Menlu AS Mike Pompeo Tanggapi Santai Peluncuran Rudal Balistik Antar Benua Milik Korea Utara

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo /Net

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo nampaknya tidak terlalu khawatir akan dampak yang akan ditimbulkan oleh rudal jarak jauh milik Korea Utara yang dipamerkan pada acara ulang tahun ke-75 Partai WPK beberapa hari lalu.

Pompeo percaya bahwa kesepakatan yang dicapai antara Presiden AS Donald Trump dan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un telah berhasil mengurangi risiko.

Pada parade militer hari Sabtu (10/10) di Pyongyang, pemimpin Kim Jong Un memamerkan rudal balistik antarbenua (ICBM) yang menurut para analis adalah rudal berbahan bakar cair terbesar di dunia.

Tetapi Pompeo, yang mengatur KTT penting Trump dengan Kim pada 2018, mengatakan bahwa hanya pengujian yang dapat memastikan bahwa rudal itu berfungsi.

"Korea Utara, bagaimanapun, tahun lalu sama sekali tidak melakukan uji coba rudal balistik antarbenua. Hal yang sama berlaku untuk tahun sebelumnya," kata Pompeo kepada wartawan, seperti dikutip dari AFP, Rabu (14/10).

"Jadi perjanjian, pemahaman, meskipun tidak mencapai tujuan akhir kami di Korea Utara, pasti telah menyebabkan berkurangnya risiko bagi Amerika Serikat," ungkapnya.

Korea Utara memang belum melakukan uji coba rudal nuklir atau jarak jauh sejak Kim menandatangani deklarasi bersama dengan Trump pada KTT Juni 2018 di Singapura.

Trump, yang saat ini tengah berjuang untuk mendapatkan masa jabatan kedua dalam pemilu 3 November mendatang, sering menyombongkan diri bahwa dia telah habis-habisan untuk mencegah perang pasca ketegangan yang meningkat dan uji coba roket dan nuklir Korea Utara.

Namun terlepas dari pernyataan Trump bahwa dia dan Kim telah 'jatuh cinta', diplomasi itu terhenti selama setahun tanpa ada tanda-tanda kesepakatan abadi yang secara permanen akan mengakhiri program nuklir Korea Utara.

Dalam pidato Tahun Barunya, Kim memperingatkan bahwa Korea Utara tidak lagi terikat oleh moratorium nuklir dan uji coba rudal balistik jarak jauh yang diberlakukan sendiri, meskipun ia belum menindaklanjuti ancaman tersebut.

Analis mengatakan bahwa rudal yang diluncurkan pada hari Sabtu kemungkinan besar akan dirancang untuk membawa banyak hulu ledak dalam kendaraan yang masuk kembali secara independen.

"Jika beroperasi, sistem seperti itu dapat membanjiri pertahanan rudal AS," menurut analis. 
EDITOR: RENI ERINA

Kolom Komentar


Video

Sosok Mayat Mengapung di Sungai Gegerkan Warga Grobogan

Minggu, 22 November 2020
Video

Laporkan Rektor ke KPK, Frans Josua Napitu Dirumahkan oleh UNNES

Senin, 23 November 2020
Video

Copot Baliho Habib Rizieq Tak Berizin oleh Satpol PP Kota Semarang

Senin, 23 November 2020

Artikel Lainnya

Diduga Terkait Dengan Tentara Pembebasan Rakyat, Dua Perusahaan Raksasa China Masuk Daftar Hitam AS
Dunia

Diduga Terkait Dengan Tentar..

30 November 2020 13:00
Kembali Ke Pangkuan Azerbaijan, Butuh Milyaran Dolar Untuk Membangun Agdam 'Hiroshima di Kaukasus'
Dunia

Kembali Ke Pangkuan Azerbaij..

30 November 2020 12:54
China Akan Bangun Megaproyek Pembangkit Listrik Tenaga Air Di Sungai Yarlung Tsangpo Tibet
Dunia

China Akan Bangun Megaproyek..

30 November 2020 12:44
Kemenhan Rusia: Rumah Sakit Lapangan Telah Tersedia Di Nagorno-Karabakh
Dunia

Kemenhan Rusia: Rumah Sakit ..

30 November 2020 12:32
Dihantam Pajak Impor Baru Oleh China, Dunia Menanti Reaksi Australia
Dunia

Dihantam Pajak Impor Baru Ol..

30 November 2020 11:56
Presiden Brasil: Sumber Yang Saya Miliki Tunjukkan Adanya Banyak Kecurangan Dalam Pilpres AS
Dunia

Presiden Brasil: Sumber Yang..

30 November 2020 11:42
Kedapatan Langgar Embargo Senjata Libya, Turki Harus Hadapi Sanksi Baru Dari Uni Eropa
Dunia

Kedapatan Langgar Embargo Se..

30 November 2020 11:20
Kasus Masih Tinggi, New York Bersiap Buka Kembali Sekolah Tatap Muka Pekan Depan
Dunia

Kasus Masih Tinggi, New York..

30 November 2020 11:10