Satu Tahun Berlalu, China Baru Ungkap Wabah Bakteri Akibat Kebocoran Pabrik Biofarmasi

Tampilan mikroskop bakteri brucella yang bertanggung jawab atas brucellosis, juga dikenal sebagai Demam Malta/CNN

Tahun 2020 ini agaknya diwarnai dengan sejumlah kejadian tidak terduga. Setelah dunia dibuat "terkejut" dengan pandemik virus corona atau Covid-19 pada awal tahun ini, kini ada kabar bahwa China mengkonfirmasi telah ada ribuan orang di negeri tirai bambu yang telah dites positif mengidap bakteri.

Komisi Kesehatan Lanzhou, yakni ibukota provinsi Gansu, China memastikan bahwa ada 3.245 orang yang terjangkit penyakit brucellosis. Penyakit ini sering kali disebabkan oleh kontak dengan hewan ternak yang membawa bakteri brucella.

Dikabarkan CNN (Kamis, 17/9), wabah ini terjadi lantaran adanya kebocoran di sebuah perusahaan biofarmasi China yang terjadi pada tahun lalu.

Keterangan yang sama menyebut bahwa ada 1.401 orang lainnya telah dites mengalami masa awal positif penyakit tersebut. Sejauh ini tidak ada korban jiwa yang dilaporkan. Namun secara total, pihak berwenang telah menguji 21.847 orang dari 2,9 juta penduduk kota.

Menurut keterangan komisi kesehatan kota tersebut, wabah bakteri yang terjadi di Lanzhou ini berasal dari dari kebocoran di pabrik farmasi biologis Zhongmu Lanzhou, yang terjadi antara akhir Juli hingga akhir Agustus tahun lalu.

Saat memproduksi Vaksin Brucella untuk hewan, pabrik menggunakan disinfektan dan pembersih kadaluwarsa. Hal ini menyebabkan tidak semua bakteri dibasmi dalam limbah gas.

Gas limbah yang terkontaminasi ini kemudian membentuk aerosol yang mengandung bakteri dan bocor ke udara, terbawa angin ke Institut Penelitian Hewan Lanzhou, tempat wabah pertama kali melanda.

Orang-orang di institut tersebut mulai melaporkan infeksi pada bulan November dan sejak saat itu laporan infeksi pun dengan cepat meningkat.

Kemudian pada akhir Desember tahun lalu, setidaknya 181 orang di institut itu telah terinfeksi brucellosis. Pasien yang terinfeksi lainnya termasuk mahasiswa dan anggota fakultas Universitas Lanzhou.

Wabah itu bahkan menyebar ke provinsi Heilongjiang, di ujung paling timur laut negara itu, di mana 13 kasus positif telah bekerja di lembaga dokter hewan pada Agustus tahun lalu.

Masih merujuk pada keterangan dari Komisi Kesehatan Lanzhou, beberapa bulan setelah wabah terjadi, pejabat provinsi dan kota meluncurkan penyelidikan kebocoran di pabrik.

Kemudian pada bulan Januari 2020, pihak berwenang telah mencabut izin produksi vaksin untuk pabrik tersebut, dan mencabut nomor persetujuan produk untuk dua vaksin Brucellosis buatan pabrik tersebut.

Bukan hanya itu, tujuh nomor pengesahan produk obat hewan juga dibatalkan di pabrik tersebut.

Lalu pada bulan Februari lalu, pihak pabrik mengeluarkan permintaan maaf kepada publik dan mengatakan telah menghukum berat delapan orang yang dianggap bertanggung jawab atas insiden tersebut.

Keterangan dari pihak pabrik menyebutkan bahwa mereka akan bekerjasama dengan otoritas lokal dalam upaya tanggapan dan pembersihan, dan berkontribusi pada program kompensasi bagi mereka yang terkena dampak.

Profesor kedokteran hewan di Universitas Yangzhou Zhu Guoqiang mengatakan kepada South China Morning Post Hong Kong mengatakan bahwa ini adalah insiden yang serius.

"Ini salah satu insiden paling serius karena banyaknya orang yang terlibat," ujarnya seperti dikabarkan ulang Express pada Kamis (17/9).

"Saya tidak yakin bakteri yang mereka temui di udara buangan dari proses produksi vaksin sama beracunnya dengan yang ditemukan pada pasien yang berurusan dengan hewan yang terinfeksi," tambahnya.

Sementara itu, menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat, penyakit yang juga dikenal sebagai demam Malta atau demam Mediterania ini dapat menyebabkan gejala termasuk sakit kepala, nyeri otot, demam, dan kelelahan.

Meskipun gejala ini mungkin mereda, namun beberapa gejala bisa menjadi kronis atau tidak pernah hilang, seperti radang sendi atau pembengkakan pada organ tertentu.

Sejauh ini, penularan penyakit itu dari manusia ke manusia sangat jarang terjadi. Sebaliknya, kebanyakan orang terinfeksi dengan makan makanan yang terkontaminasi atau menghirup bakteri. Hal inilah yang terjadi di Lanzhou.

Brucellosis sendiri adalah penyakit bakteri menular yang menyebar dari hewan ke manusia. Ini biasanya terjadi pada anjing, domba, sapi, kambing dan babi.

Komisi Kesehatan Lanzhou dalam laporannya awal pekan ini mengatakan bahwa 11 rumah sakit umum akan memberikan pemeriksaan rutin dan gratis bagi pasien yang terinfeksi. Laporan tersebut tidak memberikan rincian tambahan tentang kompensasi untuk pasien.

Kolom Komentar


Video

DIALOG JALAN SUTERA - Buka Bukaan Hubungan Indonesia China

Selasa, 13 Oktober 2020
Video

RMOL WORLD VIEW - 40 Tahun Yang Hangat, Bela Sawit Saling Menguat

Selasa, 13 Oktober 2020
Video

BINCANG SEHAT - Siap Hadapi Musim Hujan Di Tengah Pandemi Covid

Rabu, 14 Oktober 2020

Artikel Lainnya

Pekan Industri Kreatif, Tempat Anak Muda Indonesia Dan Taiwan Berbagi Budaya Dan Kreativitas
Dunia

Pekan Industri Kreatif, Temp..

19 Oktober 2020 20:41
Partai Evo Morales Hampir Pasti Menang Pemilu, Nicolas Maduro: Kemenangan Besar Untuk Bolivia
Dunia

Partai Evo Morales Hampir Pa..

19 Oktober 2020 20:39
Militer India Tangkap Seorang Tentara Pembebasan Rakyat China Di Perbatasan Ladakh
Dunia

Militer India Tangkap Seoran..

19 Oktober 2020 19:43
Pengamat Internasional: NU Berperan Penting Untuk Perdamaian Afghanistan
Dunia

Pengamat Internasional: NU B..

19 Oktober 2020 19:11
Muncul Klaster Covid-19 Di Antara Para Lansia, Korea Selatan Buru-buru Tes Massal
Dunia

Muncul Klaster Covid-19 Di A..

19 Oktober 2020 19:08
Dua Kemungkinan Resolusi Konflik Untuk Afghanistan
Dunia

Dua Kemungkinan Resolusi Kon..

19 Oktober 2020 18:20
Di Vietnam, PM Jepang Bahas Laut China Selatan Hingga Kerja Sama Anti-Teror
Dunia

Di Vietnam, PM Jepang Bahas ..

19 Oktober 2020 17:08
Second Track Diplomacy, Menyorot Peran Strategis NU Dalam Proses Perdamaian Di Afghanistan
Dunia

Second Track Diplomacy, Meny..

19 Oktober 2020 16:36