Khamenei: Iran Tidak Akan Bernegosiasi Dengan AS Karena Tidak Mempercayai Trump

Khamenei dalam pidatonya saat Idhul Adha di Teheran, Jumat 31 Juli 2020/Net

Iran semakin tidak mempercayai Amerika Serikat. Meskipun pemerintahan Trump mengatakan pihaknya bersedia untuk berbicara dengan Iran ‘tanpa prasyarat’, tetapi bagi Iran, AS tetap akan melanjutkan kampanye tekanan terhadap Republik Islam.

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei pada Jumat (31/7) mengatakan negaranya tidak akan bernegosiasi dengan AS. Dalam pidato yang disiarkan televisi saat menandai liburan Idul Adha, Khamenei mengatakan AS hanya akan menggunakan pembicaraan untuk tujuan propaganda.

“Amerika akan mendapat manfaat dari pembicaraan, Amerika menggunakan negosiasi dengan kami untuk propaganda seperti negosiasinya dengan Korea Utara," ujar Khamenei, seperti dikutip dari AP, Jumat (31/7). Ia merujuk pada pembicaraan antara Trump dan pemimpin Korea Utara Kim Jong-Un.

Trump secara sepihak menarik Amerika dari perjanjian nuklir antara Iran dan negara-negara Barat pada Mei 2018. Iran kemudian merespons dengan perlahan-lahan meninggalkan hampir setiap aspek perjanjian. Meskipun begitu, pengawas PBB masih bisa akses ke situs-situs nuklirnya.

Trump menyatakan bahwa kesepakatan itu perlu dinegosiasi ulang dan tidak membahas program rudal balistik Iran atau keterlibatannya dalam konflik regional. Sementara itu, anggota kesepakatan nuklir lainnya; Jerman, Prancis, Inggris, China, dan Rusia, berusaha mempertahankannya.

Khamenei mengatakan AS ingin Iran untuk menyerahkan program nuklirnya, fasilitas pertahanan, dan otoritas regional di meja perundingan.

Menurut Khamenei, sanksi ekonomi yang dijatuhkan AS kepada Iran adalah sebuah kejahatan.

"Sanksi tersebut jelas-jelas bertentangan dengan sistem pemerintahan Iran, tetapi (pada kenyataannya) mereka menentang orang-orang Iran di dalam," kata Khamenei.

Sanksi itu juga membuat rakyat Iran menderita akibat jatuhnya ekonomi yang tidak terhindarkan. Rakyat Iran bahkan akan menentang sistem yang berkuasa. Kenaikan tajam harga bensin bersubsidi yang terpakda diberlakukan menyebabkan kerusuhan besar di kota-kota di Iran selama bulan November, di mana Amnesty International mengatakan lebih dari 300 orang tewas dalam bentrokan dengan polisi dan pasukan keamanan.

Teheran belum merilis statistik resmi tentang skala kerusuhan itu, meskipun pada Juni pemerintah mengakui bahwa pasukan keamanan menembak dan membunuh pengunjuk rasa. Seorang anggota parlemen mengatakan 230 orang tewas dalam protes anti-pemerintah.
EDITOR: RENI ERINA
Tag:

Kolom Komentar


Video

BREAKING NEWS: Pasar Cepogo Boyolali Terbakar

Kamis, 17 September 2020
Video

Menguji Erick Thohir dan Jokowi, Kejanggalan Pertamina Gamblang Diurai Ahok

Jumat, 18 September 2020

Artikel Lainnya

Gelar Upacara Rahasia, Alexander Lukashenko Dilantik Jadi Presiden Belarusia
Dunia

Gelar Upacara Rahasia, Alexa..

23 September 2020 18:49
Muhyiddin: Sebelum Pernyataan Anwar Ibrahim Terbukti, Saya PM Malaysia Yang Sah
Dunia

Muhyiddin: Sebelum Pernyataa..

23 September 2020 18:30
Renegosiasi Proyek KF-X/IF-X, Pejabat Korsel Terbang Ke Jakarta
Dunia

Renegosiasi Proyek KF-X/IF-X..

23 September 2020 18:12
Mahathir Mohamad: Dana Pemilu Sabah Lebih Baik Digunakan Untuk Tangani Wabah Covid-19
Dunia

Mahathir Mohamad: Dana Pemil..

23 September 2020 17:44
Anwar Ibrahim Berkoar-koar Bentuk Pemerintahan Baru, Muhyiddin Yassin Masih Adem Ayem
Dunia

Anwar Ibrahim Berkoar-koar B..

23 September 2020 16:52
Mahathir Mohamad: Bukan Kali Pertama Anwar Ibrahim Ingin
Dunia

Mahathir Mohamad: Bukan Kali..

23 September 2020 16:28
Di Sidang PBB Rouhani Kecam AS: Hidup Kami Menjadi Sulit Di Bawah Sanksi, Tapi Lebih Sulit Lagi Jika Tanpa Kemerdekaan
Dunia

Di Sidang PBB Rouhani Kecam ..

23 September 2020 15:28
Wartawan AS Ditemukan Tewas Mencurigakan Dalam Mobil Sewaan Di Turki
Dunia

Wartawan AS Ditemukan Tewas ..

23 September 2020 15:13