Farah.ID
Farah.ID

Sejumlah Gajah Zimbabwe Ditemukan Tewas Misterius, Ingatkan Peristiwa Serupa Di Botswana

LAPORAN: RENI ERINA
  • Senin, 31 Agustus 2020, 12:33 WIB
Sejumlah Gajah Zimbabwe Ditemukan Tewas Misterius, Ingatkan Peristiwa Serupa Di Botswana
Gajah di Zimbabwe banyak yang mati/Net
Dinas Taman Margasatwa Nasional Zimbabwe tengah menyelidiki kematian misterius sebelas gajah di sebuah hutan di bagian barat negara itu.

Bangkai gajah-gajah tersebut ditemukan pada hari Jumat (28/8) di Hutan Pandamasue, yang terletak di antara Taman Nasional Hwange dan Air Terjun Victoria.

"Sampel darah telah dibawa ke laboratorium untuk dianalisis guna menentukan penyebab kematian mereka," kata Tinashe Farawo, juru bicara Otoritas Pengelolaan Taman dan Margasatwa Nasional Zimbabwe, seperti dikutip dari AP, Senin (31/8).

Karena gajah yang ditemukan ditemukan mati itu masih memiliki gading yang utuh di tubuh mereka, maka tuduhan pada pemburu sebagai penyebab kematiannya kemudian dikesampingkan.

Dalam beberapa tahun terakhir, para pemburu di Zimbabwe telah meracuni puluhan gajah dan kemudian mengambil gadingnya untuk dijual kepada pedagang ilegal.

"Kami hanya bisa memastikan penyebab kematian setelah tes. Tapi kami telah mengesampingkan keracunan sianida," kata Farawo.

"Hanya gajah yang terpengaruh, tidak ada burung nasar atau hewan lain yang terpengaruh. Tes awal menunjukkan bahwa itu bukan sianida. Kami juga mengesampingkan pemburu karena gadingnya masih utuh," tambahnya.

Kematian misterius gajah di Zimbabwe tampak mirip dengan kematian 275 gajah di negara tetangga mereka Botswana pada bulan lalu. Hingga kini para ilmuwan masih menyelidiki kematian gajah di daerah Delta Okavango Botswana dan dugaan terhadap perburuan, keracunan, dan antraks telah disingkirkan.

Botswana memiliki populasi gajah terbesar di dunia, diperkirakan jumlahnya ada sekitar 156 ribu ekor sementara Zimbabwe ada di posisi kedua Zimbabwe dengan populasi 85 ribu ekor gajah.

Tahun lalu sekitar 200 gajah di Zimbabwe mati karena kelaparan akibat kekeringan di negara itu.
EDITOR: RENI ERINA

ARTIKEL LAINNYA