Pembatasan Jumlah Jamaah Haji Menambah Panjang Derita Pedagang Ternak Somalia

Kambing milik penggembala di titik air di kota Hudur/Net

Hari Raya Idul Adha biasanya membawa kebahagiaan tersendiri bagi para peternak dan pedagang hewan kurban di Somalia.

Tahun-tahun sebelumnya, mereka biasanya mengekspor jutaan ternak untuk dikonsumsi para jamaah haji. Namun, pandemik virus corona membuat pemerintah Arab Saudi membatasi jumlah jamaah haji.

“Bisnis itu kini memburuk,” kata Yahye Hassan yang bekerja di pasar ternak terbesar Mogadishu di mana pandemik merusak kegiatan perdagangan mereka.

“Efek virus corona sudah jelas. Negara-negara Arab tidak membutuhkan hewan dari Somalia, dan orang-orang nomaden yang akan membawa ternak ke kota untuk diperdagangkan enggan karena takut akan infeksi,” ungkap Hassan.

Seorang pedagang lainnya mengiyakan apa yang dikatakan oleh Hassan yang juga kekurangan pembeli domestik dan asing, sementara pasokan juga mengalami penurunan ketika para penggembala menjauh.

Ibadah haji merupakan salah satu rukun Islam yang diwajibkan bagi semua Muslim yang mampu secara fisik dan finansial, setidaknya sekali dalam seumur hidup mereka.

Pemerintah Kerajaan Arab Saudi telah memutuskan bahwa ibadah haji 1441 Hijriah / 2020 tetap diadakan dengan jumlah jemaah yang sangat terbatas, tak lebih dari 10.000 jemaah haji domestik untuk melakukan haji tahun ini.

Dengan jumlah yang jauh berkurang, maka penjualan hewan ternak di Arab juga mengalami kemerosotan yang signifikan.

Menurut laporan Bank Dunia, permintaan Saudi menyumbang hampir dua pertiga dari ekspor ternak tahunan Somalia. Mereka mencatat bahwa lebih dari lima juta domba, kambing, unta, dan sapi dikirim ke utara dari pelabuhan-pelabuhan Somalia melalui Teluk Aden dan Laut Merah ke Arab Saudi pada 2015.

“Pembatalan Haji memiliki implikasi besar pada kehidupan dan mata pencaharian penduduk Somalia,” kata Ahmed Khalif, direktur Aksi Melawan Kelaparan negara Somalia, seraya menambahkan bahwa penjualan ternak menyumbang sekitar 60 persen dari pendapatan rumah tangga di sebagian besar negara di pedesaan.

“Ini merupakan pukulan bagi rumah tangga pastoralis Somalia khususnya, yang sangat bertahan hidup pada ekspor ternak ke Saudi,” ungkap Khalif.

Hingga tiga perempat dari pendapatan ekspor Somalia berasal dari peternakan, membuat penjualan hewan ke luar negeri menjadi jalur penting bagi ekonomi Somalia. Momen ibadah haji biasanya merupakan waktu terbaik yang dapat diandalkan untuk para penggembala, tetapi tidak untuk tahun ini.

“Ekspor ternak terjadi sepanjang tahun, tetapi mayoritas (70 persen hewan hidup) terjadi selama musim haji ini,” kata Khalif.

Penguapan ekspor berarti menyebabkan kelebihan pasokan di pasar lokal di mana harga telah turun secara dramatis. Unta yang biasanya dijual sekitar 1000 dolar AS kini hanya dihargai setengahnya.

Ini mungkin berita baik untuk sejumlah kecil konsumen kaya raya, tetapi merupakan bencana bagi sebagian besar peternak yang mengandalkan penjualan hewan kurban untuk membeli makanan, membayar hutang, dan menutupi kebutuhan dasar.

Seorang pedagang ternak di kota pelabuhan Eyl, Muse Mohamed, mengatakan yang membuat keadaan semakin buruk adalah bahwa untuk memelihara hewan-hewan itu lebih lama dari yang diperkirakan dengan sumber daya yang terbatas.

“Memelihara ratusan kambing dan domba selama satu tahun, jelas membutuhkan banyak biaya, gaji penjaga. Lalu tahun ini penjualan anjlok karena vrus corona. Ini benar-benar krisis,” katanya.

Penghasilan yang jatuh, meningkatnya biaya hidup, dan hilangnya pasar haji, telah memukul pemilik peternakan seperti Adow Ganey, di kota selatan Hudur.

“Ketika keluarga membutuhkan uang tunai untuk memenuhi kebutuhan harian, kami cukup membawa satu atau dua kambing saja ke pasar. Tetapi, tahun ini segalanya telah berubah. Kami harus membawa banyak kambing, harus menjual banyak sekali kambing-kambing itu untuk bisa mendapatkan uang tunai yang kami butuhkan," katanya sedih.

Bagi beberapa peternak dan pedagang hewan di Somalia, pembatalan ibadah haji menjadi pelengkap penderitaan warga Somalia yang harus hidup dalam konflik dan ketidakstabilan politik selama puluhan tahun. Belum lagi siklus kekeringan yang semakin ketat dan wabah belalang yang terus berlangsung.

Tahun-tahun sebelumnya mereka biasanya mengekspor jutaan ternak untuk dikonsumsi para jamaah haji. Tapi tahun ini benar-benar berbdea ketika pemerintah Arab Saudi telah membatasi jumlah jamaah haji arena kekhawatiran virus corona.
EDITOR: RENI ERINA

Kolom Komentar


Video

Bincang Sehat • Vaksin Covid-19 Pada Lansia

Jumat, 22 Januari 2021
Video

Obrolan Bareng Bang Ruslan • JK, Buat Kejutan Apa di 2024?

Selasa, 26 Januari 2021
Video

Klarifikasi Ambroncius Nababan

Selasa, 26 Januari 2021

Artikel Lainnya

Ancaman Kekerasan Sayap Kanan Membayangi AS Di Bawah Pemerintahan Biden
Dunia

Ancaman Kekerasan Sayap Kana..

28 Januari 2021 08:01
Aparat Keamanan Turki Ringkus 126 Tersangka Terkait Kelompok Militan ISIS Dari 58 Provinsi
Dunia

Aparat Keamanan Turki Ringku..

28 Januari 2021 07:24
Blinken Tinjau Ulang Keputusan Pemerintahan Trump Yang Masukkan Houti Sebagai Organisasi Teroris
Dunia

Blinken Tinjau Ulang Keputus..

28 Januari 2021 07:08
Antony Blinken: Dunia Memperhatikan Amerika Serikat, Menanti Apa Yang Akan Terjadi Selanjutnya
Dunia

Antony Blinken: Dunia Memper..

28 Januari 2021 06:35
YouTube Blokir Tujuh Akun Propaganda Pemberontak Houthi
Dunia

YouTube Blokir Tujuh Akun Pr..

28 Januari 2021 06:22
Ekspor Indonesia Ke China Melonjak Di Tahun 2020, Ini Rinciannya
Dunia

Ekspor Indonesia Ke China Me..

28 Januari 2021 00:09
China Dalami Laporan Penangkapan Awak Kapal Di Indonesia
Dunia

China Dalami Laporan Penangk..

27 Januari 2021 22:42
Lebih Efektif Deteksi Covid-19, China Mulai Gunakan Tes Swab Anal
Dunia

Lebih Efektif Deteksi Covid-..

27 Januari 2021 17:46