Migran Di Pulau Lesvos, Bukan Hanya Covid-19 Tapi Juga Hadapi Musim Dingin Yang Ekstrim

SEkitar 7.300 migran tinggal di kamp baru di Kara Tepe di Lesbos/Net

Belasan ribu imigran di Pulau Lesvos Yunani harus bersiap menghadapi kondisi yang keras sepanjang musim dingin ini di tengah ancaman penularan virus corona.

Sekitar 7.300 migran tinggal di kamp baru di Kara Tepe beberapa kilometer jauhnya di pulau Lesbos yang terletak di dekat pantai Turki. Mereka tinggal di tenda sederhana yang sangat tidak layak untuk kondisi musim dingin. Tenda-tenda itu tidak memiliki pemanas, juga tidak tersedia sanitasi yang memadai.

Itu adalah kamp baru bagi mereka setelah api menghanguskan kamp Moria, dua bulan lalu. Kamp migran terbesar di Eropa yang penuh sesak dan tidak sehat itu dilalap api pada September 2020 lalu, menyebabkan hampir 13 ribu migran kehilangan tempat bernaung.

Di kamp baru yang sama sempitnya dengan kamp lama yang terbakar itu, para migran tidak mungkin bisa menerapkan jarak sosial. Mencuci tangan pun juga tidak bisa sesering mungkin karena terbatasnya pasokan air dan sanitasi. Kamp itujuga tidak memiliki akses langsung perawatan medis.

"Kami hanya dapat meninggalkan kamp seminggu sekali selama beberapa jam. Kami harus  mengatur semua yang perlu dilakukan dalam waktu singkat itu," kata Jean-Pierre, migran berusia 30 tahun asal Kamerun.

"Semua orang ketakutan di kamp. Saya juga takut dengan pandemi, mematikan," katanya, seperti dikutip dari AFP, Selasa (24/11).

Dia bercerita, toilet dibersihkan hanya di pagi hari. Mereka juga harus mengantri untuk ke toilet hingga dua jam.

Arezoo, seorang anak berusia 15 tahun asal Afghanistan bercerita bahwa dia telah berada selama satu tahun di Lesbos. Suasana kamp yang dia sebut dengan 'menjijikan'.

"Tidak ada air ledeng di kamar mandi, jadi orang membawa air dari tenda mereka dalam botol atau membersihkan diri di laut," katanya.

"Karena tenda (rumah) jauh dari toilet, orang membuat tenda darurat (untuk toilet) dengan selimut, kain dan kayu."

Listrik pun sangat terbatas. Menyala hanya pada pagi selama dua jam, lalu siang selama dua jam, dan malam hari. Itu pun terputus-putus. Juga tanpa koneksi wifi untuk berkomunikasi.

Sekolah untuk anak-anak migran dilakukan seadanya di tenda-tenda.

"Bagian terburuknya adalah Anda tidak melakukan apa-apa sepanjang hari," kata Arezoo.

Pihak berwenang Yunani mendirikan pusat pemukiman di Kara Tepe. Ini awalnya dimaksudkan sebagai solusi sementara untuk menampung ribuan orang korban kebakaran kamp kebakaran Moria.

Namun, kementerian migrasi mengatakan kamp permanen yang dimaksudkan untuk menggantikan Moria kemungkinan belum siap sebelum musim panas 2021.

Musim dingin ini akan membuat keadaan semakin buruk. Astrid Castelein, kepala tim organisasi pengungsi PBB di Lesbos mengatakan mereka telah meminta pihak berwenang di ibukota Lesbos, Mytilene, untuk mengizinkan mereka memindahkan para migran yang kondisinya paling rentan ke pusat akomodasi lokal.

Nasos Galis, seorang dokter dari Organisasi Kesehatan Nasional yang berbasis di pulau itu, juga meminta tindakan segera.

"Orang yang rentan atau pasien dengan penyakit kronis harus segera meninggalkan kamp menuju daratan," katanya.

Kondisinya juga sulit bagi mereka yang bekerja di kamp: para dokter, pegawai negeri yang menangani penerimaan kedatangan, dan mereka yang bekerja di berbagai LSM.

"Minggu lalu, tenda tempat kami bekerja tertiup angin, terbawa dan jatuh ke laut. Kami sampai harus megejarnya," kata salah satu pekerja pusat resepsionis yang tidak mau disebutkan namanya.

"Dalam satu tenda ada 35 pekerja," tambahnya.

Tidak ada pemanas sementara cuaca begitu dingin. Banyak migran yang mendatangi tenda medis dengan dengan masalah pernapasan.

Orang-orang yang rentan semakin bertambah parah kondisinya dari hari ke hari selama musim dingin.
EDITOR: RENI ERINA

Kolom Komentar


Video

Sebelum Mbak You, Arief Poyuono Sudah Ramalkan Kalabendu

Jumat, 15 Januari 2021
Video

BINCANG SEHAT • Memandang Pandemi Dari Kacamata Relawan

Jumat, 15 Januari 2021
Video

RMOL World View • Menjaga Gawang Pertahanan Indonesia

Senin, 18 Januari 2021

Artikel Lainnya

Tanggapi Laporan Panel WHO, Jubir: China Bukan Yang Terbaik Tapi Lebih Baik Dalam Penanganan Krisis Kesehatan
Dunia

Tanggapi Laporan Panel WHO, ..

20 Januari 2021 18:24
Ulama Kanada Minta Umat Islam Agar Tidak Terprovokasi Teori Konspirasi Vaksin Covid-19
Dunia

Ulama Kanada Minta Umat Isla..

20 Januari 2021 18:11
Tentara AS Kedapatan Bantu ISIS Rencanakan Serangan Di Monumen 9/11
Dunia

Tentara AS Kedapatan Bantu I..

20 Januari 2021 17:37
Menlu Zimbabwe Meninggal Terinfeksi Covid-19
Dunia

Menlu Zimbabwe Meninggal Ter..

20 Januari 2021 17:17
Penyebab Efek Samping Kelumpuhan Wajah Usai Disuntik Vaksin Pfizer Belum Diketahui
Dunia

Penyebab Efek Samping Kelump..

20 Januari 2021 16:54
Pabrik Tempe Indonesia Pertama Resmi Dibuka Di Shanghai
Dunia

Pabrik Tempe Indonesia Perta..

20 Januari 2021 16:33
Desa Kecil Di India Penuh Suka Cita Rayakan Pelantikan Kamala Harris
Dunia

Desa Kecil Di India Penuh Su..

20 Januari 2021 16:09
Kantongi Dukungan Di Senat, Pemerintahan Conte Di Italia Terselamatkan
Dunia

Kantongi Dukungan Di Senat, ..

20 Januari 2021 16:05