Pengadilan India Putuskan Meraba-Raba Tanpa Melepas Pakaian Bukan Kekerasan Seksual, Aktivis Geram

Sejumlah aksi wanita turun ke jalan untuk mendorong upaya penanganan dan pencegahan kasus pelecehan seksual yang lebih serius di India kerap dilakukan/Reuters

Isu pelecehan seksual kembali hangat dibahas di India belakangan ini. Terlebih setelah sebuah pengadilan di negeri Bollywood itu memutuskan bahwa meraba-raba seorang anak tidak bisa dianggap sebagai serangan seksual selama tidak ada "kontak kulit-ke-kulit" atau "niat seksual".

Putusan kontroversial itu dibuat pada 19 Januari lalu oleh Hakim Pengadilan Tinggi Bombay Pushpa V. Ganediwala. Putusan itu pun membebaskan seorang pria berusia 39 tahun yang dituduh melakukan pelecehan seksual terhadap seorang gadis berusia 12 tahun pada tahun 2016 atas segala tuduhan terkait penyerangan seksual.

Menurut dokumen pengadilan, seperti dikabarkan CNN pada Selasa (26/1), selama persidangan sang gadis menyebut bahwa pria itu membawanya ke rumahnya dengan dalih memberinya jambu pada Desember 2016 lalu. Namun Pria tersebut justru meraba-raba payudaranya dan mencoba melepaskan pakaiannya.

Setelah sang gadis melaporkan tindakan itu, pria tersebut pun dinyatakan bersalah atas pelecehan seksual dan dijatuhi hukuman tiga tahun penjara di pengadilan yang lebih rendah. Namun kemudian dia mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi.

Setelah melakukan banding, dalam putusannya pada 19 Januari, Hakim Ganediwala menemukan bahwa tindakan pria itu tidak termasuk dalam definisi "pelecehan seksual" yang diancam hukuman penjara minimal tiga tahun yang dapat diperpanjang hingga lima tahun.

"Mengingat sifat hukuman yang ketat untuk pelanggaran tersebut, menurut pengadilan ini, diperlukan bukti yang lebih ketat dan tuduhan yang serius," begitu kutipan keputusan tersebut.

Undang-Undang Perlindungan Anak-Anak Dari Pelanggaran Seksual India 2012 sendiri tidak secara eksplisit menyatakan bahwa kontak "kulit-ke-kulit" diperlukan untuk sebuah tindakan bisa disebut sebagai serangan seksual.

Dengan putusan tersebut, Hakim Ganediwala pun kemudian membebaskan terdakwa pelecehan seksual. Namun dia tetap tetapi menghukumnya atas tuduhan penganiayaan yang lebih ringan dan menjatuhkan hukuman satu tahun penjara.

"Prinsip dasar yurisprudensi pidana adalah bahwa hukuman untuk suatu pelanggaran harus proporsional dengan beratnya kejahatan tersebut," katanya.

Keputusan pengadilan itu memicu banyak kecaman dari sejumlah pihak di India yang geram. Komisi Nasional Wanita mengatakan pihaknya berencana untuk mengajukan gugatan hukum terhadap putusan tersebut. Pasalnya, mereka menilai bahwa putusan itu akan memiliki efek berjenjang pada berbagai ketentuan yang melibatkan keselamatan dan keamanan wanita.

Sementara itu, seorang pengacara di Mahkamah Agung India Karuna Nundy menyebut bahwa sang hakim yang memberikan putusan yang sepenuhnya bertentangan dengan hukum yang ditetapkan.

"Penilaian seperti ini berkontribusi pada impunitas dalam kejahatan terhadap anak perempuan," tulisnya melalui akun Twitter.

Komentar senada juga diungkapkan oleh Ranjana Kumari, direktur Pusat Riset Sosial nirlaba yang mengadvokasi hak-hak perempuan di India. Dia mengatakan bahwa keputusan itu memalukan, keterlaluan, mengejutkan dan tanpa kehati-hatian yudisial.

Pelecehan seksual diketahui merupakan salah satu isu besar di India. Berdasarkan angka resmi tahun 2018, pemerkosaan terhadap seorang wanita dilaporkan setiap 16 menit di negara tersebut.

Kolom Komentar


Video

Jendela Usaha • Peluang Budidaya Ubi Jalar

Rabu, 24 Februari 2021
Video

Gunung Gede Pangrango kembali terlihat lagi dari Kota Jakarta

Rabu, 24 Februari 2021
Video

Tanya Jawab Cak Ulung • Melacak Tokoh Potensial 2024

Kamis, 25 Februari 2021

Artikel Lainnya

Bangladesh Relokasi Lagi Ribuan Pengungsi Rohingya Ke Pulau Terpencil
Dunia

Bangladesh Relokasi Lagi Rib..

04 Maret 2021 08:11
Pengadilan Kriminal Internasional Luncurkan Penyelidikan Kejahatan Di Wilayah Palestina
Dunia

Pengadilan Kriminal Internas..

04 Maret 2021 08:07
Pelaku Gunakan Pisau Di Swedia, Tiga Orang Kritis
Dunia

Pelaku Gunakan Pisau Di Swed..

04 Maret 2021 07:55
Myanmar: Kepala UE Kecam Pelanggaran HAM Oleh Militer
Dunia

Myanmar: Kepala UE Kecam Pel..

04 Maret 2021 07:42
Tingkatkan Kerja Sama Pertahanan, Turki Dan Bosnia Herzegovina Teken Perjanjian Keuangan Militer
Dunia

Tingkatkan Kerja Sama Pertah..

04 Maret 2021 07:09
PBB: 38 Orang Tewas Dalam Hari Paling Berdarah Di Myanmar
Dunia

PBB: 38 Orang Tewas Dalam Ha..

04 Maret 2021 06:59
Blinken: China Adalah Ujian Terbesar, AS Siap Menghadapi Kapan Saja
Dunia

Blinken: China Adalah Ujian ..

04 Maret 2021 06:25
Korban Covid Muslim Dikuburkan Di Pulau Terpencil, Sri Lanka Menuai Protes
Dunia

Korban Covid Muslim Dikuburk..

04 Maret 2021 06:11