Lembaga Think Tank: Anak-anak Di Kamp Suriah Harus Direpatriasi Sebelum Jadi Bom Waktu

Lembaga think tank Egmont Institute mendesak pemerintah Inggris untuk merepatriasi anak-anak di kamp Suriah/Net

Lembaga think tank Belgia, Egmont Institute, mendesak pemerintah Inggris untuk merepatriasi warganya, khususnya anak-anak, yang berada di kamp-kamp Suriah.

Dalam laporan yang dikutip Arab News pada Rabu (28/10), anak-anak tersebut ditargetkan menjadi anggota ISIS.

Di kamp-kamp tersebut, mereka menghadapi kekurangan gizi, sanitasi yang buruk, ancaman Covid-19, dan cuaca buruk. Bahkan beberapa anak meninggal akibat lingkungan tersebut.

Laporan Egmont Institute sendiri merupakan respons atas penolakan pemerintah Inggris untuk memulangkan mereka karena dianggap berbahaya.

Sejauh ini, ada 35 anak-anak dan 24 orang dewasa Inggris, 15 di antaranya wanita. Totalnya, ada lebih dari 600 anak Uni Eropa yang berada di sana.

"Mayoritas (anak-anak) berusia di bawah lima tahun, dan mereka memiliki kesempatan untuk bersosialisasi kembali ke negara asalnya," demikian bunyi laporan tersebut.

"Anak-anak bukanlah 'bom waktu', tapi mereka bisa menjadi bom jika kita tidak memulangkannya," tambah lembaga tersebut.

Egmont Institute menjelaskan, selama anak-anak tersebut berada di Suriah atau Irak, mereka akan menghadapi risiko radikalisasi lebih lanjut.

"Satu-satunya pertanyaan yang harus kita tanyakan pada diri kita sendiri adalah apakah kita bersedia melepaskan segala bentuk kontrol terhadap pejuang asing Eropa, dengan risiko melihat mereka kembali dalam beberapa tahun bahkan lebih radikal?" tanya penulis laporan, Thomas Renard dan Rik Coolsaet.

"Atau jika kita lebih suka mengambil kembali kendali untuk memastikan penuntutan, penahanan dan rehabilitasi mereka yang tepat?" lanjut mereka.

Pada Juli, sejumlah politisi Inggris menulis kepada pemerintah menyoroti bahaya yang ditimbulkan dengan terus meninggalkan anggota ISIS Inggris dan Uni Eropa di Suriah.

Di antara mereka adalah mantan menteri Tobias Ellwood, David Davis dan Andrew Mitchell.

"Kami prihatin bahwa penahanan tidak terbatas mereka saat ini di kamp-kamp penahanan Kurdi yang semakin genting menimbulkan tantangan keamanan yang signifikan bagi Inggris, serta kerugian yang signifikan bagi anak-anak yang terlibat," ujar mereka.

“Kami mendesak Anda untuk memastikan bahwa orang-orang ini dibawa kembali ke Inggris sehingga setiap orang dewasa yang dituduh melakukan kejahatan dapat dituntut secara adil dengan proses yang wajar, dan keamanan anak-anak terjamin," pungkas mereka.

Kolom Komentar


Video

Sebelum Mbak You, Arief Poyuono Sudah Ramalkan Kalabendu

Jumat, 15 Januari 2021
Video

BINCANG SEHAT • Memandang Pandemi Dari Kacamata Relawan

Jumat, 15 Januari 2021
Video

RMOL World View • Menjaga Gawang Pertahanan Indonesia

Senin, 18 Januari 2021

Artikel Lainnya

WHO Kecam Pembuat Vaksin Yang Prioritaskan Keuntungan Di Tengah Pandemi
Dunia

WHO Kecam Pembuat Vaksin Yan..

19 Januari 2021 14:01
Jepang Dalam Mode Siaga Tinggi, Temukan Kasus Varian Baru Tanpa Riwayat Perjalanan Ke Inggris
Dunia

Jepang Dalam Mode Siaga Ting..

19 Januari 2021 13:26
Klaim Tak Punya Kasus Virus Corona, Turkmenistan Jadi Negara Asia Tengah Pertama Yang Daftarkan Vaksin Rusia
Dunia

Klaim Tak Punya Kasus Virus ..

19 Januari 2021 13:22
Imbauan Carrie Lam: Sebaran Covid-19 Tidak Berhubungan Dengan Ras Atau Etnis
Dunia

Imbauan Carrie Lam: Sebaran ..

19 Januari 2021 13:04
Tidak Bijak Bagi Joe Biden Untuk Mengubur Pencapaian Manis Donald Trump Atas Korea Utara
Dunia

Tidak Bijak Bagi Joe Biden U..

19 Januari 2021 12:38
Pemilu Palestina, PM Mohammed Shtayyeh Minta Uni Eropa Kirim Pengamat Independen
Dunia

Pemilu Palestina, PM Mohamme..

19 Januari 2021 12:15
Kecewa Dengan UE, Kosovo Putuskan Untuk Ambil Sikap Dalam Waktu Dekat
Dunia

Kecewa Dengan UE, Kosovo Put..

19 Januari 2021 11:49
Jepang: Tuntutan Kompensasi Korsel Atas Korban Jugun Ianfu Merusak Hubungan
Dunia

Jepang: Tuntutan Kompensasi ..

19 Januari 2021 11:37