Teror Wina, Bayang-bayang Ketakutan Menghantui Komunitas Yahudi Austria

KOta Wina dijaga ketat pasca teror yang terjadi pada Senin 2 November 2020/Net

Shalom Berntholz, seorang pemilik restoran di pusat kota Wina, tak bisa membayangkan apa yang terjadi seandainya dia tidak menutup tempat usahanya lebih awal pada saat kejadian teror berdarah Senin lalu.

Berntholz mengatakan, biasanya ia tidak pernah menutup tempat usahanya seawal itu. Namun,  ketika penutupan baru yang disebabkan oleh virus corona semakin dekat, dia memutuskan untuk tutup lebih awal pada Senin (2/11), dan ternyata itu menyelamatkan hidupnya.

Senin (2/11) malam waktu setempat, seorang pria bersenjata yang mendukung kelompok Negara Islam (ISIS) memulai aksis penembakan brutal tepat di depan restorannya yang tutup, menewaskan seorang pelayan restoran di seberangnya.

"Biasanya, kami buka 365 hari setahun, bahkan untuk hari raya Shabbat dan Yahudi. Luar biasa, kami tutup. Itulah yang menyelamatkan hidup kami," kata Berntholz, seperti dikutip dari AFP, Rabu (4/11).

Restorannya 'Alef Alef' terletak di lantai dasar sebuah bangunan putih yang menampung kantor IKG, sebuah badan yang mewakili komunitas Yahudi Wina dan memiliki sekitar 7.000 anggota.

Pria bersenjata, bernama Kujtim Fejzulai berkewarganegaraan ganda Austria-Makedonia berusia 20 tahun yang ditembak mati oleh polisi setelah membunuh empat orang, "mulai tepat di kaki gedung ini," kata Berntholz.

"Mungkin dia melihat tidak ada apa-apa di pihak kita dan menembakkan senjatanya ke arah berlawanan dan membunuh pelayan malang itu," katanya.

"Anda mungkin berpikir bahwa itu juga komunitas Yahudi yang dia targetkan, tetapi sebenarnya kita tidak akan pernah tahu."

Fejzulai, yang lahir di Wina dan orang tuanya berasal dari Makedonia Utara, melepaskan tembakan sekitar jam 8 malam di alun-alun kecil berbatu tempat beberapa bar dan restoran populer berada, serta kantor komunitas Yahudi.

Penyelidik belum dapat menentukan apakah pria bersenjata itu menargetkan lokasi Yahudi di alun-alun, atau apakah dia hanya memilih tempat ini karena kehidupan malam yang meriah.

Serangan yang diklaim oleh ISIS juga terjadi hanya belasan meter dari sebuah bangunan yang melambangkan kekayaan sejarah Yahudi di kota itu: 'Stadttempel', sebuah sinagoga abad ke-19 yang megah.

Ini adalah satu-satunya sinagoga di Wina yang selamat dari Perang Dunia Kedua dan peristiwa 'Night of Broken Glass' pada 9-10 November 1938 - pogrom (pembinasaan) terhadap orang Yahudi yang dilakukan oleh pasukan paramiliter Nazi dan warga sipil.

Pogrom adalah sebuah kata dalam bahasa Rusia yang berarti 'membinasakan, menghancurkan dengan kekerasan'. Secara historis, istilah ini mengacu kepada serangan yang diwarnai dengan kekerasan oleh penduduk non-Yahudi setempat terhadap warga Yahudi di Kekaisaran Rusia dan di negara-negara lain.

Sebelum Perang Dunia Kedua, ada sekitar 192 ribu orang Yahudi di Austria, hampir empat persen dari populasi yang ada. Komunitas saat itu hampir tidak ada karena deportasi dan pengasingan, tetapi perlahan-lahan dibangun kembali setelah konflik.

Amukan senjata hari Senin telah menghidupkan kembali ingatan akan serangan terhadap sinagoga Stadttempel pada 1979 dan 1981 oleh kelompok ekstremis Palestina, dengan dua orang tewas dalam serangan terakhir.

Kongres Yahudi Eropa pada Selasa mengatakan, "Itu membawa kembali kenangan tragis bagi kami sebagai salah satu serangan pertama terhadap sasaran Yahudi di Eropa terjadi di tempat ini hampir 40 tahun yang lalu."

Yoav Ashkenazy, seorang Israel berusia 38 tahun yang telah tinggal di Wina selama enam tahun untuk belajar filsafat, memutuskan untuk datang melihat lokasi penyerangan dengan matanya sendiri.

Dia menolak untuk menyerah pada rasa takut.

"Orang-orang berjalan di sekitar sini dengan sebuah kippah (topi yang secara tradisional dipakai oleh pria Yahudi) tanpa masalah," katanya.

Komunitas Yahudi di kota itu - tidak seperti di Paris, Brussel, Kopenhagen atau Jerman - secara umum memiliki perasaan hidup di negara yang aman yang sampai sekarang terhindar dari serangan jihadis.

Namun, 550 insiden anti-Semit - hampir setengahnya dikaitkan dengan sayap kanan - dilaporkan pada 2019 di Austria, angka yang meningkat dua kali lipat dalam lima tahun.
EDITOR: RENI ERINA

Kolom Komentar


Video

Sebelum Mbak You, Arief Poyuono Sudah Ramalkan Kalabendu

Jumat, 15 Januari 2021
Video

BINCANG SEHAT • Memandang Pandemi Dari Kacamata Relawan

Jumat, 15 Januari 2021
Video

RMOL World View • Menjaga Gawang Pertahanan Indonesia

Senin, 18 Januari 2021

Artikel Lainnya

WHO Kecam Pembuat Vaksin Yang Prioritaskan Keuntungan Di Tengah Pandemi
Dunia

WHO Kecam Pembuat Vaksin Yan..

19 Januari 2021 14:01
Jepang Dalam Mode Siaga Tinggi, Temukan Kasus Varian Baru Tanpa Riwayat Perjalanan Ke Inggris
Dunia

Jepang Dalam Mode Siaga Ting..

19 Januari 2021 13:26
Klaim Tak Punya Kasus Virus Corona, Turkmenistan Jadi Negara Asia Tengah Pertama Yang Daftarkan Vaksin Rusia
Dunia

Klaim Tak Punya Kasus Virus ..

19 Januari 2021 13:22
Imbauan Carrie Lam: Sebaran Covid-19 Tidak Berhubungan Dengan Ras Atau Etnis
Dunia

Imbauan Carrie Lam: Sebaran ..

19 Januari 2021 13:04
Tidak Bijak Bagi Joe Biden Untuk Mengubur Pencapaian Manis Donald Trump Atas Korea Utara
Dunia

Tidak Bijak Bagi Joe Biden U..

19 Januari 2021 12:38
Pemilu Palestina, PM Mohammed Shtayyeh Minta Uni Eropa Kirim Pengamat Independen
Dunia

Pemilu Palestina, PM Mohamme..

19 Januari 2021 12:15
Kecewa Dengan UE, Kosovo Putuskan Untuk Ambil Sikap Dalam Waktu Dekat
Dunia

Kecewa Dengan UE, Kosovo Put..

19 Januari 2021 11:49
Jepang: Tuntutan Kompensasi Korsel Atas Korban Jugun Ianfu Merusak Hubungan
Dunia

Jepang: Tuntutan Kompensasi ..

19 Januari 2021 11:37