AS Dan Uni Eropa Kompak Suarakan Pembebasan Segera Alexei Navalny

Alexei Navalny dan istrinya, Yulia ketika tiba di Moskow/Net

Uni Eropa dan Amerika Serikat (AS) mendesak Rusia untuk segera membebaskan tokoh oposisi Alexei Navalny yang ditahan sesaat setelah tiba di Bandara Sheremetyovo, Moskow pada Minggu (17/1).

Navalny tiba di Moskow menggunakan pesawat Berlin dan langusng ditahan oleh pihak bea cukai. Ia ditahan karena melanggar masa percobaan.

Penangkapan Navalny langsung dikutuk keras oleh Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo yang menyebutnya sebagai upaya Rusia untuk membungkam tokoh oposisi.

"Kami mencatat dengan sangat prihatin bahwa penahanannya adalah yang terbaru dari serangkaian upaya untuk membungkam Navalny dan tokoh oposisi lainnya serta suara independen yang mengkritik otoritas Rusia," ujar Pompeo, seperti dikutip AFP.

"Navalny bukan masalahnya. Kami menuntut pembebasannya segera dan tanpa syarat. Para pemimpin politik yang percaya diri tidak takut suara-suara yang kontra, atau melakukan kekerasan terhadap atau salah menahan lawan politik," tambahnya.

Penasihat keamanan nasional Presiden terpilih Joe Biden, Jake Sullivan juga meminta Rusia untuk membebaskan Navalny.

"Pak Navalny harus segera dibebaskan, dan para pelaku serangan keji terhadap nyawanya harus dimintai pertanggungjawaban. Serangan Kremlin terhadap Pak Navalny bukan hanya pelanggaran hak asasi manusia, tapi penghinaan terhadap orang-orang Rusia yang ingin suara mereka didengar," kata Sullivan.

Seperti halnya AS, Presiden Dewan Eropa Charles Michel juga mengutuk penahanan Navalny dan mendesak otoritas Rusia untuk membebaskannya.

"Penahanan Alexei Navalny setibanya di Moskow tidak dapat diterima. Saya meminta pihak berwenang Rusia untuk segera membebaskannya," tulis Michel di Twitter.

Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Josep Borrell menggemakan seruan tersebut.

"Otoritas Rusia harus menghormati hak Alexei Navalny dan segera membebaskannya. Politisasi pengadilan tidak dapat diterima," cuit Borrell.

Navalny meninggalkan Rusia selama hampir lima bulan untuk mendapatkan perawatan di Jerman setelah ia tidak sadarkan diri karena diracun oleh Novichok.

Pada akhir tahun, Rusia memberikan ultimatum kepada Navalny untuk segera kembali dan mematuhi masa percobaannya yang berakhir pada 31 Desember. Jika ia tidak kembali, maka Navalny akan mendapat hukuman penjara secara nyata.

Dengan alasan harus mendapat perawatan, Navalny kemudian baru kembali ke Rusia pada Minggu.

Kolom Komentar


Video

Jendela Usaha • Peluang Budidaya Ubi Jalar

Rabu, 24 Februari 2021
Video

Gunung Gede Pangrango kembali terlihat lagi dari Kota Jakarta

Rabu, 24 Februari 2021
Video

Tanya Jawab Cak Ulung • Melacak Tokoh Potensial 2024

Kamis, 25 Februari 2021

Artikel Lainnya

Bangladesh Relokasi Lagi Ribuan Pengungsi Rohingya Ke Pulau Terpencil
Dunia

Bangladesh Relokasi Lagi Rib..

04 Maret 2021 08:11
Pengadilan Kriminal Internasional Luncurkan Penyelidikan Kejahatan Di Wilayah Palestina
Dunia

Pengadilan Kriminal Internas..

04 Maret 2021 08:07
Pelaku Gunakan Pisau Di Swedia, Tiga Orang Kritis
Dunia

Pelaku Gunakan Pisau Di Swed..

04 Maret 2021 07:55
Myanmar: Kepala UE Kecam Pelanggaran HAM Oleh Militer
Dunia

Myanmar: Kepala UE Kecam Pel..

04 Maret 2021 07:42
Tingkatkan Kerja Sama Pertahanan, Turki Dan Bosnia Herzegovina Teken Perjanjian Keuangan Militer
Dunia

Tingkatkan Kerja Sama Pertah..

04 Maret 2021 07:09
PBB: 38 Orang Tewas Dalam Hari Paling Berdarah Di Myanmar
Dunia

PBB: 38 Orang Tewas Dalam Ha..

04 Maret 2021 06:59
Blinken: China Adalah Ujian Terbesar, AS Siap Menghadapi Kapan Saja
Dunia

Blinken: China Adalah Ujian ..

04 Maret 2021 06:25
Korban Covid Muslim Dikuburkan Di Pulau Terpencil, Sri Lanka Menuai Protes
Dunia

Korban Covid Muslim Dikuburk..

04 Maret 2021 06:11