Prancis-Italia-Jerman Siapkan Sanksi Bagi Negara Yang Ikut Campur Dalam Konflik Libya

Kanselir Jerman, Angela Merkel; Presiden Prancis, Emmanuel Macron; dan Perdana Menteri Italia, Giuseppe Conte/Net

Perang saudara di Libya telah memicu konflik berkepanjangan. Keterlibatan pihak-pihak asing, seperti Turki dan Rusia, juga membuat kekerasan di Libya semakin intens.

Hal tersebut membuat para pemimpin Uni Eropa, yaitu Prancis, Italia, dan Jerman, mengaku sedang mempertimbangkan sanksi bagi kekuatan asing yang ikut campur dalam konflik Libya. Terutama mereka yang melanggar embargo senjata.

Adapun rencana tersebut dituangkan dalam pernyataan bersama yang dirilis oleh kantor kepresidenan Prancis pada Sabtu (18/7). Di mana pernyataan tersebut muncul setelah Presiden Prancis Emmanuel Macron, Kanselir Jerman Angela Merkel, dan Perdana Menteri Italia Giuseppe Conte melakukan pertemuan di Brussels.

Ketiganya mendesak semua aktor asing untuk mengakhiri campur tangan mereka dan menghormati embargo senjata Libya yang telah ditetapkan oleh Dewan Keamnana PBB.

"Kami siap mempertimbangkan kemungkinan penggunaan sanksi jika pelanggaran embargo di laut, di darat, atau di udara berlanjut dan menantikan proposal yang akan dilakukan Perwakilan Tinggi/Wakil Presiden Uni Eropa untuk tujuan ini," ujar mereka seperti dikutip CGTN.

Pernyataan bersama tersebut adalah yang pertama kalinya bagi ketiga kekuatan besar itu mengancam sanksi di tengah kekhawatiran eskalasi baru di kawasan.

"Kami berbagi keprihatinan serius tentang meningkatnya ketegangan militer di negara ini dan meningkatnya risiko eskalasi regional," kata mereka.

"Karena itu kami menyerukan semua partai Libya dan pendukung asing mereka untuk segera menghentikan pertempuran dan mengakhiri eskalasi militer yang sedang berlangsung di seluruh negeri," sambung mereka.

Selain memberlakukan sanksi pada pihak asing, para diplomat mengatakan negara-negara Uni Eropa juga dapat mempertimbangkan untuk menjatuhkan sanksi kepada individu-individu dari kedua pihak yang berseteru di Libya.

Konflik di Libya sendiri melibatkan dua kelompok yang berselisih setelah pemimpin Muammar Gaddafi digulingkan dan dibunuh pada 2011.

Pada 2014, Pemerintahan Kesepakatan Nasional (GNA) yang berbasis di Tripoli berebut kekuasaan dengan kelompok Tentara Nasional Libya (LNA) yang dipimpin oleh Komandan Khalifa Haftar yang berbasis di bagian timur.

Selama inim Turki diketahui telah memberikan sejumlah dukungan senjata hingga pejuang untuk membantu GNA. Sementara Haftar telah didukung oleh Rusia, bersama dengan Uni Emirat Arab (UEA) dan Mesir.

Pada Sabtu, GNA memindahkan pejuang lebih dekat ke Sirte, pintu gerbang ke terminal minyak utama Libya. Mereka berencana untuk merebut kembali wilayah tersebut dari pasukan Haftar.

Kolom Komentar


Video

#KamiMasihAda Pemkot Fasilitasi Launching Album 30 Musisi Semarang

Kamis, 24 September 2020
Video

Tanya Jawab Cak Ulung - Ancaman dan Peluang Pilkada

Kamis, 24 September 2020

Artikel Lainnya

Tersinggung, Hongaria Desak Petinggi Uni Eropa Mengundurkan Diri
Dunia

Tersinggung, Hongaria Desak ..

29 September 2020 18:00
CDC: Maret Hingga September Ada 280 Ribu Anak Usia Sekolah Di AS Yang Terinfeksi Virus Corona
Dunia

CDC: Maret Hingga September ..

29 September 2020 17:31
Pilpres AS 2020, Para Dukun Peru Beraksi Untuk Menangkan Pilihan Mereka
Dunia

Pilpres AS 2020, Para Dukun ..

29 September 2020 16:07
Kunjungi Zona Demiliterisasi, Menlu Dominic Raab: Inggris Selalu Dukung Perdamaian Korea
Dunia

Kunjungi Zona Demiliterisasi..

29 September 2020 15:35
Nicolas Maduro: Pandemik Covid-19 Perburuk Kesenjangan Sosial Di Dunia
Dunia

Nicolas Maduro: Pandemik Cov..

29 September 2020 15:23
Jelang Debat Presiden Malam Ini, Gedung Putih Yakin Trump Sudah Sangat Siap Dengan Semua Topik
Dunia

Jelang Debat Presiden Malam ..

29 September 2020 15:21
Memaksimalkan Tenaga Lokal, Kuwait Pecat Semua Karyawan Ekspatriat
Dunia

Memaksimalkan Tenaga Lokal, ..

29 September 2020 15:00
Melesat Menuju 5G, Singapura Kumpulkan Ribuan Tenaga Kerja Profesional
Dunia

Melesat Menuju 5G, Singapura..

29 September 2020 14:55