Malam ..

29 September 2020 15:21
Memaksimalkan Tenaga Lokal, Kuwait Pecat Semua Karyawan Ekspatriat
Dunia

Memaksimalkan Tenaga Lokal, ..

29 September 2020 15:00
Melesat Menuju 5G, Singapura Kumpulkan Ribuan Tenaga Kerja Profesional
Dunia

Melesat Menuju 5G, Singapura..

29 September 2020 14:55