Prancis Tidak Akan Balas Boikot Produk Turki, Tapi Desak UE Segera Bertindak Atas Pernyataan Erdogan

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan/Net

Pernyataan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan soal seruan boikot terhadap produk negara Prancis dianggap telah melanggar nilai-nilai Uni Eropa. Untuk itu, pada Selasa (27/10) Prancis mendorong sekutu mereka di UE untuk mengadopsi tindakan terhadap Turki.

Sebelumnya pada hari yang sama, Komisi Uni Eropa memperingatkan bahwa keanggotaan Turki di blok itu semakin jauh dari sebelumnya mengingat pernyataan Erdogan.

"Prancis bersatu dan Eropa bersatu. Pada Dewan Eropa berikutnya, Eropa harus mengambil keputusan yang memungkinkannya memperkokoh keseimbangan dengan Turki untuk lebih membela kepentingan dan nilai-nilai Eropa," kata Menteri Perdagangan Prancis, Franck Riester, kepada anggota parlemen, tanpa menentukan tindakan apa yang akan diambil, seperti dikutip dari AFP, Rabu (28/10).

Sebelumnya di hari yang sama, Komisi Eropa memperingatkan bahwa komentar Erdogan membuat upaya Turki yang terhenti untuk bergabung dengan UE menjadi prospek yang lebih jauh.

"Seruan untuk boikot produk dari setiap negara anggota bertentangan dengan semangat kewajiban ini dan akan membawa Turki lebih jauh dari Uni Eropa," kata seorang juru bicara.

Beberapa barang Prancis telah dikeluarkan dari rak supermarket di beberapa negara Timur Tengah termasuk Qatar dan Kuwait.

Meskipun demikian, Riester mengatakan kepada wartawan pada hari Senin bahwa pemerintah Prancis tidak merencanakan tindakan balasan terhadap produk Turki.

Ekonom Prancis St├ęphanie Villers mengatakan kepada radio RTL, bahwa boikot tersebut kemungkinan akan berdampak marjinal pada ekspor Prancis, mencatat bahwa tarif anggur Prancis yang diperkenalkan oleh AS tahun lalu jauh lebih merusak.

"Jika ada niat nyata untuk merugikan ekonomi Prancis, maka semua produk Prancis akan diboikot," kata Villers, mengamati bahwa sektor kedirgantaraan dan kemewahan yang lebih menguntungkan tidak terpengaruh.

Para pemimpin dan pejabat Uni Eropa berkumpul di sekitar Prancis pada hari Senin. Perdana Menteri Belanda Mark Rutte mengatakan negaranya berdiri bersama Prancis 'untuk kebebasan berbicara dan melawan ekstremisme dan radikalisme'.

Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas menggambarkan penghinaan Erdogan terhadap Macron sebagai 'titik terendah baru', menambahkan bahwa negaranya "berdiri dalam solidaritas dengan teman-teman Prancis kami".

Presiden Yunani Katerina Sakellaropoulou menambahkan bahwa retorika Erdogan "memicu fanatisme agama dan intoleransi atas nama benturan peradaban, [dan] tidak dapat ditoleransi".

Pada pertemuan puncak awal bulan ini, negara-negara anggota UE setuju untuk meninjau perilaku Turki pada bulan Desember dan mengancam akan menjatuhkan sanksi jika 'provokasi' Erdogan tidak berhenti, kata sebuah pernyataan dewan.

Sementara itu, dalam komentarnya pada hari Senin, Erdogan menyatakan bahwa para pemimpin Eropa harus mengakhiri agenda yang diduga 'anti-Islam' Macron.

"Saya menyerukan kepada semua warga negara saya dari sini untuk tidak pernah membantu merek Prancis atau membelinya," ungkapnya.

Turki dan Prancis sama-sama anggota aliansi militer NATO, tetapi keduanya telah berselisih mengenai masalah-masalah termasuk Suriah dan Libya, yurisdiksi maritim di Mediterania timur, serta konflik di Nagorno-Karabakh.
EDITOR: RENI ERINA

Kolom Komentar


Video

Gunung Gede Pangrango kembali terlihat lagi dari Kota Jakarta

Rabu, 24 Februari 2021
Video

Tanya Jawab Cak Ulung • Melacak Tokoh Potensial 2024

Kamis, 25 Februari 2021
Video

RMOL World View • Diplomasi Halal Saat Pandemi

Senin, 08 Maret 2021

Artikel Lainnya

Indonesia Raih Finalis Human City Design Award 2020 Di Korsel
Dunia

Indonesia Raih Finalis Human..

08 Maret 2021 17:48
KDCA: Tak Ada Hubungan Antara Vaksinasi Dan Kasus Kematian Setelah Divaksin
Dunia

KDCA: Tak Ada Hubungan Antar..

08 Maret 2021 15:53
Hari Perempuan Internasional, Perempuan Myanmar Turun Ke Jalan Lawan Kudeta
Dunia

Hari Perempuan Internasional..

08 Maret 2021 15:17
Pangeran Harry Merasa Terjebak Dengan Kerajaan Hingga Bertemu Meghan Markle
Dunia

Pangeran Harry Merasa Terjeb..

08 Maret 2021 14:27
AS Minta Turki Jadi Tuan Rumah Dialog Perdamaian Intra-Afghan
Dunia

AS Minta Turki Jadi Tuan Rum..

08 Maret 2021 13:33
Finlandia: Skema Pengadaan Vaksin Kolektif Uni Eropa Hambat Program Vaksinasi
Dunia

Finlandia: Skema Pengadaan V..

08 Maret 2021 13:08
Korsel Sepakat Tambah Biaya Konstribusi Pasukan AS
Dunia

Korsel Sepakat Tambah Biaya ..

08 Maret 2021 12:41
China Siapkan Pusat Vaksinasi Untuk Suntik Warganya Di Luar Negeri
Dunia

China Siapkan Pusat Vaksinas..

08 Maret 2021 11:45