Keluarga Korban Virus Corona Wuhan Bersedih, China Tolak Tuntutan Hukum Covid-19

Pengujian terhadap penduduk Kota Wuhan dilakukan di berbagai tempat/Net

Pandemik Covid-19 yang menimpa dunia menjadi mimpi buruk bagi semua warga yang kehilangan sanak keluarganya. Zhong Hanneng, seorang pensiunan warga Wuhan, China, hingga saat ini tidak bisa melupakan bagaimana dia harus kehilangan putranya ketika virus itu merenggut buah hatinya pada Februari lalu.

Sama seperti warga lainnya, Zhong pun menggugat pemerintah setempat. Dia bersama warga lainnya yang kehilangan buah hati, keluarga, sanak saudara, mengajukan gugatan, menyalahkan pemerintah atas pandemik Covid-19.

Kesedihan Zhong dan warga lainnya bertambah manakala gugatan hukum mereka tiba-tiba ditolak. Menurut orang-orang yang terlibat dalam pengajuan gugatan, puluhan orang lainnya menghadapi tekanan dari pihak berwenang agar tidak mengajukan gugatan ke pemerintah. Para pengacara juga diperingatkan agar tidak membantu mereka.

Keluarga Zhong menuduh pemerintah kota Wuhan dan provinsi Hubei menyembunyikan wabah ketika pertama kali muncul di sana akhir tahun lalu, tiak segera memberikan tanggapan cepat dan respon yang terbaik.

"Mereka mengatakan epidemi adalah bencana alam. Tapi akibat serius ini adalah ulah manusia, dan Anda perlu menemukan siapa yang harus disalahkan," kata Zhong, yang berusia 67.

"Keluarga kami hancur. Saya tidak akan pernah bisa bahagia lagi," katanya lagi, seperti dikutip AFP, Jumat (18/9)

Zhong dan warga lainnya, lewat pengacara mereka mengajukan lima tuntutan hukum ke Pengadilan Menengah Wuhan. 

Di antaranya mereka masing-masing menuntut sekitar dua juta yuan, sekitar 295.000 dolar AS sebagai ganti rugi dan permintaan maaf publik.

Pengadilan telah menolak gugatan atas dasar prosedural yang tidak ditentukan, kata Yang Zhanqing, seorang aktivis veteran China yang sekarang berada di AS.

Yang, yang mengoordinasikan dua lusin pengacara di China yang diam-diam menasihati keluarga, mengatakan penolakan tersebut datang melalui panggilan telepon singkat -bukan melalui penjelasan tertulis resmi, seperti yang diwajibkan secara hukum- tampaknya untuk menghindari jejak kertas.

Menurut Zhong, pada akhir Januari, penularan virus corona menyebar dengan cepat di Wuhan, tetapi para pejabat masih belum mengeluarkan peringatan di seluruh kota. Mereka seolah menutupi wabah itu.

Dengan semakin dekatnya festival Tahun Baru Imlek, Zhong dan putranya Peng Yi�"seorang guru sekolah dasar berusia 39 tahun�"dengan senang hati berbelanja di toko-toko yang penuh sesak. Jutaan orang lainnya meninggalkan Wuhan untuk liburan, dan itu telah membawa infeksi global.
EDITOR: RENI ERINA

Kolom Komentar


Video

Sebelum Mbak You, Arief Poyuono Sudah Ramalkan Kalabendu

Jumat, 15 Januari 2021
Video

BINCANG SEHAT • Memandang Pandemi Dari Kacamata Relawan

Jumat, 15 Januari 2021
Video

RMOL World View • Menjaga Gawang Pertahanan Indonesia

Senin, 18 Januari 2021

Artikel Lainnya

Argentina Diguncang Gempa Berkekuatan 6,8 M, Gubernur Sergio Unac Minta Warga Tetap tenang
Dunia

Argentina Diguncang Gempa Be..

19 Januari 2021 16:53
Kolombia Akan Usir WNA Yang Gelar Pesta Di Tengah Pembatasan Covid-19
Dunia

Kolombia Akan Usir WNA Yang ..

19 Januari 2021 16:01
Mantan PNS Thailand Divonis 43 Tahun Penjara Usai Kritik Kerajaan
Dunia

Mantan PNS Thailand Divonis ..

19 Januari 2021 15:51
Filipina Dinyatakan Terbebas Dari Flu Burung H5N6
Dunia

Filipina Dinyatakan Terbebas..

19 Januari 2021 15:00
Ikhwanul Muslimin Kecam Keputusan Pemerintah Mesir Sita Aset Milik Kelompoknya: Ini Balas Dendam Bermotif politik
Dunia

Ikhwanul Muslimin Kecam Kepu..

19 Januari 2021 14:34
Nahas, 15 Buruh Migran Tewas Tertindih Truk Ketika Tidur Di Trotoar
Dunia

Nahas, 15 Buruh Migran Tewas..

19 Januari 2021 14:27
Siap Tangkis Serangan China, Taiwan Gelar Latihan Pertahanan Di Pangkalan Tentara Hukou
Dunia

Siap Tangkis Serangan China,..

19 Januari 2021 14:10
WHO Kecam Pembuat Vaksin Yang Prioritaskan Keuntungan Di Tengah Pandemi
Dunia

WHO Kecam Pembuat Vaksin Yan..

19 Januari 2021 14:01