Farah.ID
Farah.ID

Hanya Putin Yang Punya Peran Kunci Untuk Pulihkan Sengketa Armenia Dan Azerbaijan

LAPORAN: RENI ERINA
  • Sabtu, 18 Juli 2020, 06:42 WIB
Hanya Putin Yang Punya Peran Kunci Untuk Pulihkan Sengketa Armenia Dan Azerbaijan
Presiden Rusia Vladimir Putin tengah melakukan rapat virtual/Net
  Peran Rusia dibutuhkan dalam meredakan ketegangan yang terjadi antara Armenia dan Azerbaijan. Para pengamat dan politisi menilai Sangat sulit bagi Armenia dan Azerbaijan untuk meredakan ketegangan yang memanas di perbatasan sejak 12 Juli lalu tanpa upaya mediasi, di mana Rusia dapat memainkan peran kunci.

Konflik Armenia dan Azerbaijan adalah konflik bersejarah, yang telah mendidih selama bertahun-tahun. Berbagai negosiasi tingkat tinggi tetap tidak bisa menjamin Yerevan dan Baku dalam menyelesaikan konflik mereka sendiri. Surat kabar Izvestia menulis, tidak ada jaminan bahwa di masa depan, ketegangan ini tidak akan meledak lagi. Karena bagian paling berbahaya dari situasi ini adalah konflik muncul di perbatasan antara kedua negara, dan bukan lagi di wilayah Nagorno-Karabakh, seperti dikutip dari Interfax, Jumat (17/7).

Anggota Dewan Federasi Rusia (majelis tinggi parlemen) dan mantan Wakil Menteri Luar Negeri Grigory Karasin sepakat bahwa OSCE Minsk Group yang didirikan pada  1992 harus berperan dalam menyelesaikan konflik ini. Namun, penyelesaian masih belum tercapai. Inilah sebabnya mengapa Yerevan dan Baku membutuhkan mediator yang akan membimbing mereka menuju penyelesaian konflik yang bertahap tapi mencapai tujuannya.

Ketua Komite Duma, Leonid Kalashnikov mengatakan, baik Azerbaijan maupun Armenia tidak puas dengan situasi saat ini. Apalagi beberapa pemain internasional berusaha memihak, yang malah memperumit masalah.

“Ini tidak membantu menemukan solusi. Inilah sebabnya mengapa hanya Rusia yang dapat memainkan peran yang benar-benar positif dalam mengatur konflik. Karena kita tidak melihat ke arah AS dan Eropa, dan kita paham bahwa akan lebih bermanfaat bagi mereka jika mempertahankan perselisihan ini terus terjadi di dekat perbatasan kita. Kita harusnya dapat membantu menyelesaikan konflik ini," kata Kalashnikov.

Ia menegaskan, hanya tiga pihak yang dapat menyelesaikan masalah yang ada, yaitu Presiden Azerbaijan, Perdana Menteri Armenia dan Presiden Rusia.

“Karena Moskow memiliki kekuasaan yang tak perlu dipertanyakan lagi di republik-republik ini," ujar Kalashnikov. Anggota parlemen sangat yakin bahwa Rusia akan dapat menggunakan hubungan baiknya, tidak hanya dengan Yerevan dan Baku, tetapi juga dengan Ankara yang sejauh ini mengambil sikap pro-Azerbaijan. Ankara mestinya dapat membantu kedua pihak mencapai kesepakatan.

"Pada akhirnya, ini bisa membuka peluang baru bagi semua orang. Misalnya, Azerbaijan dapat mulai membentuk bagian dari EAEU, dan prospek Armenia dapat diperluas. Ini akan menjadi contoh dari pendekatan politik-diplomatik untuk regulasi konflik," kata Kalashnikov.

Sementara di saat bersamaan, Presiden Rusia Vladimir Putin tengah melakukan rapat virtual dengan anggota tetap Dewan Keamanan Rusia untuk membahas situasi di perbatasan Armenia-Azerbaijan.

Rapat dihadiri antara lain oleh Ketua Dewan Federasi Valentina Matvienko, Ketua Negara Duma Vyacheslav Volodin, Menteri Luar Negeri Sergey Lavrov, Direktur Layanan Intelijen Asing Sergei Naryshkin dan beberapa lainnya.

Para peserta rapat saling bertukar pandangan secara terperinci tentang situasi di perbatasan dua negara itu. Mereka mengungkapkan kekhawatiran sehubungan dengan eskalasi yang terus berlangsung, mendorong upaya perdamaian sesegera mungkin dilakukan dan untuk memastikan gencatan senjata kembali disepakati oleh pihak-pihak terkait.

Putin menyampaikan kepada anggota tetap Dewan Keamanan bahwa ia telah melakukan kontak telepon baru-baru ini dengan Pangeran Mahkota Abu Dhabi, Mohammed Al Nahyan, Kanselir Federal Jerman Angela Merkel, dan Presiden Iran Hassan Rouhani, terkait situasi ini, dikutip dari Radio Of Armenia, Jumat (17/7).
EDITOR: RENI ERINA

ARTIKEL LAINNYA