Update Kasus Penikaman Di Gereja Nice Prancis, Polisi Tangkap Tersangka Ketiga

Petugas mengamankan Kota Nice pasca penyerangan mematikan di gereja/Net

Polisi Prancis terus mengembangkan kasus penikaman yang menewaskan tiga orang di sebuah gereja di Kota Nice, Prancis selatan. Terbaru, mereka telah menahan tersangka ketiga untuk diinterogasi sehubungan dengan serangan mematikan pada Kamis (29/10).

Sumber terkait mengatakan, tersangka baru yang ditahan itu adalah seorang pria berusia 33 tahun. Ia menjadi target pencarian polisi pada Jumat (31/10) malam waktu setempat, di rumah seorang pria kedua yang juga ditahan untuk diinterogasi karena dia diyakini telah melakukan kontak dengan penyerang.

"Kami mencoba mengklarifikasi perannya dalam semua ini," tambah sumber itu, seperti dikutip dari AFP, Jumat (31/10).

Sebelumnya, pihak penyelidik Prancis telah menahan tersangka kedua,  pria berusia 47 tahun, karena dugaan keterlibatannya dalam serangan berdarah itu.

Tersangka itu diyakini telah melakukan kontak dengan Brahim Aioussaoi pada malam sebelum kejadian. Hingga saat ini identitasnya masih  belum diungkapkan pihak penyelidik.
Sementara itu, tersangka utama penyerangan Brahim Aissaoui,  yang ditembak dan dirawat di rumah sakit dalam kondisi kritis, telah diidentifikasi sebagai seorang pria Tunisia berusia 21 tahun yang tiba di Eropa sebulan lebih sebelum serangan itu, menurut para penyelidik Prancis.

Presiden Emmanuel Macron menyebut penikaman mematikan itu sebagai ‘serangan teroris Islam’ dan mengumumkan peningkatan pengawasan gereja oleh patroli militer Sentinelle Prancis, yang akan ditingkatkan menjadi  tujuh ribu tentara dari yang awalnya hanya tiga ribu

Selain tempat keagamaan, keamanan di sekolah juga akan ditingkatkan, katanya.

Serangan itu terjadi pada saat tumbuh kemarahan di kalangan umat Islam di banyak negara atas isu kartun Prancis dari Nabi Muhammad, yang dianggap sebagai bentuk penghinaan.

Prancis, rumah bagi komunitas Muslim terbesar di Eropa dan dilanda serangkaian serangan militan dalam beberapa tahun terakhir, telah membela hak untuk menerbitkan kartun semacam itu. Macron bersikeras Prancis tidak akan berkompromi pada kebebasan dasar berkeyakinan dan berekspresi.
EDITOR: RENI ERINA

Kolom Komentar


Video

Farah ZoomTalk Spesial Ramadhan • Salam sehat, bahagia penuh kegembiraan

Rabu, 05 Mei 2021
Video

Indonesia Bangkit Pembangunan Ekonomi

Kamis, 06 Mei 2021
Video

Tanya Jawab Cak Ulung • Tragedi Nanggala, Lalu Apa?

Kamis, 06 Mei 2021

Artikel Lainnya

Pashinyan: Rusia Banyak Mengulurkan Tangan Untuk Armenia, Mulai Dari Perdamaian Hingga Pandemi
Dunia

Pashinyan: Rusia Banyak Meng..

07 Mei 2021 06:26
Blinken:  Kami Tidak Mengatakan Anda Harus Memilih China Atau AS, Tapi Barat Perlu Berhati-hati
Dunia

Blinken: Kami Tidak Mengata..

07 Mei 2021 06:02
'Tsunami' Covid-19 India Bikin Waswas, Negara Tetangga Kompak Tutup Perbatasan
Dunia

'Tsunami' Covid-19 India Bik..

06 Mei 2021 22:26
Geser Spanyol Dan AS, China Jadi Pasar Teratas Cerutu Legendaris Kuba
Dunia

Geser Spanyol Dan AS, China ..

06 Mei 2021 17:33
Trump Diusir Lagi, Twitter Tangguhkan Akun 'From the Desk of Donald J. Trump'
Dunia

Trump Diusir Lagi, Twitter T..

06 Mei 2021 17:31
Bolsonaro: Rusia Dan Putin Sangat Menarik Untuk Brasil
Dunia

Bolsonaro: Rusia Dan Putin S..

06 Mei 2021 15:37
Disuntik Vaksin Sinopharm Tanpa Izin, Duterte: Jangan Ikuti Saya, Berbahaya!
Dunia

Disuntik Vaksin Sinopharm Ta..

06 Mei 2021 15:29
Laju Pandemi Belum Terkendali, Gubernur Tokyo Pertimbangkan Opsi Perpanjangan Keadaan Darurat
Dunia

Laju Pandemi Belum Terkendal..

06 Mei 2021 15:08