Kopi Timur Mobile
Farah.ID
Kopi Timur
Farah.ID

Kontroversi Film Dokumenter 'The Mole: Undercover in North Korea'

LAPORAN: AMELIA FITRIANI
  • Senin, 02 November 2020, 21:57 WIB
Kontroversi Film Dokumenter  'The Mole: Undercover in North Korea'
Poster film 'The Mole: Undercover in North Korea'/Net
Sebuah film dokumenter terbaru yang tidak biasa menyita perhatian publik dunia baru-baru ini. Dokumenter tersebut berjudul "The Mole: Undercover in North Korea" yang baru dirilis pada 11 Oktober 2020 lalu.

Mengutip storyline di IMDb (Internet Movie Database), yakni basis data daring informasi yang berkaitan dengan film, acara televisi, video rumahan, dan permainan video serta acara internet, "The Mole: Undercover in North Korea" merupakan sebuah serial dokumenter thriller tentang kehidupan nyata dua pria biasa yang menyamar dan memulai misi sepuluh tahun mereka yang sangat berbahaya untuk menembus kediktatoran di Korea Utara.

Film ini ditulis dan disutradarai oleh sineas asal Denmark bernama Mads Brügger. Dikabarkan BBC, Mads Brügger mengaku bahwa dia mengatur operasi sengatan tiga tahun yang rumit untuk mengungkapkan bagaimana Korea Utara "mencemooh" hukum internasional melalui pelanggaran yang dilakuannya.

PEMERAN
Merujuk pada IMDb, serial ini bercerita tentang "The Mole", yakni Ulrich Larsen dan"'Mr. James", yakni Latrache-Qvortrup. Selain itu, ada pemeran lain yang juga mengambil bagian penting dalam film ini, yakni Alejandro Cao de Benós.

1. The Mole - Ulrich Larsen

Ulrich Larsen dikisahkan sebagai seorang koki Denmark pengangguran yang terpaksa pensiun dini karena peradangan kronis di pankreas dan hidup dengan tunjangan pemerintah. BBC menggambarkan bahwa dia merupakan sosok yang terpesona oleh kediktatoran komunis.

Dia menonton serial dokumenter Brügger, yakni "Det Røde Kapel" (The Red Chapel) tentang Korea Utara, dan menjadi tertarik pada negara tersebut.

Larsen kemudian menghubungi Brügger dan dengan bantuannya, Larsen kemudian bisa menyusup sebagai "agen rahasia" ke Asosiasi Persahabatan Korea (KFA). Ini adalah sebuah kelompok pro-rezim yang berbasis di Spanyol.

Sejak saat itu, dia kerap merekam secara diam-diam kegiatan yang dia lakukan di KFA .  

Keterlibatan Larsen di KFA semakin aktif hingga dia "naik pangkat" dan akhirnya memenangkan dukungan dan kepercayaan nyata dari pejabat pemerintah Korea Utara.

2. Alejandro Cao de Benós

Keanggotaan Larsen di KFA membawanya berhubungan dengan pendiri KFA yang flamboyan, yakni Alejandro Cao de Benós. Dia merupakan seorang bangsawan Spanyol yang dikenal di seluruh dunia sebagai "Penjaga Gerbang Korea Utara".

Selama film, di mana dia kadang-kadang terlihat dalam seragam militer Korea Utara, Cao de Benós membanggakan akses dan pengaruhnya terhadap rezim di Pyongyang.

3. Mr James - Jim Mehdi Latrache-Qvortrup

Aktor yang memerankan karakter Mr James adalah Jim Mehdi Latrache-Qvortrup. Dia merupakan mantan anggota parlemen asing Perancis dan terpidana pengedar narkoba.

Dia digambarkan IMDb sebagai mantan pendorong kokain jet-set yang menyamar sebagai miliarder Skandinavia. Bersama dengan sutradara Brügger, mereka berusaha menemukan senjata api untuk membuktikan bagaimana Korea Utara melanggar sanksi PBB.

