Erdogan Sebut Macron Butuh Perawatan Mental, Prancis Panggil Dubesnya Di Turki

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan dan Presiden Prancis, Emmanuel Macron/Net

Perselisihan antara Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dengan Presiden Prancis, Emmanuel Macron berimbas pada hubungan diplomatik kedua negara.

Setelah Erdogan menyarankan Macron untuk melakukan pemeriksaan kesehatan mental, Prancis dilaporkan menarik dutabesarnya di Turki untuk melakukan konsultasi.

Seorang pejabat kantor kepresidenan Prancis, Elysee, mengungkap, dutabesar Prancis untuk Turki telah dipanggil kembali dari Ankara dan akan bertemu dengan Macron guna membahas pernyataan Erdogan.

"Komentar Presiden Erdogan tidak bisa diterima. Kelebihan dan kekasaran bukanlah metode. Kami menuntut agar Erdogan mengubah arah kebijakannya karena berbahaya dalam segala hal," ujar pejabat anonim itu kepada AFP, Minggu (25/10).

Pejabat itu juga menyoroti bahwa pemerintah Turki tidak memberikan ucapan belasungkawa atau dukungan atas insiden pemenggalan kepala seorang guru sejarah di Prancis, Samuel Patty beberapa waktu lalu yang menjadi salah satu pemicu perselisihan.

Ia juga menyatakan keprihatinan atas seruan Ankara untuk memboikot produk Prancis.

Sebelumnya, pada Sabtu (24/10), dalam pidatonya di kongres Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP), Erdogan mengatakan Macron membutuhkan perawatan mental karena berbagai pernyataan anti-Islamnya.

"Apa masalah orang bernama Macron ini dengan muslim dan Islam? Macron membutuhkan perawatan mental," kata Erdogan ketika itu.

Komentar Erdogan terhadap Macron muncul setelah presiden Prancis itu menggambarkan Islam sebagai agama yang tengah berada dalam krisis, di mana ia berjanji untuk melawan separatisme Islam yang menurutnya telah mengancam keamanan nasional.

Pada bulan ini, Macron meminta agar pengawasan sekolah lebih ketat dan kontrol terhadap pendanaan masjid dari luar negeri.

Di sisi lain, Turki yang sekuler mulai sedikit banyak berubah setelah kepemimpinan Erdogan pada 2002. Erdogan yang dikenal sebagai seorang tokoh muslim taat berupaya untuk mendapatkan dukungan dari golongan tersebut.

Selain itu, Prancis dan Turki juga saat ini tengah terlibat dalam sejumlah konflik, termasuk hak maritim di Mediterania timur, Libya, Suriah, hingga Nagorno-Karabakh.

Kedua anggota NATO tersebut saling bersitegang meski hanya sebatas pihak asing.

Kolom Komentar


Video

Sosok Mayat Mengapung di Sungai Gegerkan Warga Grobogan

Minggu, 22 November 2020
Video

Laporkan Rektor ke KPK, Frans Josua Napitu Dirumahkan oleh UNNES

Senin, 23 November 2020
Video

Copot Baliho Habib Rizieq Tak Berizin oleh Satpol PP Kota Semarang

Senin, 23 November 2020

Artikel Lainnya

Diduga Terkait Dengan Tentara Pembebasan Rakyat, Dua Perusahaan Raksasa China Masuk Daftar Hitam AS
Dunia

Diduga Terkait Dengan Tentar..

30 November 2020 13:00
Kembali Ke Pangkuan Azerbaijan, Butuh Milyaran Dolar Untuk Membangun Agdam 'Hiroshima di Kaukasus'
Dunia

Kembali Ke Pangkuan Azerbaij..

30 November 2020 12:54
China Akan Bangun Megaproyek Pembangkit Listrik Tenaga Air Di Sungai Yarlung Tsangpo Tibet
Dunia

China Akan Bangun Megaproyek..

30 November 2020 12:44
Kemenhan Rusia: Rumah Sakit Lapangan Telah Tersedia Di Nagorno-Karabakh
Dunia

Kemenhan Rusia: Rumah Sakit ..

30 November 2020 12:32
Dihantam Pajak Impor Baru Oleh China, Dunia Menanti Reaksi Australia
Dunia

Dihantam Pajak Impor Baru Ol..

30 November 2020 11:56
Presiden Brasil: Sumber Yang Saya Miliki Tunjukkan Adanya Banyak Kecurangan Dalam Pilpres AS
Dunia

Presiden Brasil: Sumber Yang..

30 November 2020 11:42
Kedapatan Langgar Embargo Senjata Libya, Turki Harus Hadapi Sanksi Baru Dari Uni Eropa
Dunia

Kedapatan Langgar Embargo Se..

30 November 2020 11:20
Kasus Masih Tinggi, New York Bersiap Buka Kembali Sekolah Tatap Muka Pekan Depan
Dunia

Kasus Masih Tinggi, New York..

30 November 2020 11:10