'Flu Ringan' Presiden Bolsonaro Sudah Merenggut 100 Ribu Nyawa Warga Brasil

Penghormatan kepada korban meninggal akibat Covid-19 di pantai Copacabana, Brasil, pada Sabtu, 8 Agustus 2020/Net

Wabah Covid-19 kembali mencatatkan sejarah buruk bagi Brasil. Setidaknya ada 100 ribu nyawa melayang akibat terinfeksi virus corona baru atau SARS-CoV-2. Itu adalah angka yang dikonfirmasi.

Peringatan suram tersebut ditandai dengan pemasangan salib dan pelepasan 1.000 balon udara berwarna merah sebagai penghormatan kepada para korban Covid-19 oleh sebuah kelompok non-pemerintah, Rio de Paz, di pantai Copacabana, Sabtu pagi (8/8) waktu Brasil.

Melansir Associated Press, tidak ada tanda-tanda tren penurunan infeksi di Brasil meski sudah lima bulan sejak melaporkan kasus Covid-19 pertamanya.

Pada Sabtu, Kementerian Kesehatan melaporkan 905 kematian dalam sehari, sehingga totalnya menjadi 100.477. Sementara jumlah infeksi mencapai 3.012.412 kasus.

Negara dengan 210 juta penduduk tersebut melaporkan lebih dari 1.000 kematian setiap harinya sejak Mei.

"Sangat menyedihkan. Kami mencapai tanda itu (100 ribu kematian) dan banyak orang tampaknya tidak melihatnya. Mereka bukan hanya angka tapi orang. Kematian menjadi normal," ujar seorang sopir taksi berusia 56 tahun, Marcio do Nascimento Silva.

Silva telah kehilangan anak-anaknya karena virus yang diidentifikasi pertama kali di Wuhan, China itu dan ikut dalam aksi penghormatan di Copacabana.

Di tengah kemuraman warga Brasil, Presiden Jair Bolsonaro dan pendukungnya justru kembali membuat pernyataan yang memantik api kemarahan.

"Ada banyak angka yang pantas diungkapkan. HAMPIR 3 JUTA DALAM PEMULIHAN. SALAH SATU KEMATIAN TERENDAH PER JUTAAN DI ANTARA BANGSA-BANGSA BESAR," cuit akun resmi sekretariat Bolsonaro.

Bolsonaro sendiri membalas cuitan tersebut dengan emoji jabat tangan.

Sejak awal wabah, Bolsonaro telah meremehkan Covid-19 dengan menyebutnya sebagai "flu ringan".

Ia, yang telah terinfeksi virus corona, mengaku berhasil sembuh dengan obat hidroksiklorokuin yang secara ilmiah tidak terbukti efektif mengobati Covid-19.

Di tengah lonjakan kasus, Bolsonaro masih menolak adanya pembatasan sosial dan mendukung diteruskannya kegiatan ekonomi.

"Pemerintah mengatakan itu (Covid-19) 'flu ringan'. Tidak peduli. Orang-orang tidak bersalah meninggal karena kelalaian dan kurangnya persiapan dari pemerintah," ujar Viviane Melo da Silva berusia 47 tahun yang kehilangan ibunya, Esther Melo da Silva pada 9 April karena Covid-19.

Kolom Komentar


Video

#KamiMasihAda Pemkot Fasilitasi Launching Album 30 Musisi Semarang

Kamis, 24 September 2020
Video

Tanya Jawab Cak Ulung - Ancaman dan Peluang Pilkada

Kamis, 24 September 2020

Artikel Lainnya

Tersinggung, Hongaria Desak Petinggi Uni Eropa Mengundurkan Diri
Dunia

Tersinggung, Hongaria Desak ..

29 September 2020 18:00
CDC: Maret Hingga September Ada 280 Ribu Anak Usia Sekolah Di AS Yang Terinfeksi Virus Corona
Dunia

CDC: Maret Hingga September ..

29 September 2020 17:31
Pilpres AS 2020, Para Dukun Peru Beraksi Untuk Menangkan Pilihan Mereka
Dunia

Pilpres AS 2020, Para Dukun ..

29 September 2020 16:07
Kunjungi Zona Demiliterisasi, Menlu Dominic Raab: Inggris Selalu Dukung Perdamaian Korea
Dunia

Kunjungi Zona Demiliterisasi..

29 September 2020 15:35
Nicolas Maduro: Pandemik Covid-19 Perburuk Kesenjangan Sosial Di Dunia
Dunia

Nicolas Maduro: Pandemik Cov..

29 September 2020 15:23
Jelang Debat Presiden Malam Ini, Gedung Putih Yakin Trump Sudah Sangat Siap Dengan Semua Topik
Dunia

Jelang Debat Presiden Malam ..

29 September 2020 15:21
Memaksimalkan Tenaga Lokal, Kuwait Pecat Semua Karyawan Ekspatriat
Dunia

Memaksimalkan Tenaga Lokal, ..

29 September 2020 15:00
Melesat Menuju 5G, Singapura Kumpulkan Ribuan Tenaga Kerja Profesional
Dunia

Melesat Menuju 5G, Singapura..

29 September 2020 14:55