Hindari Pecahnya Persatuan Karena Pandemi, Pakar: Butuh Resiliensi Untuk Penanganan Covid-19 Ini

Pakar hubungan Internasional, Gautam Kumar JHA dalam acara diskusi virtual bersama Kantor Berita Republik Merdeka Online/Repro

Masing-masing negara memiliki cara sendiri dalam penanganan pandemi Covid-19  sesuai dengan karakteristik dan kultur masing-masing.

Namun, beberapa negara mengalami krisis kepercayaan kepada pemerintah atas penanganan pandemik.

Pakar hubungan Internasional, Gautam Kumar JHA menilai, kurangnya sumber informasi tentang Covid-19 membuat munculnya beragam pandangan yang berbeda terhadap penanganan wabah ini. Bahkan beberapa ada yang mengambil kebijakan negara lain untuk dilakukan di negaranya, dan ternyata tidak sesuai. Hal itu yang memunculkan perdebatan.

Perlu resiliensi untuk mengatasi hal ini, menurut , assistant professor Jawaharlal Nehru University ini.  
 
"Virus Covid-19 adalah hal yang baru dan bergerak cepat. Banyak yang sudah menjadi korban dari virus ini. Ini hal yang sangat menakutkan bagi sebagian orang, sementara bagi orang lain menganggap bahwa pandemi ini cukup disikapi dengan aturan ketat. Perbedaan pandangan ini karena kurangnya informasi itu," ujar Gautam Kumar, dalam acara diskusi virtual yang diadakan oleh Kantor Berita Politik RMOL, pada Senin (21/12).

Resiliesi dibutuhkan sebagai ketahanan psikologis, kemampuan untuk secara emosional mengatasi krisis atau untuk kembali ke status sebelum krisis dengan cepat.

Menurutnya, sama seperti Indonesia, India adalah negara yang sangat luas. India juga mengalami kesulitan dalam menyelaraskan pemahaman soal Covid-19. Namun, itu tidak membuat pemerintah menyerah. Otoritas India terus melakukan upaya untuk menyatukan pemahaman yang sama yang disesuaikan dengan masing-masing daerah.

"Hingga saat ini kami terus berusaha agar penanganan bisa berjalan baik tanpa menghancurkan persatuan," katanya.

"Indonesia adalah negara yang besar dan luas. Dengan kondisi negara yang terdiri dari banyak pulau yang dipisahkan oleh perairan (sungai) cukup sulit untuk menjangkau persatuan di tengah pandemi," ujarnya.

Ia menambahkan, perlu bagi Indonesia untuk meningkatkan pengetahuan di dunia medis, dan menyebarkan informasi kesehatan secara masif.
EDITOR: RENI ERINA

Kolom Komentar


Video

Tanya Jawab Cak Ulung • Monitor PSU Pilkada 2020

Kamis, 08 April 2021
Video

Bincang Sehat • Mutasi Baru Virus Penyebab Covid-19

Jumat, 09 April 2021
Video

Ini Penampakan Prototipe Jet Tempur KF-X/IF-X

Sabtu, 10 April 2021

Artikel Lainnya

Menlu AS Waswas, China Makin Agresif Terhadap Taiwan
Dunia

Menlu AS Waswas, China Makin..

11 April 2021 22:19
IMF: Ketidakadilan Vaksin Covid-19 Ancam Pemulihan Ekonomi Timur Tengah
Dunia

IMF: Ketidakadilan Vaksin Co..

11 April 2021 22:09
Kampanye Vaksinasi Tembus 100 Juta Dosis, India Klaim jadi Negara Tercepat Di Dunia
Dunia

Kampanye Vaksinasi Tembus 10..

11 April 2021 21:48
Peru Gelar Pilpres Di Tengah Pandemi, 18 Capres Bersaing
Dunia

Peru Gelar Pilpres Di Tengah..

11 April 2021 21:32
China Rilis Hotline Untuk Laporkan Komentar Buruk Soal Sejarah Di Dunia Maya
Dunia

China Rilis Hotline Untuk La..

11 April 2021 21:18
Di Tengah Ketegangan Dengan Rusia, Turki Tegas Dukung Ukraina
Dunia

Di Tengah Ketegangan Dengan ..

11 April 2021 20:24
Rombak Pemerintahan, Jenderal Militer Hingga Wamenhan Sudan Selatan Diganti
Dunia

Rombak Pemerintahan, Jendera..

11 April 2021 19:46
Korsel Siap Gunakan Kembali Vaksin AstraZeneca, Tapi Bukan Untuk Orang Usia Di Bawah 30 Tahun
Dunia

Korsel Siap Gunakan Kembali ..

11 April 2021 19:32