Armenia: Persoalan Nagorno-Karabakh Menemukan Jalan Buntu Sejak 2018, Satu-satunya Jalan Keluar Serahkan Wilayah Itu!

Perdana Menteri Armenia Nikol Pashinyan/Net

Kesal karena terus-terusan disalahkan atas pejanjian kesepakatan antara Armenia dan Azerbaijan, Perdana Menteri Armenia Nikol Pashinyan akhirnya buka-bukaan. Ia menegaskan bahwa sejak tahun 2018 sesungguhnya persoalan Nagorno-Karabakh telah menemui jalan buntu. Satu-satunya jalan keluar adalah dengan menyerahkan wilayah tersebut.

Menurut Pashinyan, pada tahun 2011 di Kazan, Armenia siap menyerahkan tujuh wilayah sebagai imbalan referendum status sementara Nagorno-Karabakh. Namun, saat itu Azerbaijan tidak setuju dan mengajukan tuntutan baru.

"Sebuah video yang mengonfirmasi hal ini telah diposting di jaringan," kata Pashinyan, seperti dikutip dari News Arm, Minggu (29/11).

"Ngomong-ngomong, dalam tuntutan baru itu tidak disebutkan soal Kota Shushi (Shusha). Masalah ini juga diselesaikan sesuai dengan prinsip Madrid, yang diterima pihak Armenia pada tahun 2007 sebagai dasar pembicaraan," ujar Pashinya. Menekankan bahwa penduduk Nagorno-Karabakh harus memiliki proporsionalitas.

“Jadi situasi ini berkembang di negara kita sejak 2011, sedangkan sejak 2013 Azerbaijan melakukan eksaserbasi militer, sehingga sepanjang 2013-2015 terjadi eskalasi yang mencapai puncaknya pada pertempuran 4 empat hari, pada April 2016."

Azerbaijan telah berulang kali menolak proposal mediasi internasional berbasis Madrid Principles dari OSCE Minsk Group Co-Chairs, satu-satunya badan yang diakui secara internasional untuk menengahi antara kedua belah pihak.

Pada 19 Maret 2016, dalam pidatonya, Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev secara terbuka menuduh Ketua Bersama Grup Minsk melakukan provokasi terhadap Azerbaijan dan menyatakan bahwa kepercayaan Azerbaijan dalam kegiatan mereka telah sepenuhnya dirusak

“Sejak 2018, masalah Karabakh (Nagorno-Karabakh) menemui jalan buntu, satu-satunya jalan keluar adalah penyerahan wilayah, (sayangnya) tanpa ada jaminan bahwa Azerbaijan tidak akan mengajukan tuntutan baru. Dan dalam konteks tuntutan baru itu, akan ada lagi kemungkinan perang yang tinggi,"  ujar Pashinyan.

Perang bisa saja dihentikan lebih awal. Harga untuk mengakhiri perang lebih awal, akan tetap sama: penyerahan tujuh distrik.

"Jika penyerahan tiga distrik di tengah hilangnya Kota Shushi Shusha) dan bahaya mematikan yang menggantung di atas Stepanakert adalah pengkhianatan, bukankah penyerahan 7 distrik dalam kondisi yang relatif baik (juga) merupakan pengkhianatan?" ujar Pashinyan.
EDITOR: RENI ERINA

Kolom Komentar


Video

Bincang Sehat • Vaksin Covid-19 Pada Lansia

Jumat, 22 Januari 2021
Video

Obrolan Bareng Bang Ruslan • JK, Buat Kejutan Apa di 2024?

Selasa, 26 Januari 2021
Video

Klarifikasi Ambroncius Nababan

Selasa, 26 Januari 2021

Artikel Lainnya

Dapat Konfirmasi Senat, Antony Blinken Resmi Jadi Menteri Luar Negeri AS
Dunia

Dapat Konfirmasi Senat, Anto..

27 Januari 2021 08:02
Perkuat Sektor Pertahanan, Kenya Borong 118 Kendaraan Militer Canggih Dari Turki
Dunia

Perkuat Sektor Pertahanan, K..

27 Januari 2021 07:52
Inggris Lampaui Angka 100 Ribu Kematian, Boris Johnson Sampaikan Rasa Sedihnya
Dunia

Inggris Lampaui Angka 100 Ri..

27 Januari 2021 07:44
Priti Patel Tangkis Pernyataan Mantan Pejabat Tinggi Soal Aturan Karantina Inggris
Dunia

Priti Patel Tangkis Pernyata..

27 Januari 2021 07:16
Perkuat Hubungan Diplomatik, Sudan Dan Israel Sepakat Bangun Kantor Kedutaan Dalam Waktu Dekat
Dunia

Perkuat Hubungan Diplomatik,..

27 Januari 2021 07:02
Iran Dan Rusia Makin Kompak, Teken Kerja Sama Keamanan Siber
Dunia

Iran Dan Rusia Makin Kompak,..

27 Januari 2021 06:48
Ketua Partai MHP Minta Joe Biden Tak Ulangi Kegagalan Donald Trump Di Turki
Dunia

Ketua Partai MHP Minta Joe B..

27 Januari 2021 06:37
Inggris Berkolaborasi Dengan UE Pastikan Rantai Pasokan Vaksin
Dunia

Inggris Berkolaborasi Dengan..

27 Januari 2021 06:27