Senator Boyer Diserang Mantan Diplomat Araud Dan Didier Karena Pernyataan Dukungannya Untuk Nagorno-Karabakh

Senator Valerie Boyer/Net

Mantan duta besar Prancis untuk Israel Gerard Araud, dan Wakil Direktur Jenderal Institut Prancis untuk Urusan Internasional dan Strategis (IRIS) Didier Billion, mengkritik Senator Valerie Boyer atas pernyataannya baru-baru ini tentang Nagorno-Karabakh.

Keduanya mengkritik keras pernyataan Boyer itu karena dianggap mengeksploitasi masalah Nagorno-Karabakh dengan memberikan sanksi kepada Turki dan memutarbalikkan kebenaran tentang masalah tersebut.

"Senat Prancis bangga mengakui Nagorno-Karabakh dan menuntut sanksi terhadap Turki dan Azerbaijan," kata Boyer di Twitter.

Araud mengatakan keputusan senat telah mendiskualifikasi Prancis sebagai mediator dalam konflik internasional karena ada alasan khusus, yaitu bahwa keputusan yang diambil Prancis selalu bertentangan dengan kepentingan nasional, dikutip dari Daily Sabah.

Billion sepakat dengan pernyataan Araud dan mengatakan keputusan senat adalah kesalahan besar, ketidaktahuan hukum internasional, distorsi fakta, dan pengakuan atas kelemahan.

Penerapan resolusi Prancis untuk mengakui kemerdekaan wilayah Nagorno-Karabakh menuai kecaman keras dari Ankara dan Baku karena mengabaikan hukum internasional serta keputusan PBB.

Resolusi simbolis tidak berarti pemerintah Prancis akan mengakui Nagorno-Karabakh yang berdaulat, melainkan hanya bertanda sebagai dukungan kepada komunitas besar Armenia di Prancis, menurut kedua pejabat itu.

Sejauh ini, tidak ada negara yang mengakui wilayah tersebut - yang telah diperselisihkan oleh Armenia dan Azerbaijan selama beberapa dekade - sebagai wilayah merdeka.

Resolusi Prancis menyerukan kepada pemerintah untuk "mengakui Republik Nagorno-Karabakh dan menggunakan pengakuan ini sebagai instrumen negosiasi untuk pembentukan perdamaian yang berkelanjutan." Ia juga meminta pemerintah untuk mengejar tanggapan Eropa yang lebih keras terhadap Turki, yang telah mendukung Azerbaijan dalam konflik tersebut.

Bentrokan baru meletus pada 27 September berlanjut selama 44 hari, di mana Baku membebaskan beberapa kota dan hampir 300 permukiman dan desa dari pendudukan Armenia.

Pada 10 November, kedua negara menandatangani kesepakatan yang ditengahi Rusia untuk mengakhiri pertempuran dan bekerja menuju solusi yang komprehensif.
EDITOR: RENI ERINA

Kolom Komentar


Video

Bincang Sehat • Vaksin Covid-19 Pada Lansia

Jumat, 22 Januari 2021
Video

Obrolan Bareng Bang Ruslan • JK, Buat Kejutan Apa di 2024?

Selasa, 26 Januari 2021
Video

Klarifikasi Ambroncius Nababan

Selasa, 26 Januari 2021

Artikel Lainnya

Gelar Pesta Saat Keadaan Darurat, 89 WNA Ditangkap Polisi Thailand
Dunia

Gelar Pesta Saat Keadaan Dar..

28 Januari 2021 17:52
Sindir AS, Dubes Cui Tiankai: Menganggap China Sebagai Saingan Strategis Adalah Sebuah Kesalahan
Dunia

Sindir AS, Dubes Cui Tiankai..

28 Januari 2021 17:10
Armenia Peringati Hari Tentara, PM Pashinyan Letakkan Bunga Di Makam Pahlawan
Dunia

Armenia Peringati Hari Tenta..

28 Januari 2021 17:06
Angela Merkel Dukung Seruan Xi Jinping Untuk Hindari Perang Dingin Baru, Tapi Tetap Tekan China Soal HAM
Dunia

Angela Merkel Dukung Seruan ..

28 Januari 2021 16:04
Karantina Selesai, Tim Ilmuwan WHO Lancarkan Misi Selidiki Asal-usul Virus Corona
Dunia

Karantina Selesai, Tim Ilmuw..

28 Januari 2021 15:35
Boneka Rajut Meme Bernie Sanders Laku Terjual Ratusan Juta Rupiah
Dunia

Boneka Rajut Meme Bernie San..

28 Januari 2021 14:44
53 Orang Hangus Terbakar Dalam Tabrakan Maut Bus VS Pengangkut Bahan Bakar Di Kamerun
Dunia

53 Orang Hangus Terbakar Dal..

28 Januari 2021 14:34
Pendeta Di Rumania Di-Bully Netizen Gara-gara Sosialisasikan Vaksinasi Di Medsos
Dunia

Pendeta Di Rumania Di-Bully ..

28 Januari 2021 14:25