Bersitegang Dengan China, AS Jual Kompleks Tinggal Staf Konsulatnya Di Hong Kong

Kompleks tinggal staf Konsulat AS di Hong Kong/Net

Amerika Serikat (AS) memicu ketegangan baru dengan menjual kompleks tinggal para staf konsulatnya di Hong Kong di tengah perselisihan dengan China.

Kompleks staf konsulat yang berada di salah satu lingkungan paling eksklusif di Hong Kong tersebut terjual dengan harga 2,57 miliar dolar HK atau Rp 4,8 triliun (Rp 1.890/dolar HK).

Perusahaan jasa dan investasi real estate berbasis di Amerika, CBRE Group pada Kamis (10/9) mengungkap, harga tersebut lebih rendah dari perkiraan Vincorn Consulting senilai 3,2 miliar dolar HK dan Appraisal senilai 3,5 miliar dolar HK.

"Properti itu dijual dengan kepemilikan kosong, memberi potensi untuk mengembangkan perumahan mewah dengan pemandangan Teluk Deep Water," ujar CBRE dalam pernyataannya.

Melansir The Strait Times, pembelian kompleks tersebut dilakukan oleh Hang Lung Properties dan telah dikonfirmasi oleh jurubicaranya.

Kompleks staf konsulat AS di Hong Kong sendiri berada di Shouson Hill, salah satu lingkungan paling eksklusif. Beberapa taipan terkaya di Hong Kong tinggal di sana.

Situs Shouson Hill sendiri mengungkap, kompleks yang berada di sisi selatan Pulau Hong Kong itu memiliki enam gedung apartemen dengan kepadan rendah yang tersebar di hampir 8.825 meter persegi.

Berdasarkan catatan di Kantor Pendaftaran Tanah, pemerintah AS membeli properti tersebut pada 1948.

Seorang perwakilan pemerintah AS pada Rabu (9/9) mengatakan, keputusan untuk menjual properti adalah bagian dari program reinvestasi global dan sebagian dari hasil transaksi akan diinvestasikan kembali ke beberapa properti milik pemerintah AS di Hong Kong.

"Itu tidak akan mempengaruhi kehadiran, staf, atau operasi kami dengan cara apapun," ujar jurubicara tersebut.

Namun penjualan tersebut dilakukan di tengah upaya Washington untuk memindahkan perusahaan-perusahaan AS dari China ke Amerika. Termasuk di tengah keresahan atas UU keamanan nasional yang diberlakukan Beijing di Hong Kong.

Survei Kamar Dagang AS di Hong Kong pada pekan lalu menemukan, sekitar 40 persen dari 154 perusahaan yang menjadi anggotanya mempertimbangkan untuk meninggalkan Hong Kong.

Kolom Komentar


Video

Wanita Terbakar Dalam Mobil di Sukoharjo, Diduga Korban Pembunuhan

Rabu, 21 Oktober 2020
Video

DENDI RAMADHONA DAN PESAWARAN

Rabu, 21 Oktober 2020
Video

Diduga Melanggar, Bawaslu Panggil Calon Bupati Semarang

Kamis, 22 Oktober 2020

Artikel Lainnya

Izzat al-Douri Si Manusia Es Tangan Kanan Mendiang Saddam Hussein Dan Buronan AS, Meninggal Dunia
Dunia

Izzat al-Douri Si Manusia Es..

27 Oktober 2020 06:59
Dewan Muslim: Islam Tidak Sedang Dianiaya Di Prancis, Mereka Bebas Jalankan Ibadah
Dunia

Dewan Muslim: Islam Tidak Se..

27 Oktober 2020 06:49
Kim Jong Un: Kemenangan Besar Yang Diraih DPRK dan China Adalah Takdir Mereka Sebagai Satu Kesatuan Suka Dan Duka
Dunia

Kim Jong Un: Kemenangan Besa..

27 Oktober 2020 06:39
Serukan Boikot Produk Prancis, Presiden Erdogan Dikeroyok Pemimpin Senior Uni Eropa
Dunia

Serukan Boikot Produk Pranci..

27 Oktober 2020 06:15
Dukung Aksi Pembunuhan Samuel Paty Sebagai Konsekuensi Hina Nabi, Anggota Parlemen Tunisia Dituntut Mundur
Dunia

Dukung Aksi Pembunuhan Samue..

27 Oktober 2020 05:49
Raja Malaysia Tolak Usulan Keadaan Darurat, PM Muhyiddin Gagal Dapat 'Angin Segar' Untuk Anggaran Yang Akan Datang
Dunia

Raja Malaysia Tolak Usulan K..

26 Oktober 2020 22:19
BKSAP DPR: Pemerintah Harus Panggil Duta Besar Prancis Untuk Kecam Sikap Presiden Marcon
Dunia

BKSAP DPR: Pemerintah Harus ..

26 Oktober 2020 22:11
Kremlin Risih Joe Biden Jadikan Rusia Sebagai Ancaman Nomor Satu AS
Dunia

Kremlin Risih Joe Biden Jadi..

26 Oktober 2020 19:02