Abaikan Utang Sejak Tahun Lalu, AS Marah Ingatkan Turki Atas Kewajibannya Membayar 2,3 Miliar Dolar

David Satterfield, Duta Besar AS untuk Turki/Net

Amerika Serikat mengatakan Turki berutang 2,3 miliar dolar AS kepada perusahaan farmasi Amerika dan harus membayar utang itu.

David Satterfield, Duta Besar AS untuk Ankara, mengatakan bahwa perusahaan medis internasional milik AS sedang berjuang untuk mengklaim utang sekitar 2,3 miliar dolar AS.

Duta Besar Satterfield mengatakan bahwa tidak terbayarnya pinjaman kepada perusahaan farmasi dan peralatan medis dari AS dan tempat lain menjadi masalah yang signifikan dalam hubungan perdagangan negara.

“Perusahaan akan mempertimbangkan untuk meninggalkan pasar Turki atau akan mengurangi eksposur mereka ke pasar Turki,” kata Satterfield, mengutip kantor berita BIRN, Jumat (25/9).

Utang meningkat secara signifikan selama tahun lalu di tengah pandemi Covid-19 yang sedang berlangsung. Menurut laporan, pemerintah Turki tidak dapat membayar kembali uang tersebut tetapi mereka meminta diskon sekitar 20 hingga 30 persen karena kenaikan nilai tukar dolar ke lira.

Nilai lira Turki turun lebih dari 30 persen terhadap dolar AS pada tahun 2020.

"Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan menantunya, Menteri Keuangan dan Keuangan Berat Albayrak, berjanji untuk segera melunasi utangnya yang terlambat setahun yang lalu, tetapi Ankara tidak melakukannya. Itu menambah kewajibannya untuk membayar kembali hutangnya sebesar 2,3 miliar dolar AS," kata Satterfield, seperti dikutip dari Reuters.

Pemerintah Turki sedang berusaha untuk menyelesaikan perjanjian perdagangan bebas dengan Amerika Serikat untuk membantu mendiversifikasi ekspornya dan meningkatkan perdagangan bilateral menjadi 100 miliar dolar AS dari 21 miliar doar AS pada tahun lalu, tetapi hubungan antara kedua negara telah tegang dalam beberapa tahun terakhir setelah Ankara membeli rudal pertahanan udara S-400 dari Rusia, dan menolak untuk melepaskan seorang pendeta Amerika pada tahun 2018.

Defisit anggaran Turki telah melebar secara signifikan selama dua tahun terakhir, seiring krisis mata uang pada 2018 yang diikuti oleh wabah virus corona pada Maret tahun ini. Pemerintah juga didera kewajiban untuk mengerahkan dana bantuan untuk rakyat yang terdampak pandemi dan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Lira Turki diperdagangkan pada rekor terendah terhadap dolar, semakin menekan keuangan pemerintah. Turki di masa lalu telah berusaha untuk menegosiasikan kembali harga obat-obatan untuk mengurangi pengeluaran kesehatan.
EDITOR: RENI ERINA

Kolom Komentar


Video

Wanita Terbakar Dalam Mobil di Sukoharjo, Diduga Korban Pembunuhan

Rabu, 21 Oktober 2020
Video

DENDI RAMADHONA DAN PESAWARAN

Rabu, 21 Oktober 2020
Video

Diduga Melanggar, Bawaslu Panggil Calon Bupati Semarang

Kamis, 22 Oktober 2020

Artikel Lainnya

Izzat al-Douri Si Manusia Es Tangan Kanan Mendiang Saddam Hussein Dan Buronan AS, Meninggal Dunia
Dunia

Izzat al-Douri Si Manusia Es..

27 Oktober 2020 06:59
Dewan Muslim: Islam Tidak Sedang Dianiaya Di Prancis, Mereka Bebas Jalankan Ibadah
Dunia

Dewan Muslim: Islam Tidak Se..

27 Oktober 2020 06:49
Kim Jong Un: Kemenangan Besar Yang Diraih DPRK dan China Adalah Takdir Mereka Sebagai Satu Kesatuan Suka Dan Duka
Dunia

Kim Jong Un: Kemenangan Besa..

27 Oktober 2020 06:39
Serukan Boikot Produk Prancis, Presiden Erdogan Dikeroyok Pemimpin Senior Uni Eropa
Dunia

Serukan Boikot Produk Pranci..

27 Oktober 2020 06:15
Dukung Aksi Pembunuhan Samuel Paty Sebagai Konsekuensi Hina Nabi, Anggota Parlemen Tunisia Dituntut Mundur
Dunia

Dukung Aksi Pembunuhan Samue..

27 Oktober 2020 05:49
Raja Malaysia Tolak Usulan Keadaan Darurat, PM Muhyiddin Gagal Dapat 'Angin Segar' Untuk Anggaran Yang Akan Datang
Dunia

Raja Malaysia Tolak Usulan K..

26 Oktober 2020 22:19
BKSAP DPR: Pemerintah Harus Panggil Duta Besar Prancis Untuk Kecam Sikap Presiden Marcon
Dunia

BKSAP DPR: Pemerintah Harus ..

26 Oktober 2020 22:11
Kremlin Risih Joe Biden Jadikan Rusia Sebagai Ancaman Nomor Satu AS
Dunia

Kremlin Risih Joe Biden Jadi..

26 Oktober 2020 19:02