Kesal Kapal Turki Digrebek Pasukan Komando Jerman, Erdogan: Kami Sudah Cukup Sabar Dan Menahan Diri

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan/Net

Turki mengecam Yunani dan Siprus terkait pemeriksaan kapal Turki yang dilakukan oleh pasukan komando Jerman. Pemeriksaan itu dikatakannya atas nama misi Uni Eropa untuk menerapkan embargo senjata di Libya.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyalahkan Yunani dan Siprus yang diduga menjadi sumber munculnya tindakan tersebut.

"Kami telah bereaksi dengan sabar dan menahan diri," kata Erdogan saat berbicara dengan deputi partai yang berkuasa, menekankan apa yang dikatakannya terlepas dari provokasi oleh Yunani dan Republik Siprus pada masalah Mediterania timur.

“Namun, meski kami sabar dan menahan diri, mereka baru-baru ini menggerebek kapal barang kami yang sedang mengangkut kargo ke Libya. Ini tidak sejalan dengan hukum laut internasional,” kata Erdogan, seperti dikutip dari AP, Kamis (26/11).

Erdogan memperingatkan, kapten kapal yang melakukan operasi itu  adalah warga negara Yunani.

"Saat mereka naik ke kapal, mereka mengganggu awak kapal,” ujar Erdogan.

Pada Senin (23/11), Tentara Jerman naik dan menggeledah kargo Rosaline A milik Turki. Tentara-tentara itu mencurigai bahwa kapal Turki itu menyelundupkan senjata ke Libya.

Sejauh ini, Komando Jerman yang melekat pada Operasi Irini UE, dengan persetujuan dari NATO, berusaha untuk memberlakukan embargo senjata PBB terhadap Libya.

Selain mengecam Yunani dan Siprus, Erdogan juga mengutuk keras Berlin atas tindakan itu.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Jerman, Andrea Sasse, mengatakan sikap Turki secara keseluruhan - termasuk insiden terbaru itu- sudah diduga dan ada dalam agenda Dewan Eropa Desember.

Andrea Sasse mengatakan bahwa selama ini Jerman telah menunjukkan sikap tegasnya dan bahwa perilaku Turki selama ini sangat bermasalah dalam banyak hal.

"Kami (telah) melaporkan ini secara teratur di Turki,” ujar Sasse.

"Tapi kami harus mengulangi bahwa kami telah mengambil sikap terhadap perilaku Turki berkali-kali," kata Sasse ketika ditanya tentang kemungkinan reaksi dari Jerman.

Sejak beberapa tahun, senjata Turki terus membanjiri Libya, memicu destabilisasi lebih lanjut di negara yang sudah dilanda perang itu.
EDITOR: RENI ERINA

Kolom Komentar


Video

Sebelum Mbak You, Arief Poyuono Sudah Ramalkan Kalabendu

Jumat, 15 Januari 2021
Video

BINCANG SEHAT • Memandang Pandemi Dari Kacamata Relawan

Jumat, 15 Januari 2021
Video

RMOL World View • Menjaga Gawang Pertahanan Indonesia

Senin, 18 Januari 2021

Artikel Lainnya

Tanggapi Laporan Panel WHO, Jubir: China Bukan Yang Terbaik Tapi Lebih Baik Dalam Penanganan Krisis Kesehatan
Dunia

Tanggapi Laporan Panel WHO, ..

20 Januari 2021 18:24
Ulama Kanada Minta Umat Islam Agar Tidak Terprovokasi Teori Konspirasi Vaksin Covid-19
Dunia

Ulama Kanada Minta Umat Isla..

20 Januari 2021 18:11
Tentara AS Kedapatan Bantu ISIS Rencanakan Serangan Di Monumen 9/11
Dunia

Tentara AS Kedapatan Bantu I..

20 Januari 2021 17:37
Menlu Zimbabwe Meninggal Terinfeksi Covid-19
Dunia

Menlu Zimbabwe Meninggal Ter..

20 Januari 2021 17:17
Penyebab Efek Samping Kelumpuhan Wajah Usai Disuntik Vaksin Pfizer Belum Diketahui
Dunia

Penyebab Efek Samping Kelump..

20 Januari 2021 16:54
Pabrik Tempe Indonesia Pertama Resmi Dibuka Di Shanghai
Dunia

Pabrik Tempe Indonesia Perta..

20 Januari 2021 16:33
Desa Kecil Di India Penuh Suka Cita Rayakan Pelantikan Kamala Harris
Dunia

Desa Kecil Di India Penuh Su..

20 Januari 2021 16:09
Kantongi Dukungan Di Senat, Pemerintahan Conte Di Italia Terselamatkan
Dunia

Kantongi Dukungan Di Senat, ..

20 Januari 2021 16:05