Krisis Lebanon: 75 Persen Rakyat Kelaparan, Dua Warga Memilih Bunuh Diri

Seseorang di sudut Kota Beirut sesaat setelah aksi unjuk rasa/Net

Kelaparan bisa membuat seseorang melakukan aksi nekat. Namun, aksi nekat yang dilakukan laki-laki di Libanon itu adalah menembak dirinya sendiri. Keluarga mengungkapkan, aksi itu sebagai ungkapan kemarahan atas kesewenangan penguasa. Sebelum bunuh diri, pria itu menulis surat yang ia letakkan disampingnya.

Peristiwa ini terjadi kemarin, Jumat (3/7), di lingkungan Hamra, Beirut barat,
di tengah krisis Lebanon yang semakin parah. Negara itu sedang mengalami jatuhnya ekonomi bahkan jauh sebelum pandemik.

Pria berusia 61 tahun itu menembak dirinya sendiri di kepala di depan toko Dunkin Donuts di distrik Hamra yang sibuk.

Dia seorang warga yang tidak memiliki catatan kriminal sama sekali.

Di dekat tubuhnya ada bendera Lebanon, dan sebuah catatan dalam bahasa Arab: "Saya bukan bid'ah", diduga itu adalah kutipan dari lagu populer yang diikuti kata-kata "tetapi kelaparan adalah bid'ah".

Seorang kerabat pria itu mengatakan, penguasa negara adalah penyebab sulitnya kehidupan sehingga seseorang memilih mati.

"Terkutuklah mereka. Orang-orang mati lemas," katanya, dikutip dari Middle East Eye, Sabtu (4/7).

Petugas membawa mayatnya yang telah berlumuran darah.

Para pengunjuk rasa berkumpul di Hamra menyuarakan kemarahannya atas situasi ekonomi dan politik yang mengerikan yang dianggap telah mendorong pria itu bunuh diri.

Saksi mata mendengar pria itu berteriak "Lebanon yang bebas dan merdeka" sebelum bunuh diri.

Selain pria 61 tahun, ada pria lainnya yang juga bunuh diri di hari yang sama, di rumahnya di dekat kota selatan Saida.

Pasukan keamanan menemukan tubuh pria itu di rumahnya dan mengetahui bahwa pria itu, seorang sopir van, memiliki masalah ekonomi. Dia meninggalkan seorang istri dan seorang anak perempuan.

Alasannya bunuh diri juga persis sama.

Tahun lalu, seorang lelaki Lebanon yang berjuang untuk membayar utang, melakukan bunuh diri saat krisis ekonomi menekan kampung halamannya, Arsal.

Kesengsaraan ekonomi Lebanon memuncak tahun lalu, saat protes pecah menentang para pemimpin sektarian yang berkuasa sejak perang saudara 1975-1990.

"Orang-orang lapar, bangkrut, sengsara," kata Lina Boubes di Hamra, di mana orang-orang meneriaki pemerintah dan bank-bank yang telah membekukan nasabah mengambil tabungan mereka.

"Mereka mengambil impian kita, uang kita, roti kita," katanya. "Dan mereka duduk di istana mereka dan mereka masih menindas kita."

Berbeda dengan keluhan warga, Kabinet baru Lebanon mengungkapkan negara sudah berupaya melakukan semuanya untuk mengatasi krisis.

Krisis makin mencekam Lebanon. Bahkan asupan listrik pun terancam. Belakangan warga lebih sering berada dalam gelap. Sekitar 75 persen rakyat Lebanon saat ini membutuhkan bantuan.
EDITOR: RENI ERINA

Kolom Komentar


Artikel Lainnya

Inggris Amankan 60 Juta Dosis Kandidat Vaksin Covid-19 Buatan Novavax
Dunia

Inggris Amankan 60 Juta Dosi..

14 Agustus 2020 12:42
Sambut Normalisasi Hubungan Dengan UEA, Presiden Israel Undang Putra Mahkota MBZ Ke Yerusalem
Dunia

Sambut Normalisasi Hubungan ..

14 Agustus 2020 12:15
Presiden Afghanistan Ashraf Ghani Sebut Pembebasan Ratusan Narapidana Taliban Ancaman Bagi Dunia
Dunia

Presiden Afghanistan Ashraf ..

14 Agustus 2020 12:08
Diprotes Pengusaha, Malaysia Cabut Pembatasan Rekrutmen TKA
Dunia

Diprotes Pengusaha, Malaysia..

14 Agustus 2020 11:58
Orangtua Kamala Harris Bukan WN AS, Donald Trump Pertanyakan Kelayakan Sang Pendamping Joe Biden
Dunia

Orangtua Kamala Harris Bukan..

14 Agustus 2020 11:38
Akhirnya Pemerintah Lebanon Libatkan Penyelidik Internasional Selidiki Ledakan Beirut Termasuk FBI
Dunia

Akhirnya Pemerintah Lebanon ..

14 Agustus 2020 11:31
Siapa Yang Paling Diinginkan Oleh Negara-negara Monarki Teluk, Trump Atau Biden?
Dunia

Siapa Yang Paling Diinginkan..

14 Agustus 2020 11:20
Turki: Normalisasi Hubungan Israel-UEA Khianati Rakyat Palestina
Dunia

Turki: Normalisasi Hubungan ..

14 Agustus 2020 10:41