Di Forum PBB, Jokowi Harus Ingatkan China-AS Hentikan Ketegangan Selama Pandemi Covid-19

Presiden Jokowi/Net

Presiden Joko Widodo perlu mengingatkan negara-negara konflik untuk meredam amarahnya di tengah pandemi virus corona baru (Covid-19) saat ini dalam sidang umum PBB yang digelar secara virtual besokn(22/9).

Begitu yang disampaikan pakar hukum Internasional Prof Hikmahanto Juwana, dalam acara diskusi virtual RMOL World View dengan tajuk ‘Trump vs Biden Siapa Masa Depan AS?’, Senin (21/9)

“Isu yang terkait dengan negara-negara harus mementingkan mereka punya konflik bersenjata, di masa pandemi sekarang ini, jangan kemudian negara-negara ini menganggap bahwa tidak ada Covid-19. Lalu mereka secara agresif perang, berkonflik antar satu dnegan yang lain. Atau pemberontakan dengan pemerintahan yang sah, kan banyak ini kita dengar,” ujar Hikmahanto.

Menurutnya, negara-negara yang berkonflik bakal memicu pelanggaran HAM. Atas dasar itulah, Presiden Jokowi perlu menyampaikan atau mengingatkan negara-negara berkonflik tersebut dalam sidang umum PBB.

“Karena apa, kalau itu (konflik) yang dilakukan, maka mereka ini tidak mendahulukan kepentingan rakyat. Pada saat sekarang ini yang penting adalah bagaimana rakyat itu bisa sehat,” katanya.

“Oleh karena itu, bapak presiden perlu menyerukan, di forum PBB ini, bahwa negara-negara yang punya konflik untuk menunda sementara, sehingga rakyat itu jangan sampai terdampak sangat luar biasa,” imbuhnya.

Rektor Universitas Achmad Yani ini mengatakan, saat ini negara China tengah agresif di Laut Cina Selatan. Sehingga memicu Amerika Serikat untuk mengerahkan angkatan lautnya dan menyerukan perang terhadap Cina.

“Karena, dalam situasi seperti ini mungkin Amerika Serikat juga dalam mengerahkan angkatan lautnya. Sebagai polisi dunia, Amerika juga sudah mulai berkurang,” ucapnya.

Kemudian, lanjut Hikmahanto, Jepang juga harus menangani masalah pandemi Covid-19 di internal negaranya yang akhirnya menguras dana mereka dan menghambat investasi di negara lain termasuk di Indonesia.

“Termasuk kita di Indonesia. Tapi China boleh dibilang mungkin sebuah negara yang ekonomi masih solid, mereka melakukan aksi-aksi di Laut China Selatan, menurut saya ini harus dikurangi China jangan kemudian seolah-olah dia mengambil manfaat ini yang juga harus disampaikan oleh Pak Jokowi,” tuturnya.

“Sehingga ketegangan-ketegangan dunia ini kita redam dulu jangan melakukan hal tersebut,” tutupnya.

Kolom Komentar


Video

DIALOG JALAN SUTERA - Buka Bukaan Hubungan Indonesia China

Selasa, 13 Oktober 2020
Video

RMOL WORLD VIEW - 40 Tahun Yang Hangat, Bela Sawit Saling Menguat

Selasa, 13 Oktober 2020
Video

BINCANG SEHAT - Siap Hadapi Musim Hujan Di Tengah Pandemi Covid

Rabu, 14 Oktober 2020

Artikel Lainnya

Dua Kemungkinan Resolusi Konflik Untuk Afghanistan
Dunia

Dua Kemungkinan Resolusi Kon..

19 Oktober 2020 18:20
Di Vietnam, PM Jepang Bahas Laut China Selatan Hingga Kerja Sama Anti-Teror
Dunia

Di Vietnam, PM Jepang Bahas ..

19 Oktober 2020 17:08
Second Track Diplomacy, Menyorot Peran Strategis NU Dalam Proses Perdamaian Di Afghanistan
Dunia

Second Track Diplomacy, Meny..

19 Oktober 2020 16:36
Israel Kirim Surat Ke Bahrain, Ingin Buka Kedutaan Besar Di Manama
Dunia

Israel Kirim Surat Ke Bahrai..

19 Oktober 2020 16:06
Perdamaian Di Afghanistan, Kesempatan Emas Indonesia Lawan Terorisme Di Dalam Negeri
Dunia

Perdamaian Di Afghanistan, K..

19 Oktober 2020 15:53
Menteri Pendidikan Meisch: Angka Kasus Meningkat, Itu Karena Banyak Yang Tidak Menghormati Peraturan
Dunia

Menteri Pendidikan Meisch: A..

19 Oktober 2020 15:48
Indonesia Punya Kapasitas Untuk Bantu Proses Perdamaian Di Afghanistan
Dunia

Indonesia Punya Kapasitas Un..

19 Oktober 2020 15:26
Seberapa Besar Pengaruh Suara Venezuela Pada Pemilihan Presiden AS 2020?
Dunia

Seberapa Besar Pengaruh Suar..

19 Oktober 2020 15:20