Kopi Timur Mobile
Farah.ID
Kopi Timur
Farah.ID

Israel: Sebenarnya Penguncian Ini Untuk Apa?

LAPORAN: RENI ERINA
  • Jumat, 18 September 2020, 17:29 WIB
Israel: Sebenarnya Penguncian Ini Untuk Apa?
Jalan-jalan yang sepi di Kota Bnei Brak, Israel/Net
Ini adalah tahun baru Rosh Hashanah yang murung bagi Israel. Di tengah ekspektasi kerugian keuangan yang serius bagi banyak bisnis dan aksi protes massa yang menentang beberapa kebijakan, pemerintah Israel kembali memberlakukan penguncian. Hal ini harus dilakukan karena angka kasus semakin meninggi setiap harinya.

Dikatakan langkah ini harus dilakukan untuk kepentingan dan kebutuhan bersama. Kepentingan apa? Kebutuhan yang bagaimana? Untuk kesehatan bangsa, atau untuk realitas sosial dan politik Israel yang rumit?

Sekitar 7.000 polisi dan tentara, didukung oleh personel kotamadya setempat, ditempatkan di seluruh negeri untuk menegakkan penutupan yang dimulai pukul 2 siang pada Jumat (18/9) dan akan berlangsung setidaknya selama tiga minggu.

Menjelang dimulainya penguncian, Kementerian Kesehatan merilis data yang menunjukkan bahwa tingkat infeksi tetap tinggi untuk ukuran populasi Israel, dengan 5.238 kasus teridentifikasi pada Kamis -membuat negara itu berada di urutan teratas daftar global infeksi harian per kapita.

Lockdown umumnya akan membuat orang Israel berada dalam jarak satu kilometer dari rumah mereka selama musim liburan Yahudi, dengan daftar pengecualian yang panjang -mulai dari bekerja dan berbelanja kebutuhan pokok hingga berolahraga dan membantu orang tua. Sekolah dan sebagian besar toko akan tutup, dan pertemuan besar serta semua kegiatan rekreasi akan dilarang. Perjalanan antar kota akan dibatasi.

Meskipun pembatasan tidak seketat beberapa yang diberlakukan selama penguncian nasional pertama pada bulan Maret, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu memperingatkan pada Kamis malam dalam pernyataan yang disiarkan televisi bahwa: "mungkin tidak ada pilihan selain memperketat pembatasan'.

Pemimpin oposisi Yair Lapid bersikukuh bahwa penguncian adalah pengakuan kegagalan.

"Warga dihukum karena pemerintah gagal," ujar Lapid menyebutnya sebagai 'pukulan maut bagi ekonomi Israel', mengutip Time Of Israel.

Lapid meramalkan bahwa itu tidak akan menyelamatkan nyawa.
Apakah hukuman seperti itu akurat? Apakah keberatan dan kecurigaan orang Israel dibenarkan? Mungkinkah penguncian dapat dihindari? Apakah ada opsi yang lebih baik yang tersedia untuk saat ini?

Pembatasan baru ini telah mendapat tentangan luas dari publik: dari orang-orang Yahudi yang religius dan ultra-Ortodoks, karena akan memengaruhi layanan doa umum selama Hari Libur Tinggi Rosh Hashana, dari pemilik bisnis, karena kerugian dalam perdagangan, dan dari masyarakat umum, karena penutupan sistem pendidikan akan memaksa banyak orang tua kehilangan pekerjaan karena mereka tinggal di rumah untuk merawat anak-anak yang masih kecil.

Para kritikus mengecam bahwa ini karena pemerintah salah urus, menunjuk pada pembukaan kembali yang terlalu dini pada bulan Mei. Kegagalan pemerintah dalam mengatur langkah-langkah pelacakan kontak yang efisien, keengganan untuk menutup tempat-tempat yang penuh infeksi di awal musim panas, serta protokol kesehatan yang lemah dan sering berubah.

Sarjana Manajemen Perhotelan Nathan Jeffay dalam tuliannya mengatakan bahwa pandemi bukanlah krisis kesehatan saja. Ada yang harus dipertimbankan lagi, seperti biaya lain dari keputusan yang diambil untuk melawannya dan itu akan menjadi beban bagi finansial Israel yang saat ini sangat rapuh. Pandemi mungkin akan berlangsung lama, dan itu membuat peemrintah semakin mengasingkan sektor-sektor populasi dan justru masyarakat akan semakin tidak patuh terhadap langkah-langkah pengendalian virus.

Ketika pemerintah 'coba-coba' dengan penguncian pertama, bagaimana dengan penguncian kedua ini? Bagaimana nasib masyarakat yang akan terkunci selama tiga minggu?

Akankah kita melihat warga semakin muak melihat tembok mereka sendiri dari hari ke hari, melihat saldo yang kian tipis, tetapi statistik virus tidak turun juga?
 
Nathan Jeffay mengatakan, ini bukan lagi realitas, tetapi ini adalah rekayasa.

Semoga saja penguncian ini dapat menjadi kesempatan bagi pemerintah untuk memberi sinyal bahwa mereka memiliki keberanian mengambil langkah-langkah yang kuat dan menggunakan fleksibilitas yang besar.

Jika angka kasus tidak turun juga, apakah pemerintah akan terus memperpanjang penguncian? Masyakarat tidak bisa diandalkan untuk mendisiplinkan diri, apakah berarti penguncian saja jalan keluarnya?
EDITOR: RENI ERINA

ARTIKEL LAINNYA