Ekstremis ISIS Asal Prancis Hanya Dijatuhi Hukuman 30 Tahun Penjara, Hakim Beralasan Ingin Memberi Secercah Harapan Untuk Berevolusi

Sebuah sketsa pengadilan yang dibuat pada 25 Juni 2020 di gedung pengadilan Paris menunjukkan ekstremis ISIS Tyler Vilus/Net

Tyler Vilus, ekstremis kelahiran Prancis yang diyakini sebagai tokoh senior di milisi Negara Islam (ISIS) dijatuhi hukuman 30 tahun penjara oleh pengadilan Prancis setelah terbukti melakukan pembunuhan sadis dan terorisme di Suriah.

Keputusan ini lebih ringan dari tuntutan jaksa penuntut umum. Sebelumnya, Jaksa penuntut umum Guillaume Michelin meminta hukuman seumur hidup kepada pengadilan, tanpa kemungkinan pembebasan bersyarat selama 22 tahun.

Namun, hakim yang mengepalai sidang mengatakan dia ingin memberi ‘secercah harapan’ kepada terdakwa sehingga dia bisa ‘berevolusi.’

“Dengan tidak memilih hukuman seumur hidup, pengadilan memutuskan untuk memberi Anda (Vilus) secercah harapan untuk berkembang,” kata ketua hakim Laurent Raviot, seperti dikutip dari AFP, Sabtu (4/7).

Ini menandai penuntutan pertama yang berhasil di Prancis atas kejahatan ekstremis yang dilakukan di Suriah.

Terdakwa yang sekarang berusia 30 tahun, masuk Islam sembilan tahun yang lalu. Setelah masuk Islam, dia kemudian bergabung dengan ISIS dan pergi ke Suriah, dan tinggal di sana antara 2013 dan 2015. Vilus akhirnya ditangkap di Turki lima tahun lalu ketika mencoba naik pesawat ke Praha.

Pengadilan berhasil membuktikan bahwa dia bersalah dengan beberapa sangkaan,di antaranya tuduhan pembunuhan sadis, menjadi bagian dari organisasi teror, dan memimpin sekelompok tentara ISIS.

Sementara jaksa tidak dapat membuktikan bahwa Vilus secara pribadi mengeksekusi siapa pun, mereka dapat meyakinkan pengadilan bahwa pria itu adalah bagian dari kelompok terorganisir yang bertanggung jawab atas pembunuhan.

Penuntut mengandalkan video yang beredar pada 2015 yang diterbitkan oleh ISIS untuk tujuan perekrutan. Di dalamnya, terdakwa terlihat dekat dua narapidana berlutut dan ditutup matanya saat kepala mereka ditembak.

Vilus mengatakan dirinya hanya kebetulan ke tempat kejadian saat dirinya meninggalkan masjid. Dia juga mengatakan kepada hakim Paris bahwa dia telah menolak ideologi ISIS.

"Jauh di lubuk hati, saya tahu bahwa ketika saya pergi, saya akan mati," katanya kepada pengadilan. "Itu jalan yang tidak bisa kembali."
EDITOR: RENI ERINA

Kolom Komentar


Artikel Lainnya

Inggris Amankan 60 Juta Dosis Kandidat Vaksin Covid-19 Buatan Novavax
Dunia

Inggris Amankan 60 Juta Dosi..

14 Agustus 2020 12:42
Sambut Normalisasi Hubungan Dengan UEA, Presiden Israel Undang Putra Mahkota MBZ Ke Yerusalem
Dunia

Sambut Normalisasi Hubungan ..

14 Agustus 2020 12:15
Presiden Afghanistan Ashraf Ghani Sebut Pembebasan Ratusan Narapidana Taliban Ancaman Bagi Dunia
Dunia

Presiden Afghanistan Ashraf ..

14 Agustus 2020 12:08
Diprotes Pengusaha, Malaysia Cabut Pembatasan Rekrutmen TKA
Dunia

Diprotes Pengusaha, Malaysia..

14 Agustus 2020 11:58
Orangtua Kamala Harris Bukan WN AS, Donald Trump Pertanyakan Kelayakan Sang Pendamping Joe Biden
Dunia

Orangtua Kamala Harris Bukan..

14 Agustus 2020 11:38
Akhirnya Pemerintah Lebanon Libatkan Penyelidik Internasional Selidiki Ledakan Beirut Termasuk FBI
Dunia

Akhirnya Pemerintah Lebanon ..

14 Agustus 2020 11:31
Siapa Yang Paling Diinginkan Oleh Negara-negara Monarki Teluk, Trump Atau Biden?
Dunia

Siapa Yang Paling Diinginkan..

14 Agustus 2020 11:20
Turki: Normalisasi Hubungan Israel-UEA Khianati Rakyat Palestina
Dunia

Turki: Normalisasi Hubungan ..

14 Agustus 2020 10:41