SINOPSIS
Dua karakter yang tidak biasa ini, "The Mole" dan "Mr. James" berhasil mendapatkan akses ke jantung jaringan kriminal internasional yang memproduksi dan mendistribusikan obat-obatan dan senjata untuk klien. IMDB dalam storyline-nya menyebut bahwa kedua tokoh tersebut menggunakan kamera dan mikrofon tersembunyi untuk diam-diam merekam pertemuan mereka yang mencakup penandatanganan kontrak, penghentian kesepakatan hingga pelibatan tim dalam rencana untuk membangun pabrik senjata dan obat-obatan rahasia di di Afrika.

Sementara itu, mengutip BBC, dalam satu momen penting dalam film tersebut, Ulrich Larsen alias "The Mole" memfilmkan "Mr James" yang berpura-pura sebagai pedagang senjata, saat menandatangani kontrak dengan perwakilan pabrik senjata Korea Utara. Pada pertemuan tersebut, hadir pejabat pemerintah Korea Utara. Pertemuan tersebut terjadi di sebuah restoran bawah tanah yang mencolok di pinggiran Pyongyang.

Masih dikabarkan BBC, tidak semua orang Korea Utara yang hadir dalam pertemuan tersebut bisa diidentifikasi dengan benar.

Latrache-Qvortrup alias "Mr James" menyebut bahwa dia bahkan harus mencari nama perusahaan tersebut ketika dokumen itu dipanggang oleh salah satu pejabat Korea Utara. Namun dia mengklaim bahwa dia menemukan dokumen itu ditandatangani oleh Kim Ryong-chol, presiden Organisasi Perdagangan Narae.

Narae adalah nama umum di Semenanjung Korea, tetapi laporan Panel Ahli PBB terbaru, tertanggal 28 Agustus 2020, mengatakan bahwa sebuah perusahaan bernama Korea Narae Trading Corporation terlibat dalam kegiatan terkait penghindaran sanksi untuk tujuan menghasilkan pendapatan yang mendukung aktivitas terlarang dari Korea Utara.

Adegan lain di film tersebut menunjukkan pertemuan di Kampala, Uganda pada tahun 2017 di mana Latrache-Qvortrup ditanya oleh "Mr. Danny", sosok yang digambarkan sebagai pedagang senjata Korea Utara, apakah dia akan dapat mengirimkan persenjataan Korea Utara ke Suriah.

"Mr James" berada di Uganda, ditemani oleh beberapa pejabat Korea Utara yang sama seperti yang terlihat di Pyongyang, untuk membahas pembelian sebuah pulau di Danau Victoria.

Pejabat Uganda diberitahu bahwa pembelian itu adalah untuk pembangunan resor mewah, tetapi "Mr. James" dan orang Korea diam-diam berencana membangun pabrik bawah tanah untuk memproduksi senjata dan obat-obatan.

RESPONS


Koordinator Panel Ahli PBB untuk Korea Utara antara 2014 dan 2019, Hugh Griffiths menyebut bahwa pengungkapan dalam film tersebut "sangat kredibel".

"Film ini merupakan rasa malu yang paling parah bagi Ketua Kim Jong-un yang pernah kami lihat," kata Griffiths.

"Hanya karena tampak amatir bukan berarti niat untuk menjual dan memperoleh pendapatan mata uang asing tidak ada. Elemen film benar-benar sesuai dengan apa yang sudah kita ketahui," sambungnya seperti dikabarkan BBC.

Sementara itu, dalam pernyataan bersama Menteri Luar Negeri Swedia Ann Linde dan Menteri Luar Negeri Denmark Jeppe Kofod yang dipublikasikan di situs resmi Kementerian Luar Negeri Denmark pertengahan Oktober lalu dijelaskan bahwa mereka sangat prihatin dengan film dokumenter tersebut dan akan menugaskan misi mereka di PBB untuk membawa dokumenter tersebut ke perhatian Komite Sanksi PBB serta di Uni Eropa.

"Kami menanggapi konten dokumenter dengan sangat serius karena menimbulkan sejumlah pertanyaan dan kekhawatiran yang sangat problematis," begitu kutipan pernyataan bersama itu.

Film tersebut juga mengundang reaksi dari Korea Utara. Kurang dari seminggu setelah dilm itu dirilis, NK News mengabarkan bahwa Kedutaan Besar Korea Utara di Swedia menyebut bahwa film itu adalah rekayasa total.

ARTIKEL LAINNYA