Para Ahli Ingatkan Suhu Global Akan Terus Memanas, Bisa Picu Cuaca Ekstrem

WMO mengatakan suhu global akan terus memanas dalam lima tahun ke depan/Net

Pandemik Covid-19 bukan satu-satunya tantangan yang harus dihadapi oleh umat manusia. Ada tantangan jangka panjang lain yang bisa sangat mempengaruhi kehidupan, pemanasan global.

Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menyebut, temperatur global akan terus memanas selama lima tahun ke depan, bahkan untuk sementara waktu bisa naik hingga lebih dari 1,5 derajat Celcius yang artinya melewati ambang batas yang ditetapkan para ilmuan untuk menghindari perubahan iklim yang dahsyat.

Sekretaris Jenderal WMO, Petteri Taalas pada Kamis (9/7) mengatakan, tren pemanasan terus berlanjut dan menjadi tantangan besar bagi pemenuhan Perjanjian Paris 2015.

Di bawah Perjanjian Paris, negara-negara akan mengekang emisi untuk menjaga kenaikan suhu jauh di bawah 2 derajat Celcius, melansir CNA.

WMO mengatakan, ada peluang sebesar 20 persen suhu rahunan rata-rata, yang berfluktuasi dari tahun ke tahun, dapat mencapai angka 1,5 derajat Celcius antara 2020 hingga 2024.

Namun, masing-masing tahun itu "kemungkinan" berada di setidaknya 1 derajat Celcius di atas tingkat pra-industri, dengan hampir setiap wilayah merasakan efeknya.

Peningkatan temperatur global sendiri cukup banyak dipengaruhi oleh kebakaran hutan.

Tahun lalu, Afrika Serlatan dan Australia kehilangan jutaan hektar, sehingga kemungkinan akan lebih kering dari biasanya hingga 2024. Wilayah Sahel di Afrika kemungkinan akan lebih basah.

Sementara itu, Eropa akan melihat lebih banyak badai, dengan Atlantik Utara yang memiliki angin lebih kencang.

WMO mengatakan, dunia mungkin tidak akan mencapai ambang batas pemanasan 1,5 derajat Celcius untuk setidaknya satu dekade ke depan.

Ahli iklim di Penn State University, Michael Mann, mengatakan, saat ini tren jangka panjang untuk suhu global rata-rata sekitar 1,2 derajat Celcius di atas tingkat pra-industri.

Mantan Menteri Lingkungan Chili yang saat ini menjadi Direktur Pusat Aksi Iklim di Universitas Katolik Kepausan di Valparaiso, Marcelo Mena mengatakan, kenaikan suhu jangka pendek bisa memicu peristiwa cuaca ekstrem yang bisa menambah beban dunia yang sedang berjuang melawan Covid-19.

"Akan ada tahun-tahun yang lebih tinggi dari proyeksi, dan tahun-tahun lebih rendah, tetapi fakta bahwa kita memiliki peningkatan ini dalam konteks ini menunjukkan kepada kita bahwa beberapa peristiwa simbolis ini lebih dekat ke rumah daripada yang diperkirakan," ungkapnya.

Kolom Komentar


Video

Wanita Terbakar Dalam Mobil di Sukoharjo, Diduga Korban Pembunuhan

Rabu, 21 Oktober 2020
Video

DENDI RAMADHONA DAN PESAWARAN

Rabu, 21 Oktober 2020
Video

Diduga Melanggar, Bawaslu Panggil Calon Bupati Semarang

Kamis, 22 Oktober 2020

Artikel Lainnya

Pasca Pembunuhan Samuel Paty, Prancis Akan Menindak Postingan Berisi Identitas Pribadi
Dunia

Pasca Pembunuhan Samuel Paty..

24 Oktober 2020 06:50
Pemilu Bolivia: Luis Arce Raih Kemenangan Telak Dengan 55 Persen Suara
Dunia

Pemilu Bolivia: Luis Arce Ra..

24 Oktober 2020 06:35
Konflik Laut Mediterania, Bisakah Rusia Dapat Untung Dari Pertengkaran Turki-Yunani?
Dunia

Konflik Laut Mediterania, Bi..

24 Oktober 2020 05:41
Iran Kepada Armenia Dan Azerbaijan: Tidak Ada Toleransi Serangan Di Perbatasan
Dunia

Iran Kepada Armenia Dan Azer..

23 Oktober 2020 19:42
Tolak Kehadiran Militer China, Warga Kamboja Gelar Aksi Protes Dekat Kedutaan
Dunia

Tolak Kehadiran Militer Chin..

23 Oktober 2020 16:40
Hasil Pemilu Berujung Kerusuhan Berdarah, Sekjen PBB Minta Semua Pihak Di Guinea Tetap Tenang
Dunia

Hasil Pemilu Berujung Kerusu..

23 Oktober 2020 16:04
Kremlin: Presiden Putin Sudah Melakukan Segala Hal Untuk Mendamaikan Armenia Dan Azerbaijan
Dunia

Kremlin: Presiden Putin Suda..

23 Oktober 2020 15:14
Balas Serangan Roket Hamas, Israel Bombardir Situs Pembuatan Senjata Di Jalur Gaza
Dunia

Balas Serangan Roket Hamas, ..

23 Oktober 2020 14:45