Retas Ratusan Perusahaan Dunia, Tujuh Peretas Dari China Dan Malaysia Didakwa AS

Ilustrasi/Net

Sebanyak lima warga China dan dua warga Malaysia didakwa di Amerika Serikat (AS) karena diduga melakukan operasi peretasan besar-besaran di berbagai penjuru dunia.

Departemen Kehakiman AS pada Rabu (16/9) menyebut, mereka sudah menjalani opersi peretasan global selama setidaknya enam tahun terakhir.

Mereka diduga sudah meretas komputer dari ratusan perusahaan dan penyelenggara di seluruh dunia untuk mengumpulkan identitas, membajak sistem untuk tebusan, dan menggunakan ribuan komputer dari jarak jauh untuk mendapatkan cryptocurrency seperti bitcoin

Dilapokran AFP, tiga dari tersangka China beroperasi di Chengdu 404, sebuah perusahaan yang berbasis di Sichuan yang konon menawarkan layanan keamanan jaringan untuk bisnis lain. Dua warga negara China lainnya meruapakan mantan pekerja Chengdu 404.

Sementara itu, dua warga Malaysia, didakwa melakukan peretasan ke perusahaan game besar untuk mencuri rahasia dan "artefak game", di mana kredit di dalam game dipergadangkan.

Ketujuhnya yang dikenal sebagai organisasi peretas "APT41" merupakan orang yang telah dicari oleh tim ahli keamanan siber. Disebut organisasi karena mereka memiliki alat dan teknik yang sama.

Dari surat dakwaan, tidak diidentifikasi apaka aksi peretasan tersebut juga melibatkan pemerintah China.

Namun, menurut pengajuan pengadilan, salah satu peretas Changdu 404, Jiang Lizhi, membual kepada rekannya pada 2012 bahwa ia dilindungi oleh Kementerian Keamanan Negara China. Ia jga tidak dapat meretas di dalam negeri.

"Beberapa dari pelaku kriminal ini percaya bahwa hubungan mereka dengan China memberi mereka lisensi gratis untuk meretas dan mencuri di seluruh dunia," ujar jaksa federal Michael Sherwin dalam sebuah pernyataan.

Meski begitu, tidak ada indikasi motivasi politik dalam aktivitas peretasan mereka, meski mereka mendapatkan akses ke sistem komputer pemerintah di India dan Vietnam.

Pda 2018, Chengdu 404 menggelar program untuk mengumpulkan informasi tentang orang-orang yang terlibat dalam gerakan demokrasi Hong Kong, pada grup media AS yang melaporkan perlakuan terhadap minoritas Uighur di wilayah Xinjiang China, dan pada seorang biksu Buddha Tibet.

Ketujuh orang tersebut menghadapi berbagai tuduhan termasuk penipuan komputer dan kawat, pencurian identitas, pencucian uang, dan pemerasan.

Kelima warga China itu masih buron, tetapi dua warga Malaysia itu ditangkap di Malaysia pada Senin (14/9) dan Washington sedang mengupayakan ekstradisi mereka.

Kolom Komentar


Video

#KamiMasihAda Pemkot Fasilitasi Launching Album 30 Musisi Semarang

Kamis, 24 September 2020
Video

Tanya Jawab Cak Ulung - Ancaman dan Peluang Pilkada

Kamis, 24 September 2020

Artikel Lainnya

Nicolas Maduro: Solidaritas Venezuela Untuk Palestina Tidak Pernah Goyah
Dunia

Nicolas Maduro: Solidaritas ..

30 September 2020 00:56
Nagorno-Karabakh Semakin Membara, Rusia Desak Turki Dukung Gencatan Senjata
Dunia

Nagorno-Karabakh Semakin Mem..

30 September 2020 00:36
Presiden Venezuela Tegaskan Itikad Baik Penyelesaian Damai Sengketa Guayana Esequiba
Dunia

Presiden Venezuela Tegaskan ..

30 September 2020 00:25
Di Tengah Polemik, TikTok Rilis Panduan Untuk Pemilu AS 2020
Dunia

Di Tengah Polemik, TikTok Ri..

30 September 2020 00:09
Menhan Taiwan: Tidak Ada Tanda-tanda China Siapkan Perang
Dunia

Menhan Taiwan: Tidak Ada Tan..

29 September 2020 23:55
Sang Juru Damai, Emir Kuwait Sheikh Sabah Meninggal Dunia Pada Usia 91 Tahun
Dunia

Sang Juru Damai, Emir Kuwait..

29 September 2020 23:11
Tersinggung, Hongaria Desak Petinggi Uni Eropa Mengundurkan Diri
Dunia

Tersinggung, Hongaria Desak ..

29 September 2020 18:00
CDC: Maret Hingga September Ada 280 Ribu Anak Usia Sekolah Di AS Yang Terinfeksi Virus Corona
Dunia

CDC: Maret Hingga September ..

29 September 2020 17:31