Penandatanganan Kesepakatan Dua Negara Arab Dengan Israel, Trump: Kami Mengubah Sejarah, Menandai Fajar Timur Tengah Baru

Penandatanganan kesepakatan UEA dan Bahrain dengan Israel/Net

Gedung Putih malam tadi semarak dengan kehadiran pemimpin-pemimpin dunia. Gedung itu menjadi saksi sejarah negara-negara Arab menjalin hubungan dengan Israel dalam kurun waktu 25 tahun sejak dilakukan oleh Yordania pada 1994.

Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain menandatangani kesepakatan normalisasi hubungan dengan Israel, Selasa (15/9) waktu setempat yang difasiltasi oleh Amerika Serikat.

Israel diwakili oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, UEA diwakili Menteri Luar Negeri Sheikh Abdullah bin Zayed al-Nahyan dan Bahrain diwakili oleh Menteri Luar Negeri Abdullatif Al Zayani.

Penandatanganan yang berlangsung di South Lawn Gedung Putih berjalan penuh khidmat, di mana sebelumnya Donald Trump menyampaikan pidatonya dari atas podium lalu berfoto bersama pemimpin negara-negara Arab dengan disaksikan ratusan undangan yang hadir di halaman Gedung Putih.

Trump berbicara dengan nada riang dan berseri-seri dari balkon South Lawn. "Kami di sini sore ini untuk mengubah jalannya sejarah," kata Trump, seperti dikutip dari Reuters, Rabu (16/9).

"Setelah beberapa dekade, perpecahan dan konflik, kami menandai fajar Timur Tengah baru," lanjutnya.

Trump meyakini penandatanganan 'Abraham Accords' akan mendorong negara Arab maupun kawasan Teluk lainnya mengikuti langkah UEA dan Bahrain menjalin hubungan diplomatik dengan Israel yang merupakan sekutu Amerika Serikat.

Daam kesempatan itu dia juga meyakini akan banyak negara lain yang mengikuti jejak UEA dan Bahrain.

"Setidaknya kami lima atau enam negara untuk menandatangani kesepakatan dengan Israel sesegera mungkin," ujarnya.

Normalisasi hubungan antara UEA, Bahrain dan Israel menuai kecaman dari sejumlah negara-negara Islam, termasuk Iran.

Teheran geram dengan langkah kedua negara Arab yang dianggap mengkhianati perjuangan rakyat Palestina.

Menteri Dalam Negeri Bahrain, Rashid bin Abdullah Al Khalifa mengatakan kesepakatan normalisasi dengan Israel bukanlah langkah mengkhianati perjuangan rakyat Palestina. Akan tetapi sebagai upaya Bahrain membentengi diri dari ancaman Iran.

"Ini bukan mengabaikan perjuangan Palestina, ini memperkuat keamanan warga Bahran dan stabilitas ekonomi mereka," kata Rashid. "Palestina adalah tujuan luas kami di jazirah Arab, maka dalam negeri Bahrain adalah tujuan utama kami."
EDITOR: RENI ERINA

Kolom Komentar


Video

BREAKING NEWS: Pasar Cepogo Boyolali Terbakar

Kamis, 17 September 2020
Video

Menguji Erick Thohir dan Jokowi, Kejanggalan Pertamina Gamblang Diurai Ahok

Jumat, 18 September 2020

Artikel Lainnya

Gelar Upacara Rahasia, Alexander Lukashenko Dilantik Jadi Presiden Belarusia
Dunia

Gelar Upacara Rahasia, Alexa..

23 September 2020 18:49
Muhyiddin: Sebelum Pernyataan Anwar Ibrahim Terbukti, Saya PM Malaysia Yang Sah
Dunia

Muhyiddin: Sebelum Pernyataa..

23 September 2020 18:30
Renegosiasi Proyek KF-X/IF-X, Pejabat Korsel Terbang Ke Jakarta
Dunia

Renegosiasi Proyek KF-X/IF-X..

23 September 2020 18:12
Mahathir Mohamad: Dana Pemilu Sabah Lebih Baik Digunakan Untuk Tangani Wabah Covid-19
Dunia

Mahathir Mohamad: Dana Pemil..

23 September 2020 17:44
Anwar Ibrahim Berkoar-koar Bentuk Pemerintahan Baru, Muhyiddin Yassin Masih Adem Ayem
Dunia

Anwar Ibrahim Berkoar-koar B..

23 September 2020 16:52
Mahathir Mohamad: Bukan Kali Pertama Anwar Ibrahim Ingin
Dunia

Mahathir Mohamad: Bukan Kali..

23 September 2020 16:28
Di Sidang PBB Rouhani Kecam AS: Hidup Kami Menjadi Sulit Di Bawah Sanksi, Tapi Lebih Sulit Lagi Jika Tanpa Kemerdekaan
Dunia

Di Sidang PBB Rouhani Kecam ..

23 September 2020 15:28
Wartawan AS Ditemukan Tewas Mencurigakan Dalam Mobil Sewaan Di Turki
Dunia

Wartawan AS Ditemukan Tewas ..

23 September 2020 15:13