Pesan Jelas Dari Israel Kepada Joe Biden: Tidak Ada Jalan Kembali Pada Kesepakatan Nuklir Iran 2015

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu/Net

Jelang peralihan kekuasaan di Gedung Putih, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu melontarkan pesan yang jelas kepada presiden terpilih AS Joe Biden dan timnya. Ia memperingatkan agar mereka tidak terlibat kembali dengan Iran terkait kesepakatan nuklir (JCPOA) 2015 yang telah ditinggalkan Presiden Donald Trump pada 2018.

"Kami tidak akan mengizinkan Iran mendapatkan senjata nuklir," kata Netanyahu dalam sebuah pernyataan pada Minggu (22/11) waktu setempat.

"Tidak mungkin kembali ke perjanjian nuklir sebelumnya. Kita harus tetap berpegang pada kebijakan tanpa kompromi untuk memastikan bahwa Iran tidak akan mengembangkan senjata nuklir,” kata Netanyahu, seperti dikutip dari Times Of Israel.

"Dunia harus menghentikan perilaku agresif Iran, termasuk dukungannya terhadap teror," lanjutnya.

Komentar Netanyahu datang di tengah kekhawatiran bahwa Biden akan kembali melanjutkan kesepakatan nuklir Iran 2015.

Biden mengecam Presiden AS Donald Trump atas penarikannya pada 2018 dari kesepakatan nuklir. Selama kampanye kepresidenan, Biden juga berjanji untuk kembali ke versi perjanjian yang dinegosiasikan ulang jika dia memenangkan pemilihan.  

Biden diduga akan mengambil pendekatan yang lebih lunak dengan Iran daripada Trump, yang telah menjatuhkan sanksi hukuman terhadap Teheran dan jenderal utamanya terbunuh pada bulan Januari. Teheran tampaknya terbuka untuk berdiskusi dengan pemerintahan Biden.

Awal bulan ini, mantan ajudan Biden Amos Hochstein mengatakan kepada Channel 12 Israel, bahwa bergabung kembali dengan kesepakatan nuklir Iran adalah 'agenda utama' dan bahwa presiden terpilih AS akan bergerak untuk memasuki kembali pakta internasional tak lama setelah menjabat.

Pernyataan jubir Biden itu senada dengan pernyataan menteri luar negeri Iran pada Selasa (17/11) yang mengatakan bahwa Teheran bersedia kembali ke kesepakatan jika Biden mencabut sanksi terhadap Iran setelah memasuki Gedung Putih.

Sementara Trump dipandang baik oleh Teluk Arab Saudi dan Uni Emirat Arab karena keputusannya menarik AS keluar dari perjanjian nuklir dengan Iran dan menerapkan kembali sanksi besar-besaran yang telah menguras pendapatan minyak penting Iran.

Saat ini pemerintahan Trump dilaporkan tengah merencanakan serangkaian sanksi luas terhadap Iran untuk mempersulit pemerintahan yang akan datang untuk masuk kembali ke JCPOA.
EDITOR: RENI ERINA

Kolom Komentar


Video

Gempa Mamuju, Ustad Das\'ad Latif Nyaris Jadi Korban

Jumat, 15 Januari 2021
Video

Sebelum Mbak You, Arief Poyuono Sudah Ramalkan Kalabendu

Jumat, 15 Januari 2021
Video

BINCANG SEHAT • Memandang Pandemi Dari Kacamata Relawan

Jumat, 15 Januari 2021

Artikel Lainnya

Italia Resmi Perpanjang Situasi Darurat, Ini Enam Hal Yang Dibatasi Dengan Ketat
Dunia

Italia Resmi Perpanjang Situ..

16 Januari 2021 22:49
Cerita Sri, WNI Yang Divaksin Covid-19 Di Italia: Hanya Pegal
Dunia

Cerita Sri, WNI Yang Divaksi..

16 Januari 2021 22:16
Tersandung Skandal Tunjangan Anak, Pengunduran Diri Pemerintah Belanda Simbolis Belaka?
Dunia

Tersandung Skandal Tunjangan..

16 Januari 2021 21:52
Belasan Tentaranya Terinfeksi Virus Corona, Dua Pangkalan AS Di Korea Selatan Perketat Pengawasan
Dunia

Belasan Tentaranya Terinfeks..

16 Januari 2021 20:35
Republik Panama Akan Vaksin Rakyatnya, Sukmo Harsono Siap Jadi Dubes Pertama Yang Divaksin
Dunia

Republik Panama Akan Vaksin ..

16 Januari 2021 18:23
Demonstran Myanmar Bentrok Dengan Aparat, Tuntut Pengadilan Segera Sidangkan Kasus Biksu Radikal Ashin Wirathu
Dunia

Demonstran Myanmar Bentrok D..

16 Januari 2021 17:47
Bukan Kelelawar, Ahli Virologi China Ini Sebut Asal-usul Virus Corona Berasal Dari Cerpelai
Dunia

Bukan Kelelawar, Ahli Virolo..

16 Januari 2021 17:29
Mayat Yang Ditemukan Mengapung Di Sungai Taiwan, Diduga Pelajar Indonesia Yang Tenggelam Saat Malam Tahun Baru
Dunia

Mayat Yang Ditemukan Mengapu..

16 Januari 2021 16:31