Meski Kasus Melonjak, Orang India Sudah Tidak Takut Virus Corona

Saat India memasuki musim festival Oktober-November, ada kekhawatiran jumlah infeksi virus corona akan melonjak/Net

Meskipun angka kasus virus corona di India sangat tinggi, tetapi aktivitas masyarakat sudah bergerak bahkan sejak beberapa minggu lalu. Orang-orang nampak terlihat sibuk di pabrik di Maharashtra hingga pasar yang padat di Kolkata. Kondisinya terlihat seperti kondisi sebelum pandemi. Apalagi, sesaat lagi mereka akan merayakan beberapa perayaan keagamaan.

Setelah penguncian yang ketat pada bulan Maret yang membuat jutaan orang berada di ambang kemiskinan, pemerintah dan orang-orang di negara terpadat kedua di dunia itu memutuskan bahwa hidup harus terus berjalan.

Sonali Dange, misalnya. Dia baru saja sembuh dari Covid-19 yang menimpanya minggu lalu. Namun, setelah penguncian dibuka, dia memutuskan kembali bekerjadi pabrik di mana dia mendapatkan 25.000 rupee (340 dolar AS) sebulan.

"Sekarang saya telah pulih, saya tidak lagi takut dengan penyakit itu," katanya kepada AFP di tengah hiruk pikuk mesin di pabrik Nobel Hygiene di timur Mumbai.

Pandemi telah membuat negara-negara miskin, juga negara berkembang, memiliki beban ekonomi yang cukup parah. Bank Dunia memperkirakan 150 juta orang bisa jatuh ke dalam kemiskinan ekstrem di seluruh dunia.

Banyak anak di negara berkembang sekarang bekerja untuk membantu orang tua mereka memenuhi kebutuhan, kata para aktivis, sementara ribuan gadis muda telah dipaksa menikah.

IMF memproyeksikan PDB India akan menyusut 10,3 persen tahun ini, penurunan terbesar dari negara berkembang besar dan terburuk sejak kemerdekaan pada tahun 1947.

Ketika India melakukan penguncian, itu adalah bencana. Jutaan orang berada dalam ekonomi yang terpuruk.

Banyak orang India yang ketika penguncian dibuka, langsung berhambur mencari kerja untuk memperbaiki ekonominya. Sayangnya, aktivitas mereka tidak dibarengi dengan aturan menjaga jarak atau menggunakan masker.

"Untuk bertahan hidup, orang harus keluar dan melakukan pekerjaan mereka. Jika Anda tidak berpenghasilan, Anda tidak bisa memberi makan keluarga Anda," begitu kata orang-orang itu.

Para ahli memperingatkan bahwa musim Oktober-November - ketika umat Hindu merayakan festival besar seperti Durga Puja, Dussehra dan Diwali - dapat memicu peningkatan tajam infeksi, karena konsumen memadati pasar untuk membeli barang-barang mahal dengan harga diskon.

"Tentu saja corona harus ditakuti. Tapi apa yang bisa saya lakukan? Saya tidak bisa melewatkan momen Durga Puja," kata seorang ibu. "Durga Puja datang sekali dalam setahun, jadi saya tidak bisa melewatkan kenikmatan berbelanja."

Sunil Kumar Sinha, ekonom utama di lembaga Pemeringkat dan Riset India yang berbasis di Mumbai, mengatakan orang India menghadapi pilihan yang sulit.

"Orang harus memilih apakah akan mati kelaparan atau berisiko terkena virus yang mungkin membunuh Anda atau tidak," katanya kepada AFP.

Perdana Menteri Narendra Modi menghadapi dilema terkait hal ini. Namun, akhirnya dia melonggarkan penguncian. Sementara ahli epidemiologi di Universitas Michigan,  Bhramar Mukherjee, memperingatkan pemerintah seharusnya tidak membiarkan virus berkembang lagi dengan membiarkan orang-orang bertindak semaunya tanpa protokol kesehatan.

"Walau penguncian dilonggarkan atau dibuka, Anda tetap harus mentaati langkah-langkah kesehatan masyarakat," kata Mukherjee.

Bulan lalu, Asosiasi Medis India mengecam pemerintah Modi karena 'ketidakpedulian' terhadap pengorbanan staf garis depan di salah satu sistem perawatan kesehatan yang didanai terburuk di dunia.

"Masyarakat seolah menggampangkan masalah besar. Mereka seolah telah memusnahkan virus," kataAsosiasi itu.
EDITOR: RENI ERINA

Kolom Komentar


Video

Ular Piton 3,5 Meter Ditangkap Usai Mangsa Ternak Warga Boyolali

Selasa, 01 Desember 2020
Video

Sari Rogo Dan Kerikil Agrowisata Unila

Selasa, 01 Desember 2020
Video

Anies Baswedan Positif Covid-19

Selasa, 01 Desember 2020

Artikel Lainnya

Pakar Hukum Internasional: Jangan Harap Perubahan Signifikan Hubungan AS-Indonesia Di Era Biden
Dunia

Pakar Hukum Internasional: J..

02 Desember 2020 16:16
Borong Ratusan Juta Dosis, Jepang Gratiskan Vaksin Virus Corona Untuk Seluruh Warganya
Dunia

Borong Ratusan Juta Dosis, J..

02 Desember 2020 16:04
Tak Akan Cabut Kesepakatan Dagang Trump, Biden Akan Tetap Keras Pada China
Dunia

Tak Akan Cabut Kesepakatan D..

02 Desember 2020 15:39
Akhirnya Azerbaijan Batalkan Rencana 'Pamerkan' Tawanan Perang Armenia Saat Parade Militer Mendatang
Dunia

Akhirnya Azerbaijan Batalkan..

02 Desember 2020 15:18
Dihantam 11 Bencana Alam Dalam Dua Bulan, Vietnam Alami Kerugian Hingga Rp 18,5 Triliun
Dunia

Dihantam 11 Bencana Alam Dal..

02 Desember 2020 14:53
Wakil PM Libya:  Hanya Turki Yang Mendukung Kami Melewati Masa-masa Sulit
Dunia

Wakil PM Libya: Hanya Turki..

02 Desember 2020 14:45
Inggris Jadi Negara Pertama Yang Setujui Penggunaan Vaksin Covid-19 Pfizer
Dunia

Inggris Jadi Negara Pertama ..

02 Desember 2020 14:40
Prancis Bela Australia Kecam Keras Foto Satir, China: Katanya Bela ‘Hak Atas Karikatur’, Tapi Kok Kecam Karya Seniman Muda?
Dunia

Prancis Bela Australia Kecam..

02 Desember 2020 14:26