Kembali Bikin Geger, Dr. Li-Meng Yan: Virus Corona Adalah Senjata Biologis Buatan Partai Komunis China

Ilustrasi/Net

Nama Dr. Li-Meng Yan sudah tidak asing lagi didengar. Ia adalah sosok yang membuat kontroversi setelah membongkar habis asal usul virus corona baru atau SARS-CoV-2 yang disebutnya merupakan buatan manusia.

Ahli virologi di Sekolah Kesehatan Masyarakat Hong Kong itu kali ini kembali membuat sebuah klaim yang mencengangkan dunia.

Bersama dengan tiga rekannya, Yan merilis sebuah makalah pada Kamis (8/10) yang mengklasifikasikan virus corona baru sebagai senjata biologis tak terbatas.

Dalam makalah baru itu, Yan dan rekannya berpendapat bahwa para ilmuwan di dunia menyimpan urutan virus corona palsu di GenBank, database urutan genetik yang dijalankan oleh National Institute of Health.

Upaya tersebut, menurut mereka, telah diatur oleh pemerintah PKC untuk mempromosikan "teori asal mula alam" atau gagasan bahwa virus berasal dari hewan.

"Ilmuwan mana pun yang menganut teori asal mula alam, telah disesatkan oleh penipuan ilmiah atau berkolusi dengan pemerintah PKC," ujar Yan dan rekan-rekannya.

Sontak makalah tersebut pun menjadi perhatian. Ahli genetika dari Nextstrain yang saat ini mempelajari virus corona di Swiss, Emma Hodcroft menyebut, Yan tidak memiliki bukti yang kuat untuk mendukung klaim tersebut.

"Bagi saya, klaim yang paling aneh adalah bahwa ada konspirasi global para ilmuwan yang menanam genom virus corona 'palsu' ke dalam database publik untuk meletakkan dasar untuk pembuatan dan merilis varian yang mematikan," katanya kepada Business Insider, Sabtu (10/10).

Selain itu, dalam klaimnya, Yan menyebut para ilmuwan memasukan sebagian besar sampel palsu sebelum pandemi dimulai. Artinya, Yan telah menuding para ilmuwan melakukan koordinasi dengan PKC selama bertahun-tahun dengan membuat urutan genom palsu.

"Ini adalah klaim yang luar biasa, dan akan membutuhkan beban bukti yang signifikan untuk mendukungnya," lanjut  Hodcroft.

Di dalam makalah mereka, Yan dan rekan-rekannya disebutkan merupakan bagian dari Rule of Law Society dan Rule of Law Foundation, sepasang organisasi nirlaba yang berbasis di New York, serta dipimpin oleh mantan ahli penasihat Donald Trump, Steve Bannon.

Bannon mendirikan kelompok tersebut dengan miliarder China yang diasingkan, Guo Wengui, yang sebelumnya bekerja dengan Bannon untuk menuduh pejabat PKC melakukan korupsi.

Situs web Guo, G News, juga telah menerbitkan beberapa cerita yang mengklaim virus corona berasal dari laboratorium China dan sengaja disebarkan oleh militer.

Organisasi Rule of Law tidak memiliki sejarah publikasi penelitian ilmiah atau medis. Makalah-makalah Yan pun diduga belum ditinjau oleh ilmuwan lain.

Namun dalam wawancara Yan dengan Fox News pada Rabu (7/10), ia mengatakan makalah-makalahnya telah ditinjau oleh pejabat top di pemerintahan Amerika Serikat (AS) sebelum diterbitkan. Walau ia tidak memberikan rincian lebih lanjut.

Bulan lalu, Yan juga mengatakan, Partai Komunis China (PKC) dengan sengaja telah melepaskan virus yang menurutnya buatan manusia itu.

Sejauh ini, kebanyakan ahli berpendapat virus corona baru berasal dari kelelawar sebelum menyerang manusia. Sebuah studi bahkan menemukan bahwa 96 persen kode genetiknya sama dengan sampel virus corona dari populasi kelelawar China.

Laboratorium di seluruh dunia, termasuk Institut Virologi Wuhan di China, telah mengumpulkan sampel virus corona yang ada dari kelelawar dan trenggiling sebelum pandemi. Dengan membandingkan kesamaan antara urutan yang ada dengan kode genetik SARS-CoV-2, para ahli telah mengesampingkan kemungkinan bahwa virus itu direkayasa secara genetik.

Tetapi Yan dan rekan-rekannya mengatakan, para ilmuwan China membuat SARS-CoV-2 dengan menggunakan "tulang punggung" atau kerangka dari virus corona kelelawar.

Tetapi jurnal yang diterbitkan Nature pada Maret mendiskreditkan teori tersebut.

Di sana disimpulkan virus corona baru bukanlah "gado-gado" dari virus corona yang sudah ada atau merupakan konstruksi laboratorium maupun dimanipulasi.

“Data genetik tidak dapat disangkal menunjukkan bahwa SARS-CoV-2 tidak berasal dari tulang punggung virus yang digunakan sebelumnya,” tulis para peneliti.

Setelah makalah pertama Yan dirilis, Twitter menangguhkan akunnya. Twitter juga sering menandai tweet Yan yang berisi mengenai klaim Covid-19 yang kontroversial.

Kolom Komentar


Video

Sebelum Mbak You, Arief Poyuono Sudah Ramalkan Kalabendu

Jumat, 15 Januari 2021
Video

BINCANG SEHAT • Memandang Pandemi Dari Kacamata Relawan

Jumat, 15 Januari 2021
Video

RMOL World View • Menjaga Gawang Pertahanan Indonesia

Senin, 18 Januari 2021

Artikel Lainnya

WHO Kecam Pembuat Vaksin Yang Prioritaskan Keuntungan Di Tengah Pandemi
Dunia

WHO Kecam Pembuat Vaksin Yan..

19 Januari 2021 14:01
Jepang Dalam Mode Siaga Tinggi, Temukan Kasus Varian Baru Tanpa Riwayat Perjalanan Ke Inggris
Dunia

Jepang Dalam Mode Siaga Ting..

19 Januari 2021 13:26
Klaim Tak Punya Kasus Virus Corona, Turkmenistan Jadi Negara Asia Tengah Pertama Yang Daftarkan Vaksin Rusia
Dunia

Klaim Tak Punya Kasus Virus ..

19 Januari 2021 13:22
Imbauan Carrie Lam: Sebaran Covid-19 Tidak Berhubungan Dengan Ras Atau Etnis
Dunia

Imbauan Carrie Lam: Sebaran ..

19 Januari 2021 13:04
Tidak Bijak Bagi Joe Biden Untuk Mengubur Pencapaian Manis Donald Trump Atas Korea Utara
Dunia

Tidak Bijak Bagi Joe Biden U..

19 Januari 2021 12:38
Pemilu Palestina, PM Mohammed Shtayyeh Minta Uni Eropa Kirim Pengamat Independen
Dunia

Pemilu Palestina, PM Mohamme..

19 Januari 2021 12:15
Kecewa Dengan UE, Kosovo Putuskan Untuk Ambil Sikap Dalam Waktu Dekat
Dunia

Kecewa Dengan UE, Kosovo Put..

19 Januari 2021 11:49
Jepang: Tuntutan Kompensasi Korsel Atas Korban Jugun Ianfu Merusak Hubungan
Dunia

Jepang: Tuntutan Kompensasi ..

19 Januari 2021 11:37