Penderitaan Anak-anak Pengungsi Rohingya, Empat Sekolah Yang Dibangun UNICEF Hangus Dilalap Api

Gedung sekolah anak-anak pengungsi Rohingya di Bangladesh dilalap api pada Selasa 19 Januari 2021/Net

Nasib malang menimpa anak-anak etnis Rohingya yang saat ini berada di kamp pengungsian di Bangladesh, setelah empat sekolah yang dibangun UNICEF hancur akibat kebakaran yang masih belum jelas peyebabnya pada Senin (18/1) waktu setempat. Kebakaran, yang menurut badan anak-anak PBB sengaja dilakukan oleh pihak tak bertanggung jawab itu terjadi saat sekolah dalam keadaan kosong.

Pekan lalu, kobaran api yang diperkirakan dimulai oleh kompor gas yang membakar ratusan gubuk bambu di salah satu kamp, menyebabkan ribuan pengungsi yang berasal dari Myanmar itu kehilangan tempat tinggal.

Razwan Hayat, komisaris pengungsi Bangladesh, mengatakan kepada AFP bahwa dia yakin kebakaran terbaru tidak disulut dengan sengaja. Mereja juga mengatakan bahwa sekolah-sekolah itu terbuat dari bahan yang mudah terbakar dan rapuh.

“Kami sedang menyelidiki. Tapi kami pikir itu kecelakaan. Pusat-pusat ini bukan bangunan permanen,” katanya.

Sebaliknya, akun Twitter UNICEF Bangladesh @UNICEFBD mengatakan pada Senin (18/1) bahwa insiden itu adalah pembakaran, bukan kebakaran.

“#UNICEF mengutuk serangan pembakaran tadi malam di empat Pusat Pembelajaran di #Rohingya#refugee kamp di Cox's Bazar,” cuitnya.

“Insiden ini semakin mengganggu pembelajaran bagi lebih dari 300 anak pengungsi yang sudah tidak mampu yang kehilangan fasilitas pendidikan mereka,” lanjut mereka.

UNICEF menjalankan sekitar 2.500 pusat pembelajaran di 34 kamp pengungsi di distrik perbatasan tenggara Bangladesh di Cox's Bazar. Sekitar 240 ribu anak Rohingya belajar di dalamnya sebelum pandemi.

Mereka telah ditutup selama berbulan-bulan karena langkah-langkah untuk memerangi penyebaran virus corona baru tetapi diperkirakan akan dibuka lagi mulai bulan depan, kata pekerja bantuan.

Mereka yang tinggal di kamp-kamp itu termasuk sekitar 750 ribu etnis Rohingya yang melarikan diri dari tindakan keras militer yang brutal di Myanmar pada 2017 yang oleh PBB disamakan dengan pembersihan etnis.

Kemungkinan kecil dari mereka kembali ke Myanmar, menyebabkan ketegangan dengan penduduk lokal dan mendorong banyak orang untuk melakukan perjalanan laut yang berbahaya ke Malaysia dan Indonesia.

Beberapa bulan terakhir telah terjadi bentrokan antara kelompok-kelompok termasuk militan Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA), menewaskan tujuh orang dan banyak rumah yang dibakar.
EDITOR: RENI ERINA

Kolom Komentar


Video

Jendela Usaha • Peluang Budidaya Ubi Jalar

Rabu, 24 Februari 2021
Video

Gunung Gede Pangrango kembali terlihat lagi dari Kota Jakarta

Rabu, 24 Februari 2021
Video

Tanya Jawab Cak Ulung • Melacak Tokoh Potensial 2024

Kamis, 25 Februari 2021

Artikel Lainnya

Dubes Umar Hadi: Digitalisasi Produk Ekonomi Kreatif, Suatu Keniscayaan
Dunia

Dubes Umar Hadi: Digitalisas..

06 Maret 2021 21:38
Bertemu Ulama Syiah Irak Dan Kunjungi Tempat Kelahiran Nabi Ibrahim, Paus Berterima Kasih Kepada Umat Muslim
Dunia

Bertemu Ulama Syiah Irak Dan..

06 Maret 2021 18:48
Dalai Lama Tenzin Gyatso Terima Suntikan Pertama Vaksin Covid-19, Ajak Pengikutnya Tak Ragu Divaksin
Dunia

Dalai Lama Tenzin Gyatso Ter..

06 Maret 2021 17:58
Menandai Hari Ke-100 Aksi Protes, Petani India Blokir Enam Ruas Jalan Tol
Dunia

Menandai Hari Ke-100 Aksi Pr..

06 Maret 2021 17:47
Konflik Myanmar Dan Jalan Buntu Dewan Keamanan PBB
Dunia

Konflik Myanmar Dan Jalan Bu..

06 Maret 2021 16:29
Ledakan Gas Alam Texas: Satu Rumah Terbakar, Sepuluh Luka-luka
Dunia

Ledakan Gas Alam Texas: Satu..

06 Maret 2021 15:38
Senegal Membara, Massa Lakukkan Protes Besar-besaran Atas Penangkapan Pemimpin Oposisi Ousmane Sonko
Dunia

Senegal Membara, Massa Lakuk..

06 Maret 2021 15:04
Spesialis Keamanan Komputer AS: 30.000 Organisasi Di Seluruh Amerika Serikat Diretas Unit Spionase Dunia Maya China
Dunia

Spesialis Keamanan Komputer ..

06 Maret 2021 14:21