Empat Media Thailand Diselidiki, Pengunjuk Rasa: Pemerintah Rampas Hak Atas Informasi

Aksi unjuk rasa di Thailand untuk menuntut pengunduran diri Perdana Menteri Prayut Chan-o-cha/Net

Pengumuman investigasi terhadap empat outlet berita oleh polisi membuat publik Thailand menuding pemerintahan Perdana Menteri Prayut Chan-o-cha telah menyerang kebebasan pers.

Selain membuka investigasi terhadap empat media, pemerintah juga memberlakukan pembatasan pada aplikasi pesan singkat Telegram pada Senin (19/10). Itu dilakukan sebagai upaya untuk menghentikan aksi protes yang dilakukan selama tiga bulan terakhir.

Alhasil, para pengunjuk rasa kembali turun ke jalan dan membanjiri persimpangan di Bangkok sembari menyerukan agar para demonstran terus menyuarakan tuntutannya.

Mereka menuntut pengunduran diri Prayut, amandemen konstitusi, dan reformasi monarki.

"Tindakan ini merampas hak orang atas informasi," kata seorang pengunjuk rasa, yang hanya ingin disebut sebagai Jin, 19 tahun, seperti dikutip CNA.

Sebelumnya, pada Kamis (15/10), pemerintah juga memberlakukan larangan publikasi berita atau informasi yang dapat mempengaruhi keamanan nasional. Aturan itu diberlakukan bersamaan dengan larangan pertemuan publik lebih dari lima orang.

Menurut dokumen polisi tertanggal 16 Oktober, investigasi telah diperintahkan terhadap konten dari empat media serta halaman Facebook dari sebuah kelompok pengunjuk rasa bernama Pemuda Bebas

"Beberapa konten dapat menyebabkan kebingungan dan memicu keresahan masyarakat," ujar jurubicara kepolisian, Kissana Phathanacharoen.

Sementara itu, jurubicara kementerian digital, Putchapong Nodthaisong, mengatakan pihaknya telah meminta pengadilan untuk memerintahkan lebih dari 300 ribu konten yang dianggap melanggar UU untuk dihapus.

The Manushya Foundation, sebuah kelompok independen yang mengkampanyekan kebebasan online, menyebut tindakan tersebut sebagai upaya untuk membungkam media yang bebas.

"Karena pelarangan unjuk rasa tidak berhasil, pemerintah yang didukung militer berharap menciptakan ketakutan untuk mengatakan kebenaran. Kami mendesak media bebas untuk melawan," kata direkturnya, Emilie Palamy Pradichit.

Kolom Komentar


Video

Ular Piton 3,5 Meter Ditangkap Usai Mangsa Ternak Warga Boyolali

Selasa, 01 Desember 2020
Video

Sari Rogo Dan Kerikil Agrowisata Unila

Selasa, 01 Desember 2020
Video

Anies Baswedan Positif Covid-19

Selasa, 01 Desember 2020

Artikel Lainnya

Presiden Armenia Minta Rakyat Bisa Saling Bergandengan Tangan Hadapi Situasi Pasca Perang
Dunia

Presiden Armenia Minta Rakya..

05 Desember 2020 17:27
Beri Contoh Pada Rakyatnya, Erdogan Siap Disuntik Vaksin Covid-19
Dunia

Beri Contoh Pada Rakyatnya, ..

05 Desember 2020 17:05
Ajudan Senator Republik Georgia Tewas Dalam Kecelakaan Mobil Beruntun, Mike Pence Berduka: Dia Pemuda Yang Luar Biasa
Dunia

Ajudan Senator Republik Geor..

05 Desember 2020 16:47
Undang Aktivis Pro-Demokrasi, Politisi Denmark Kena Amukan China: Jangan Ikut Campur Urusan Hong Kong!
Dunia

Undang Aktivis Pro-Demokrasi..

05 Desember 2020 16:34
Badan Keamanan Lebanon Ungkap Rencana Pembunuhan Sejumlah Tokoh Masyarakat
Dunia

Badan Keamanan Lebanon Ungka..

05 Desember 2020 15:37
Penemuan Luar Biasa Dari Penggalian Kota Pompeii: Harta Karun Orang Romawi Terkaya Bernama Quintus Poppaeus
Dunia

Penemuan Luar Biasa Dari Pen..

05 Desember 2020 15:16
Perang Telah Berakhir, Namun Perjuangan Melawan Stres Pasca-Trauma Baru Saja Dimulai
Dunia

Perang Telah Berakhir, Namun..

05 Desember 2020 14:46
Belasan Penambang Terjebak Tanah Longsor Di Tambang Emas Ilegal Nikaragua
Dunia

Belasan Penambang Terjebak T..

05 Desember 2020 13:48